Alexa Analytics
JPNN.com App
Aplikasi Berita Terbaru dan Terpopuler
Dapatkan di Play Store atau Apps Store

Dianggap Bikin Kekacauan di Laut China Selatan, Tiongkok Merespons Begini

Jumat, 03 Juli 2020 – 20:57 WIB
Dianggap Bikin Kekacauan di Laut China Selatan, Tiongkok Merespons Begini - JPNN.COM
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian. Foto: ANTARA/HO-MOFA/mii

jpnn.com, BEIJING - Tiongkok menolak kritik yang dilontarkan Departemen Pertahanan Amerika Serikat atas rencana untuk mengadakan latihan militer di Laut China Selatan, dan menyatakan bahwa Washington harus disalahkan atas peningkatan ketegangan di wilayah tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Zhao Lijian dalam taklimat harian di Beijing, Jumat (3/7), menegaskan bahwa Tiongkok berhak menggelar latihan militer di wilayah tersebut. Pasalnya, area yang digunakan berada dalam wilayah kedaulatan Tiongkok.

Zhao balik mengatakan bahwa negara-negara nonregional tertentu, yang melakukan latihan militer di Laut China Selatan, memberikan dampak pada stabilitas di kawasan.

Zhao tidak menyebutkan nama negara mana pun, tetapi AS telah melakukan banyak pelayaran dengan mengirimkan kapal perangnya melalui Laut China Selatan untuk menegaskan kebebasan akses ke jalur perairan internasional tersebut.

AS menuduh Tiongkok membuat Laut China Selatan jadi kawasan militer dan mencoba menakut-nakuti negara-negara Asia sekitar, yang mungkin ingin mengeksploitasi cadangan minyak dan gasnya yang besar.

Tiongkok mendaku 90 persen Laut China Selatan, yang secara potensial kaya energi. Namun, Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam juga mendaku bagian-bagian dari perairan itu, yang setiap tahun menjadi lalu lintas perdagangan senilai sekitar USD 3 triliun (setara dengan Rp 45 kuadriliun).

Pekan lalu, Tiongkok mengumumkan bahwa pihaknya telah menjadwal lima hari latihan mulai 1 Juli dekat kepulauan Paracel, yang diklaim oleh Vietnam maupun Tiongkok.

"Latihan militer merupakan rangkaian panjang terbaru dari tindakan PRC untuk menyatakan pendakuan tidak sah atas wilayah laut dan merugikan para jirannya di Asia Tenggara di Laut China Selatan," kata pernyataan Pentagon, mengacu PRC untuk menyebut Republik Rakyat Tiongkok.

loading...