Waspada, Kemungkinan Lebih Banyak Varian Baru COVID-19 di 2022

Selasa, 08 Februari 2022 – 15:17 WIB
Arsip - Perdana Menteri Jacinda Ardern di Wellington, Selandia Baru, Oktober 2020. (ANTARA/Reuters/Praveen Menon/as)

jpnn.com, SELANDIA BARU - Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern memprediksi akan lebih banyak varian baru COVID-19 di 2022.

Untuk itu, Selandia Baru harus bersiap, sebab pandemi COVID-19 belum akan berakhir dengan varian Omicron.

BACA JUGA: Informasi Terbaru Kasus Covid-19 di Kompleks Parlemen

Demikian dikemukakan Jacinda pada pidato parlemen pertamanya untuk 2022 pada Selasa (8/2).

Peringatan Ardern itu datang ketika ratusan pengunjuk rasa berkumpul di luar gedung parlemen di ibu kota Wellington.

Massa menuntut diakhirinya pembatasan virus corona dan mandat vaksin.

BACA JUGA: DKI Berstatus PPKM Level 3, Riza Patria Bilang Begini Soal Aktivitas Warga

"Ketua parlemen, saran dari para ahli Omicron tidak akan menjadi varian terakhir yang akan dihadapi tahun ini," ujar Ardern kepada anggota parlemen dalam pidato yang disiarkan langsung.

"Ini belum berakhir, tetapi itu tidak berarti tidak bisa bergerak maju dan terus membuat kemajuan," katanya.

BACA JUGA: Jenderal Dudung: Copot, Ganti Dia!

Pemerintah Ardern telah memberlakukan beberapa pembatasan pandemi paling ketat di Selandia Baru selama dua tahun terakhir, ketika pemerintah berusaha mencegah virus corona.

Kebijakan tersebut membantu menjaga angka infeksi dan kematian tetap rendah di Selandia Baru.

Negara berpenduduk lima juta orang itu sejauh ini mencatat sekitar 18.000 kasus COVID yang dikonfirmasi dan 53 kematian.

Namun, kebijakan itu juga membuat marah banyak orang yang menghadapi isolasi di rumah tanpa akhir.

Selain itu, puluhan ribu ekspatriat Selandia Baru juga terputus dari keluarga mereka di rumah karena perbatasan tetap ditutup.

Langkah-langkah tersebut juga telah menghancurkan bisnis yang bergantung pada wisatawan internasional.

Peringkat dukungan publik kepada Ardern anjlok dalam jajak pendapat publik 1News Kantar terbaru yang dirilis bulan lalu.

Publik menurunkan dukungan terhadapnya atas penundaan vaksinasi dan penundaan penghapusan pembatasan.

Ratusan pengunjuk rasa anti mandat vaksin dan anti pemerintah berkumpul di luar parlemen menuntut diakhirinya semua pembatasan pandemi, bagian dari serangkaian protes yang dilakukan dalam beberapa bulan terakhir.

Pemerintah mengatakan pekan lalu bahwa Selandia Baru akan membuka kembali perbatasannya ke seluruh dunia secara bertahap hanya pada Oktober.

Kasus Omicron di negara itu terus meningkat sejak beberapa aturan jarak sosial dilonggarkan baru-baru ini.

Selandia Baru mencatat jumlah kasus harian terbesar dengan 243 kasus pada Sabtu.

Ardern mengatakan kepada Radio Selandia Baru bahwa puncak Omicron di negara itu bisa terjadi pada Maret dengan kasus harian berkisar antara 10 ribu hingga 30 ribu.(Antara/Reuters/JPNN.com)


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler