Yusuf Abdulah Nurdin Sukses Berbisnis di Usia Muda, Ini Resepnya

Selasa, 05 April 2016 – 10:56 WIB
YUSUF Abdulah Nurdin. BCA for jpnn.com

jpnn.com - YUSUF Abdulah Nurdin mendapatkan kepercayaan untuk meneruskan tongkat estafet bisnis orang tuanya. Sejak tahun 2007 silam, dia pun akhirnya melanjutkan bisnis sang ayah, PT Harumanis Logistik (yang dulu bernama CV Harumanis), CV Afiah, serta berbagai bidang bisnis lain seperti SPBU dan minimarket.

"Bermula karena bapak saya mengalami musibah, sakit kanker paru-paru, beliau harus dirawat di China. Sebulan di sini, sebulan di sana, bolak balik terus," kenangnya.

BACA JUGA: Perlukah Memiliki Lebih dari Satu Kartu Kredit?

Kondisi tersebut berlangsung selama dua tahun. Dua tahun kemudian sang bapak meninggal dunia. Setelah itu, Yusuf resmi memegang bisnis orang tuanya ditemani oleh sang ibu. "Tapi tahun 2013 juga ibu juga enggak ada (meninggal, red)," sambungnya.

Sebagai anak yang diberikan amanah, Yusuf harus terbiasa mandiri dengan pekerjaan ini. Dari tiga bersaudara, Yusuf sebagai anak paling kecil justru dipercaya oleh orang tua meneruskan bisnis ini.

BACA JUGA: Sudah Jangan Bertengkar! Tunggu Hasil Investigasi KNKT

"Kakak pertama saya berkarier karena pendidikannya lumayan tinggi, anak yang kedua menjadi ibu rumah tangga, sementara saya pendidikannya cuma D3 Marketing," ujarnya.

Berbekal ilmu marketing yang ia pelajari sewaktu kuliah, Yusuf mau tidak mau melanjutkan perjuangan kedua orang tuanya yang susah payah merintis bisnis ini. CV Harumanis yang dulu dirintis sang ayah sejak tahun 1986 bermula di Ciamis dengan bisnis angkutan barang.

BACA JUGA: Fahri Dianggap Cocok jadi Anak Buah Prabowo

"Enggak lama pindah ke Cirebon tahun 1987. Karena banyak pesanan di sini, jadi pindah ke sini. Apalagi ada fasilitas penunjang seperti pelabuhan, tol, dan aksesnya dekat kemana-mana," bebernya.

Ketika dipercaya memegang bisnis ini, awalnya Yusuf merasa ini beban. Seiring berjalan, beban amanah yang diberikan tidak ingin ia sia-siakan. Ada target harus maju dan sukses dengan modal yang diberikan orang tua. "Harus berkembang lebih baik," imbuhnya.

Terbukti, Yusuf berhasil mengembangkan bisnis ini. Dari tahun 2010 hingga 2015, ia bisa menambah 30 unit armada angkutan. Berbekal pengalaman yang dimilikinya sejak kecil ikut bisnis dengan sang ayah, Yusuf pun sedikit banyak jadi tahu tentang cara perawatan armada truk besar.

"Dari dulu juga sering diajak tender sama bapak, jadi saya sudah tahu caranya bagaimana," tuturnya.

Sampai saat ini pun ia masih terjun langsung ke lapangan untuk mencari costumer. Berbekal ilmu marketing yang dipelajarinya, Yusuf pun tidak malu untuk jalan dari satu tempat ke tempat lain mencari costumer baru. Menurutnya, marketing adalah bidang penting karena ujung tombak dari sebuah perusahaan.

"Perusahaan ini item-nya banyak, sudah berpengalaman, medan jalurnya sudah tahu, tanggung jawab, dan penanganannya cepat, jadi orang sudah tidak ragu lagi,"ujarnya.

Yusuf sendiri merasa sangat senang dan berkesan ketika dirinya mendapatkan tender-tender baru. Ia merasakan seperti mendapatkan kemudahan rezeki untuk menjalankan perusahaan ini.

"Bukan berarti dapat amanah ini itu enak. Dulu juga pernah ketipu tahun 2008 tapi saya bangkit lagi. Pengalaman enggak enak yang lainnya adalah saat ada supir yang kecelakaan," paparnya.

Tapi Yusuf tidak ingin berhenti sampai disitu. Ia terus berinovasi memperbanyak jenis mobil untuk memperluas costumer. Sehingga berbagai kebutuhan costumer dapat terakomodir.

"Mulai dari tronton, colt diesel, trailer, dan sebagainya. Inovasi-inovasi terus dilakukan supaya perusahaan ini tetap berjalan," ujarnya.

 

Menurutnya, sebuah perusahaan akan berjalan dengan baik apabila cash flow-nya berjalan baik pula. Konsep bisnis itu yang selalu diingat Yusuf agar dirinya tidak keteteran dalam hal mengelola perusahaan.

"Saya juga masih banyak bertanya karena bisnis tidak hanya melihat untungnya saja. Sebab dalam bisnis tidak ada yang instan, perlu yang namanya proses dan doa," beber Yusuf soal rahasia suksesnya.

Yusuf berencana melakukan ekspansi bisnis dengan membuka kemitraan bisnis pakan ternak dan memperluas bisnis sewa kos-kosan. Yusuf memang tipe orang yang tidak cepat puas. Ia ingin terus berkembang di berbagai bidang.

"Saya belajar dari bapak, bapak itu pintar, sifat yang paling diingatnya adalah sabar, tidak pernah menunjukkan dia mampu, down to earth, humble, sederhana, dan tidak bermewah-mewahan," kenangnya.

Sifat-sifat itulah yang akhirnya selalu terkenang dan Yusuf terapkan. Pesan lainnya yang ia ingat dari sang ayah adalah "Bisnis harus dimulai dengan keyakinan. Jadi pengusaha harus percaya diri dengan pola pemikirannya".

"Jadi kalau gagal coba lagi, jangan pantang menyerah, tidak gampang puas, dan coba peluang baru," tutur pebisnis yang masih berusia 31 tahun ini.

Termasuk dalam hal berinvestasi. Yusuf juga selalu diajari sang ayah untuk membelanjakan uangnya ke lahan produktif seperti tanah maupun rumah. "Sehingga bermanfaat baik buat kita maupun nanti untuk ahli warisnya," terangnya.

Pesan lainnya yang diingat Yusuf adalah tentang pilihannya untuk menggunakan jasa perbankan BCA. Banyak produk yang telah dimanfaatkan Yusuf maupun perusahaannya. Kemudahannya telah dirasakan langsung secara turun temurun.

Termasuk urusan jodoh, Yusuf menemukan pasangan hidupnya di BCA. Sosok sang istri yang dinikahinya tahun 2012 lalu merupakan mantan karyawan BCA.

"Ngebantu banget, termasuk dapet jodoh lagi. Kredit, internet banking, ATM, dan hampir semua pelaku bisnis pasti punya BCA jadi memudahkan dalam transaksi bisnis," tuturnya.

Sebagai salah satu Nasabah BCA Prioritas KCU Cirebon, Yusuf merasa puas dengan pelayanan yang diberikan BCA. Satu saran yang ia berikan adalah memperbanyak acara gathering untuk memanjakan para nasabah prioritas. "Supaya bisa nambah jaringan dan silahturahmi dengan sesama Nasabah BCA Prioritas," jelasnya. (adinda pratiwi)

BACA ARTIKEL LAINNYA... PAN Dijatah, PPP Masih Jauuhhh


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler