Waspada, Ring 1 Tak Menarik Bagi Investor

Jumat, 08 Januari 2016 – 18:46 WIB

jpnn.com - SURABAYA – Tingginya upah minimum kota (UMK) di ring I Jawa Timur membuat investasi di kawasan industri di wilayah itu dinilai tidak menarik lagi bagi investor padat karya. Para investor yang masuk pun berasal dari padat modal.

’’Ada empat pola yang sekarang dilakukan para investor. Yaitu, beralih dari padat karya ke padat modal, beralih dari ring I ke wilayah lain, berubah dari pabrik produksi menjadi pergudangan, serta tutup dan relokasi ke luar negeri,’’ ungkap Di­rektur Utama PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) Rudhy Wisaksono kemarin (7/1).

BACA JUGA: Pemerintahan Jokowi-JK Belum Serius Bersihkan Mafia Gas

Dia menuturkan, iklim usaha di Surabaya maupun ring I saat ini dinilai sudah tidak efisien bagi investor untuk berproduksi di tengah kota. ’’Sekarang padat karya tidak efisien lagi berproduksi di ring I. Dilihat dari realisasi investasi, nilainya mungkin memang masih besar. Yang perlu diperhatikan, investor ini merupakan investor padat modal,’’ katanya.

Rhudy mengungkapkan, mereka datang ke kawasan industri dengan membawa teknologi tinggi. Namun, penyerapan tenaga kerjanya minim. Dia mencontohkan, beberapa perusahaan rokok telah melakukan PHK dan beralih dari SKT (sigaret keretek tangan) ke SKM (sigaret keretek mesin). ’’Investor padat modal tidak menyelesaikan masalah di Indonesia yang penduduknya banyak dan memiliki angkatan kerja yang juga cukup banyak,’’ ujar dia. Bahkan, Rudhy mengakui bahwa tahun lalu belum ada investor yang berminat untuk masuk ke PIER (Pasuruan Industrial Estate Rembang).

BACA JUGA: Harga BBM Turun, Tapi Banyak Pembeli Kecele

’’SIER memang sudah penuh. Di PIER, lahannya masih tersisa 50 persen. Saat ini investor masihwait and see. Jadi, memang tidak ada pertumbuhan sama sekali tahun lalu,’’ jelasnya.

Total lahan yang tersisa di PIER saat ini sebesar 363 hektare (ha). Menurut Rudhy, jumlah lahan tersebut masih mampu menampung investor dalam kurun 5 tahun mendatang. Rata-rata investor memerlukan lahan 30–50 ha. ’’Awal tahun ini sudah ada MoU dengan dua PMA (penanaman modal asing, Red) dan satu investor PMDN (penanaman modal dalam negeri),’’ lanjutnya.

BACA JUGA: NTT Optimistis Hadapi MEA

Rhudy menyatakan, para investor itu akan membuka perusahaan padat modal. Selain itu, dengan UMK yang cukup tinggi, dalam 5 tahun mendatang diperkirakan investor yang datang berasal dari perusahaan padat modal.

Bambang Haryo, anggota DPR Komisi VI yang membidangi BUMN, koperasi, investasi, perdagangan, dan perindustrian, menye­butkan bahwa ada 4 aspek yang harus dibenahi agar iklim industri bisa kondusif. (vir/c14/tia/pda)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kunjungan Wisman Anjlok, Wisatawan Nusantara Naik Tipis


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler