Waspada Munculnya Fenomena Namamology

Senin, 11 Januari 2021 – 21:57 WIB
Ilustrasi main saham. Foto: Olymp trade

jpnn.com, JAKARTA - Jumlah investor yang terefleksi dari single investor identification (SID) hingga 29 Desember 2020, tercatat sebanyak 3,87 juta. Jumlah itu naik 56 persen dari posisi akhir 2019 lalu.

Dari jumlah tersebut, investor saham juga naik sebesar 53 persen menjadi sejumlah 1,68 juta SID.

BACA JUGA: Pasar Saham Merespons Positif 4 Stasiun Televisi Ini

Saat ini, banyak investor maupun trader pemula yang tertarik masuk ke pasar saham dengan alasan ingin menikmati keuntungan besar dan cepat. Mereka menganggapnya sebagai main saham, bukan bisnis saham.

Perspektif main saham dan pertumbuhan jumlah investor yang besar ini dimanfaatkan oleh pihak tertentu.

BACA JUGA: Pasar Saham Berfluktuasi, Siapkan Dana Rp 675 M Untuk Buyback

Kemudian terbentuk opini bahwa aliran namamology tersebut wajib diikuti, karena terbukti sukses mendatangkan keuntungan besar.

Setidaknya ada lima tanda dari fenomena Namamology yang perlu diwaspadai para investor maupun trader pemula.

BACA JUGA: Buat Terobosan, Konversi Utang Rp 3 Triliun Menjadi Saham

Pertama, influencer berulang kali memamerkan keuntungan besar dalam bentuk rupiah dalam waktu singkat. Namun perlu diketahui bahwa saham adalah instrumen berisiko tinggi dan pergerakan naik turunnya cepat.

Kedua, tidak dijelaskannya Margin Of Safety, selisih antara nilai intrinsik suatu saham dengan harga jual saat ini. Seringkali informasi hanya berupa potensi profit besar namun tidak masuk akal dicapai dalam waktu singkat oleh pemula, karena pasti ada suspensi maupun UMA (Unusual Market Activity).

Ketiga, menciptakan FOMO alias Fear of missing out, rasa takut dan cemas akan ketinggalan berita atau hal-hal terbaru yang terjadi.

Kempat adalah menarik jumlah anggota trader investor saham pemula melalui endorse di media sosial. Tak jarang, kolaborasi dibutuhkan agar paparan informasi lebih mudah tersampaikan. Karena sekecil apapun volume akan bermanfaat bagi mereka untuk Dump saham tersebut.

Kelima, memiliki wadah grup khusus komunikasi dua arah yang digunakan mengkoordinasikan anggota untuk membeli (perhatikan komposisi pembelajaran dan percakapan wadah grup tersebut). Ada grup berbayar dan Grup Gratis, sudah dapat dipastikan bahwa grup gratis tidak mendapat informasi secepat dan seakurat dari grup berbayar tersebut.

“Kami melihat permasalahan ini sebelum terbentuknya startup emiten di mana tidak semua orang dapat mengakses grup berbayar yang nilainya fantastis, setelah bayar pun mereka masih kemungkinan dijadikan sasaran DUMP apalagi yang tidak bayar,” kata Denny Huang, CEO & Founder emiten, dalam keterangan tertulis, Senin (11/1).

“Waspada bila terdapat grup gratis dan grup berbayar. Dan bila terdapat edukasipun maka para pemula juga beresiko terkotak kotak dengan satu aliran trading investing tertentu,” lanjutnya.

Menurut Danny, banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam beli jual saham, terlepas Day Trading hingga investing. Misalnya, seperti valuasi mulai dari PBV PER PCFR PSR DER EPS NPM, perpajakan, sentimen Iinduk atau afiliasi perusahaan, aksi korporasi right issue, tren Bisnis 1-2 tahun ke depan, GCG grup perusahaan tersebut.

Selain itu, rapat THE FED atau OPEC, laporan dari BPS, pattern indikator daily weekly monthly. Bahkan GAP/Candle serta tidak lupa untuk melihat makro global serta mengingat trailingstop, money management dan stoploss. (jlo/jpnn)


Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler