Waspadai Gejala Lanjutan Pascasembuh dari Covid-19

Sabtu, 10 Juli 2021 – 10:12 WIB
Praktisi klinik, edukator pengamat kesehatan dan relawan Covid-19 dr. Muhamad Fajri Adda'i meminta pasien tetap waspada meski dinyatakan sembuh dari Covid-19. Foto/Ilustrasi swab: Ricardo/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Praktisi klinik, edukator pengamat kesehatan dan relawan Covid-19 dr. Muhamad Fajri Adda'i meminta pasien tetap waspada meski dinyatakan sembuh dari Covid-19 dan jika selama 14 hari tidak memiliki gejala.

Pasalnya, dikhawatirkan adanya gejala lanjutan yang timbul dikemudian hari.

BACA JUGA: Ini Daftar 11 Telemedicine yang Direstui Kemenkes

Menurutnya, pada beberapa kejadian terdapat gejala tambahan usai pasien menjalani karantina 14 hari. Gejala seperti ini harus benar-benar diperhatikan untuk penanganan lebih lanjut.

"Kejadian seperti ada banyak faktor, apa dia stres atau punya penyakit bawaan yang memperburuk keadaan," ujar dr. Fajri di Jakarta, Sabtu (10/7).

BACA JUGA: Begini Prosedur Mendapatkan Perawatan di RS Asrama Haji Pondok Gede Bagi Pasien Covid-19

Fajri mencontohkan kasus ini terjadi pada Raditya Oloan yang merupakan suami Joanna Alexandra. Melalui tes usap, Raditya dinyatakan sudah negatif virus corona, namun ada gejala perburukan pascaisolasi.

Hal ini disebabkan oleh banyak faktor, salah satu yang paling berpengaruh adalah penyakit bawaan. Penting untuk menyadari gejala-gejala yang dialami oleh pasien.

"Di minggu kedua yang takutin ialah badai sitokinnya, bisa jadi virusnya emang udah berkurang tapi ada peradangan di sistem imun itu yang bikin perburukan, yang bikin meninggal," kata dr. Fajri.

"Imun sistem mungkin bisa membersihkan virus di tubuh Anda, tapi organ Anda ikut rusak," imbuhnya.

Akan tetapi, ada juga kasus pasien Covid-19 yang hasil tes usapnya tetap positif meski sudah 30 hari tanpa gejala. Menurut dr. Fajri, hal tersebut kemungkinan ialah sisa-sisa dari bangkai virus.

"Harus dicek dulu nih, ada gejala enggak, kalah ada gejala bisa-bisa itu kasus tambahan. Dalam kejadian kayak gitu harus ditelusuri dulu, kalau hanya sisa-sisa bangkai virus enggak jadi masalah tapi harus betul-betul clear karena dapat menimbulkan kesalahpahaman," kata dr. Fajri.

Sementara itu, dr. Fajri mengatakan 90 persen pasien Covid-19 bisa sembuh sendiri oleh sistem imun. Obat-obatan yang diberikan oleh dokter bukanlah sebagai penguat imun, namun untuk mengatasi peradangan yang ditimbulkan oleh virus corona.

"Steroid sama Tocilizumab itu kan emang antiperadangan bukan mengusir virus. Ketika peradangan meningkat, dikasih obat antiperadangan yang mana terbukti untuk menurunkan angka kematian pada orang yang sakit berat atau kritis. Itu terbukti," ujar dr. Fajri. (antara/jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler