YAICI dan MKPP Aisyiyah Minta Masyarakat Kurangi Konsumsi SKM, nih Alasannya

Selasa, 01 Oktober 2019 – 19:15 WIB
Seniman pantomim dari Dewan Kesehatan Rakyat melakukan aksi teatrikal untuk tidak memberi susu kental manis kepada anak di Jakarta. Foto: Antara/Reno Esnir

jpnn.com, ACEH - Yayasan Abhipraya Insan Cendekia (YAICI) bersama dengan Majelis Kesehatan PP Aisyiyah melakukan survei tentang kebiasaan konsumsi susu kental manis (SKM) dan dampaknya terhadap gizi buruk anak.

Penelitian akan dilaksanakan pada wilayah dengan prevalensi stunting tinggi di Indonesia, yaitu Aceh (30,8%), Kalimantan Tengah (34%) dan Sulawesi Utara (25,5%).

BACA JUGA: Cerita Saksi Mata Soal Pembakar Mobil di Depan Kantor Polisi, Oh Ternyata…

Sebagaimana diketahui, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 tercatat persentase stunting di Indonesia adalah 30,8%.

Meski terjadi penurunan dari periode sebelumnya (Riskesdas 2013, prevalensi stunting Indonesia 37,2%), namun mengingat ambang batas toleransi stunting yang ditetapkan WHO adalah 20% dari jumlah keseluruhan balita, maka Indonesia masih termasuk kategori negara dengan darurat gizi buruk.

BACA JUGA: Kapolri dan Panglima TNI Tinjau Kondisi Terkini Pascabentrokan Polisi vs Demonstran

Stunting atau kekurangan gizi secara kronis dipengaruhi secara langsung oleh asupan makanan dan status kesehatan bayi. Penyebab utama terjadinya stunting adalah kemiskinan terutama kondisi daerah yang terisolir.

Namun, kondisi ini juga umum terjadi pada masyarakat dengan status ekonomi menengah atas. Salah satu faktor yang berperan terhadap terjadinya stunting adalah kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai asupan makanan bergizi pada anak terutama periode 1000 HPK.

BACA JUGA: Lihat nih, Polsek Palmerah Dijaga Ketat Sejumlah Anggota TNI AL

Berbagai studi dan fakta di masyarakat menunjukkan bahwa terjadinya kekurangan gizi yaitu gizi buruk dan stunting disebabkan kesalahan pemberian asupan makanan, seperti konsumsi gula (glukosa) yang berlebih.

Tingginya asupan gula pada anak dapat beresiko anak mengalami gangguan tumbuh kembang, PTM hingga gizi buruk.

Sebelumnya, pada 2018, YAICI bekerjasama dengan Yayasan Peduli Negeri (YPN) Makassar dan Stikes Ibnu Sina Batam melakukan survei tentang Persepsi Masyarakat tentang Susu Kental Manis.

Survei yang dilakukan terhadap 400 ibu di Kelurahan Mandonga, Kec. Mandonga, Kota Kendari dan 300 ibu di Kelurahan Sagulung Kota, Kec. Sagulung, Kota Batam yang memiliki anak usia 7 tahun, menunjukan sebanyak 97% ibu di Kendari dan 78% ibu di Batam memiliki persepsi bahwa susu kental manis adalah susu yang bisa di konsumsi layaknya minuman susu untuk anak.

SKM memiliki kandungan gula yang tinggi yaitu 20 gram persekali saji/1 gelas dengan nilai protein 1 gram, lebih rendah dari susu lainnya.

Menindaklanjuti temuan tersebut, maka diperlukan pemetaan persepsi masyarakat, tingkat konsumsi SKM dan kejadian stunting yang menyeluruh.

Oleh karena itulah kerja sama YAICI dan Majelis Kesehatan PP. Aisyiyah yang sejak awal 2019 fokus pada edukasi gizi untuk masyarakat diperkuat dengan melakukan penelitian di wilayah-wilayah dengan prevalensi stunting tinggi.

Imbauan terhadap pembatasan konsumsi Susu Kental Manis (SKM) terutama larangan bagi bayi ditetapkan dalam Perka BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan terkait SKM Sebagai Bentuk Perlindungan bagi Masyarakat.

Peraturan ini sebelumnya diinformasikan dengan dikeluarkannya Surat edaran No HK.06.5.51.511.05.18.2000 tahun 2018 tentang Label dan Iklan pada produk Susu Kental dan Analognya (subkategori pangan 01.3) yang ditujukan kepada seluruh produsen/importir/distributor SKM. Sayangnya, iklan produk SKM yang telah bertahun-tahun menjadi konsumsi masyarakat mengakibatkan masyarakat telah terlanjur beranggapan bahwa SKM adalah susu yang dapat dikonsumsi oleh keluarga.

Ketua Harian YAICI Arif Hidayat menegaskan adanya regulasi dari pemerintah tentang SKM tidak serta merta menghilangkan kebiasaan masyarakat mengonsumsi SKM.

“Berbagai alasan orang tua terutama di wilayah pedesaan dalam memberikan SKM untuk anak adalah fakta yang ditemukan di masyarakat khususnya di pedesaan. Alasannya karena sudah terbiasa serta pengaruh iklan di televisi,” ujar Arif Hidayat.

Ketua Majelis Kesehatan PP Aisyiyah Dra Chairunnisa M.Kes mengatakan penelitian ini untuk mengetahui tingkat gizi buruk dan stunting serta dampak pemberian SKM/KKM dan faktor lainnya terhadap kejadian stunting pada balita.

Penelitian di 3 provinsi ini terkait dengan kegiatan Gerakan Aisyiyah Sehat (GRASS) yang didalamnya ada pencegahan stunting, Penyakit Tak Menular (PTM), Kesehatan Ibu dan Anak dan Peningkatan Cakupan Imunisasi yang bekerjasama dengan Promkes dengan Mobilisasi Sosial menggerakan masyarakat di 9 Kabupaten. Penelitian ini juga melibatkan kader GRASS sebagai penggali data dan informasi di lapangan.

“Penelitian ini diperlukan untuk memberikan rekomendasi sebagai dasar pengambilan kebijakan kesehatan masyarakat yang bersifat promotive dan preventif menurunkan prevalensi stunting,” jelas Chairunnisa.

Penelitian dilakukan dengan pendekatan mix method yang menggabungkan kuantitatif dan kualitatif yaitu dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan metode survey cepat dengan variabel dependen penelitian adalah kejadian stunting pada balita, dimana variabel independent utamanya adalah konsumsi SKM/KKM.

Sementara pendekatan kualitatif, dilakukan menggunakan metode pengumpulan data wawancara mendalam (terhadap stakeholders, yaitu dinas kesehatan, IDAI, Kepala Puskesmas, Tokoh masyarakat) dan observasi langsung di masyarakat.

Pengisian survei oleh responden di tiga fokus penelitian yaitu Banda Aceh, Takengon (Aceg Tengah) serta Sigli di kabupaten Pidie telah dilakukan. Berdasarkan survei dan pendataan tersebut, ditemukan sejumlah keluarga yang anak-anaknya mengonsumsi krim kental manis (KKM).

Keluarga Ibu Juniar di Pidie misalnya, ketiga anaknya yang berusia 2,5 tahun, 1,5 tahun dan 6 bulan mengonsumsi KKM. Menurut penuturan perantau asal Medan ini, awal mula anak-anaknya mengonsumsi KKM datang dari anaknya yang paling besar. Rata-rata, dalam satu hari masing-masing anak mengonsumsi 3 gelas KKM.

BACA JUGA: Istri Temukan Kondom Bekas, Perbuatan Terlarang Suami dengan Adik Ipar Akhirnya Terbongkar

Di Desa Blangkumot Tunong, Kab Pidie, dari 37 anak usia 0 – 23 bulan yang rutin datang ke Posyandu, 16 di antaranya mengalami gizi buruk. Berdasarkan penjelasan Putri Sari, kader Posyandu Blangkumot Tunong, ke-16 anak ini telah dibantu dengan PMT yang diperoleh dari Puskesmas setempat.

“Kami melihat dari KMS, berdasarkan umur, berat badannya sudah mendekati garis putih, yang artinya sangat kurang dan harus dibantu dengan PMT,” jelas Putri.(dkk/jpnn)

 


Redaktur & Reporter : Muhammad Amjad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler