Ingatkan Kader Golkar Tak Terbujuk Opini Airlangga Kantongi Restu Jokowi

Minggu, 10 November 2019 – 12:31 WIB
Ingatkan Kader Golkar Tak Terbujuk Opini Airlangga Kantongi Restu Jokowi - JPNN.COM
Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto. Foto: dokumen JPNN.Com/Ricardo

jpnn.com, JAKARTA - Pemerhati politik Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMat) Fathur Rijal menyatakan, ada upaya membangun opini bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendukung Airlangga Hartarto kembali terpilih menjadi ketua umum Golkar. Menurut dia, opini itu bisa menjadi jebakan buat partai berlambang beringin hitam itu.

“Jadi, ketika ada anggapan belakangan bahwa Presiden Jokowi mendukung menterinya, Airlangga Hartarto sebagai calon ketua umum Partai Golkar 2019-2024, hal tersebut bukan saja harus dianggap sebagai opini segelintir orang, tetapi juga bisa jadi jebakan buat partai,” ujar Fathur melalui layanan pesan singkat.

Kandidat doktor ilmu politik di Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung itu menjelaskan, Golkar sejak era Reformasi 1998 justru menjadi partai yang tak bisa diintervensi pihak luar. Golkar, katanya, dalam memilih ketua umum juga tak bisa dipengaruhi penguasa.

Lebih lanjut Fathur merujuk pada terpilihnya Setya Novanto alias Setnov sebagai ketua umum Golkar pada musyawarah nasional luar biasa (munaslub) yang digelar 2016. Kala itu, katanya, Setnov juga diasumsikan sebagai calon ketua umum Golkar yang mengantongi dukungan Presiden Jokowi.

Setnov yang terpilih sebagai ketua umum, ternyata menjadi bencana bagi Golkar. “Ketua umumnya masuk KPK, sekjennya (Idrus Marham, red) kemudian menyusul,” ulas Fathur.

Menurutnya, Golkar ternyata tidak solid meski Setnov terpilih secara aklamasi. Sebab, ketika Setnov dijerat KPK, kepemimpinan di Golkar menjadi tak jelas.

“Sampai akhirnya Airlangga Hartarto terpilih sebagai ketua umum. Dalam perjalanan politik, Airlangga malah mencatat rekor terburuk dalam sejarah perolehan suara dan kursi Partai Golkar di pemilu,” papar Fathur.

Menurutnya, perolehan suara Golkar yang mencapai 14,75 persen (91 kursi) pada Pemilu 2014, ternyata pada Pemilu 2019 anjlok menjadi 11,71 persen (85 kursi). “Dari pemilu ke pemilu, suara dan kursi Golkar tidak pernah meningkat sejak era Akbar Tandjung,” sebutnya.(ara/jpnn)

loading...