Wonderful Indonesia, Batak Punya Naniura

Senin, 22 Agustus 2016 – 10:50 WIB
Danau Toba di Sumatera Utara. Foto: Sumut Pos/JPNN

jpnn.com - JAKARTA - Pernah mendengar makanan ceviche dari Peru yang kondang? Ceviche adalah makanan berbahan ikan yang disajikan tanpa dimasak, tapi cukup direndam air jeruk lemon sehingga dagingnya matang.

Tapi tak usah jauh-jauh ke Peru. Indonesia, tepatnya Sumatera Utara juga punya makanan sejenis ceviche. Namanya nainura.  

BACA JUGA: Hilangkan Nyeri dengan Yoga di Atas Ketinggian

Bedanya, ceviche disajikan dengan irisan bawang merah besar di atasnya. Sedangkan naniura yang khas Tano Batak itu disiram dengan bumbu halus berwarna kuning. Tanpa aroma amis sedikit pun.

“Anda pasti penasaran kan? Gimana bau amisnya? Gimana rasanya? You mesti coba!” kata Vita Datau, Ketua Tim Percepatan Wisata Kuliner dan Belanja Kemenpar, di Jakarta.

BACA JUGA: 45 Menit Saja, Aktivitas Seni Ini Ampuh Atasi Stres

Naniura adalah salah satu makanan khas Batak Tapanuli Utara yang bisa ditemui di Danau Toba, Medan dan Pematang Siantar. Dahulu kala, naniura hanya dihidangkan untuk raja-raja Batak.

Tapi kini, makanan khas Tapanuli itu sudah bisa dinikmati oleh banyak orang. Bahkan bisa ditemui di restoran tertentu di Sumut.

BACA JUGA: Tips Mengobati Kulit Kepala yang Terbakar Matahari

“Di Balige kita perlu memesannya, karena persiapan dan proses pembuatannya membutuhkan waktu, juga harus dari ikan yang segar,” tambah Vita yang juga Ketua Akademi Gastronomi Indonesia itu.

Proses pembuatannya cukup menarik. Ikan mas mentah yang dalam bahasa aslinya disebut dekke, dibersihkan dulu duri dan lendirnya. Lalu dimatangkan dengan cara merendamnya ke air asam jungga atau yang lebih umum dikenal sebagai jeruk purut.

Proses ini  membuat kualitas protein di ikan mas menjadi lebih utuh karena tidak terkena api sama sekali. Tidak direbus, tidak digoreng, tidak dibakar, tidak diasap, tidak kena panas api sama sekali.

Ikan yang digunakan sebaiknya berukuran kecil agar matangnya merata dan masih hidup agar tetap segar. Membutuhkan waktu 2-3 jam untuk memasak naniura yang juga menjadi makanan wajib di acara-acara adat Batak. Ikan dianggap siap makan apabila daging ikan sudah kenyal dan mudah disobek.

Bumbu siram yang terdiri dari gabungan 10 macam bumbu termasuk andaliman dan kecombrang, mempunyai cita rasa gurih yang kuat dan harum yang khas sehingga menggoda selera  untuk segera mencicipinya. Tekstur kenyal dari daging ikan yang sudah meresap asam  jungga menghadirkan sensasi tersendiri.

Beda dengan arsik makanan khas Batak lainnya, dekke di naniura ini memiliki tekstur kenyal namun mudah dikunyah dan dimakan bersama bumbu yang melumuri seluruh badan ikan mas itu. Menariknya, ikan yang digunakan juga harus ikan air tawar, pas dengan Danau Toba yang airnya tawar.

Melihat dari komposisi bumbu naniura, makanan ini sangat bermanfaat bagi kesehatan. Makanya tak heran orang-orang zaman dulu lebih panjang umur karena kebiasaan makan makanan yang baik dan menggunakan bahan-bahan yang segar.

Kebiasaan ini yang harus diturunkan kekeluarga. Lagi lagi kearifan lokal tidak pernah salah. Cara makan dan jenis makanan di suatu daerah ditentukan oleh kondisi alam sekitar. Itulah salah satu prinsip gastronomi yang terkenal dengan sebutan otentiksitas.

“Artinya kita tidak akan pernah bertemu dengan rasa asli yang otentik jika tidak langsung berkunjung ke daerah asalnya. Naniura tempatnya, tentu saja Sumatera Utara,'' katanya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyebut jenis makanan naniura ini adalah khas Batak, dan hanya bisa ditemukan di budaya makan Tapanuli. Tidak semua tempat di tanah air punya jenis makanan khas seperti Danau Toba ini.

“Karena itu, sayang kalau tidak mencicipi makanan khas itu. Kalau di Eropa ada Samlon, yang dimakan ala sushi, di Batak ada Naniura, yang juga fresh, tidak dimatangkan dengan api. Penasaran kan? Inilah produk budaya kuliner local yang sangat khas di Batak,” ujar Arief.

Kuliner, kata Arief Yahya, adalah salah satu cabang dari wisata berbasis budaya. Kuliner tidak bisa dipisahkan dari akar budayanya. Mengapa orang Batak menciptakan jenis makanan naniura seperti itu juga melalui perjalanan panjang yang cocok dengan karakter budaya setempat.

Ada istilah, asam di gunung, garam di laut, berjumpa dalam belanga. “Perbedaan budaya itu selalu punya satu hal yang sama, salah satunya adalah musik dan kuliner. Enak dan nyaman itu universal,"kata Arief.(adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Cara Mudah Menghindari Diabetes Tipe 2


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler