Sebuah aplikasi buatan Australia yang digunakan untuk melaporkan dan menindak perdagangan satwa liar tengah membantu pemerintah melawan lonjakan jumlah perdagangan global ilegal.

Aplikasi ‘Wildlife Witness’ (Saksi Alam Liar) milik Kebun Binatang Taronga telah menghasilkan lebih dari 500 laporan intelijen pada tahun lalu, dan terbukti sangat sukses hingga sekarang-pun menjadi global.

BACA JUGA: Taj Pabari, Remaja Australia 16 Tahun yang Bangun Perusahaan Teknologi Sendiri

Aplikasi ini memungkinkan wisatawan dan penduduk lokal untuk melaporkan perdagangan satwa liar ilegal dengan mengambil foto, merekam lokasi yang tepat dari insiden itu dan mengirim rincian kepada TRAFFIC - jaringan pemantau perdagangan satwa liar global.

TRAFFIC kemudian menggunakan analis data kejahatan satwa liar untuk memindai dan mengkompilasi laporan untuk pemerintah.

BACA JUGA: Saking Rendahnya, Jembatan di Melbourne Ini Telah Makan Korban Sejak 1929

Menurut keterangan Dr Chris Shepherd, Direktur TRAFFIC wilayah Asia Tenggara, masyarakat telah menggunakan aplikasi ini untuk melaporkan segala sesuatu mulai dari hewan yang dijual dalam perdagangan hewan peliharaan, anggrek langka dan bahkan gading gajah di pasaran.

"Kami bisa menggunakannya tak hanya untuk membantu upaya penegakan hukum, tetapi juga untuk lebih memahami bagaimana para penyelundup bekerja dan di mana transaksi itu terjadi," jelasnya.

BACA JUGA: Miliki Sabu di Dalam Sel, Anggota Geng Bali Nine Dipindahkan ke Penjara Madiun

Ia mengatakan, perdagangan satwa liar global adalah bisnis yang melonjak.

"Ini benar-benar berada pada tingkat krisis," ungkapnya.

Dr Chris menerangkan, "Tapi perdagangan satwa liar tak pernah menjadi sorotan seperti dalam beberapa tahun terakhir. Para pemimpin global berbicara dan bekerja sama untuk melakukan sesuatu tentang hal itu. Jadi semuanya bergerak ke arah yang benar. Hanya saja kami tak bergerak cukup cepat."

Direktur Kebun Binatang Taronga, Cameron Kerr, mengatakan, beberapa hewan Australia, seperti echidna, begitu berharga untuk para pedagang satwa liar, yang menjualnya kepada orang-orang yang mencari hewan peliharaan eksotis.

"Burung-burung indah yang kami miliki, echidna dan reptil, yang begitu istimewa, berada dalam ancaman juga. Apa yang tak kami sadari adalah betapa banyak satwa liar yang indah ini berakhir di perdagangan ilegal di Asia Tenggara," kemukanya.

Lonjakan perdagangan satwa liar ilegal yang tak terduga

Setiap hari, rata-rata 96 gajah dan tiga badak dibunuh karena bagian tubuh mereka diburu - dan sejumlah pasar serta toko-toko di seluruh Asia Tenggara adalah hotspot untuk perdagangan satwa liar.

Gajah Asia di Kebun Binatang Taronga yang bernama Gung adalah salah satu yang beruntung.

"Perdagangan gading global, sekarang, memusnahkan gajah di hampir semua negara, dan setiap tahun itu bernilai jutaan dolar," kata Dr Chris.

Ia menerangkan, "Sebagian besar gading ditemukan di Asia Tenggara di mana barang ini dijual, sebagian besar, untuk wisatawan. Sebagian besarnya hanyalah sampah turis, diukir menjadi sumpit, gelang dan souvenir kecil. Berpikir bahwa gajah meregang nyawa sehingga wisatawan bisa pergi dengan liontin, itu benar-benar tragis."

Aplikasi ‘Wildlife Witness’ diuji di Kebun Binatang Taronga - dan sekarang akan mengglobal, dengan promosi di kebun binatang di Amerika Serikat (Kebun Binatang San Diego), Inggris (Kebun Binatang Chester) dan Singapura (Kebun Binatang Singapore).

Sebanyak 7 juta pengunjung kebun binatang per tahun akan didorong untuk mengunduh dan menggunakan aplikasi itu.

Cameron mengatakan, ia yakin wisatawan harus didorong untuk bergabung dalam memerangi perdagangan satwa liar ilegal.

"Ada jutaan orang di luar sana, menjadi saksi mata untuk alam liar, mengawasi perdagangan ilegal. Jika pelancong yang berpotensi menjadi pelanggan item terlarang itu berbalik dan malah bangga dengan fakta bahwa mereka melindungi satwa liar, itu pergeseran yang fantastis," ungkapnya.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tasia dan Gracia Asal Indonesia Juarai My Kitchen Rules 2016

Berita Terkait