Alexa Analytics
JPNN.com App
Aplikasi Berita Terbaru dan Terpopuler
Dapatkan di Play Store atau Apps Store

Kanwil Bea Cukai Jateng DIY Beberkan Realisasi Penerimaan Awal 2020

Rabu, 25 Maret 2020 – 02:50 WIB
Kanwil Bea Cukai Jateng DIY Beberkan Realisasi Penerimaan Awal 2020 - JPNN.COM
Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kanwil Bea Cukai Jateng DIY, Nur Rusydi, Selasa (24/3) di Kanwil Bea Cukai Jateng DIY. Foto: Humas Bea Cukai

jpnn.com, SEMARANG - Hingga Februari 2020, Bea Cukai Jateng DIY berhasil mengumpulkan Rp5.52 triliun pundi-pundi penerimaan negara. Secara keseluruhan angka ini memang baru 12.46 persen dari total target 2020 sebesar Rp44.36 triliun.

“Namun demikian secara proporsional (target s.d. 29 Februari 2020) penerimaan tersebut telah mencapai 116.77 persen dari target sebesar Rp4.73 triliun s.d. 29 Februari 2020,” papar Kepala Bidang Kepabeanan dan Cukai Kanwil Bea Cukai Jateng DIY, Nur Rusydi, Selasa (24/3) di Kanwil Bea Cukai Jateng DIY.

Ia juga mengatakan bahwa realisasi penerimaan s.d. Februari 2020 ini merupakan penerimaan tertinggi dalam periode yang sama selama empat tahun terakhir, dan jika dibandingkan dengan tahun 2019 (y.o.y) maka mengalami pertumbuhan sebesar 52.74% atau setara Rp1.91 triliun.

Pertumbuhan ini sebagian besar dikontribusi oleh penerimaan cukai hasil tembakau sebagai efek dari penundaan pembayaran cukai empat minggu terakhir tahun 2019 yang berimbas pada pembayaran di awal tahun 2020 sebesar Rp4.9 triliun. Secara total penerimaan Cukai telah mencapai Rp5.23 Triliun atau 119.84 persen dari target proporsional.

Menurutnya, penerimaan bea masuk mencapai Rp273.71 miliar atau 77.63 persen dari target proporsional. Adapun penerimaan bea keluar mencapai Rp15.59 miliar atau 152.60 persen dari target proporsional.

Kedua penerimaan tersebut terkait dengan kinerja impor dan ekspor yang akan sangat dipengaruhi oleh situasi perekonomian global. Lesunya perekonomian global beberapa waktu terakhir ini seolah belum berpihak pada Indonesia.

Dimulai dengan perang dagang 2 negara raksasa ekonomi yaitu Amerika dan China, kemudian disusul dengan wabah corona atau virus Covid-19 yang meskipun terjadi di China namun imbasnya memengaruhi kinerja ekonomi dunia, tak terkecuali Indonesia.

Belum juga reda, kini tekanan ekonomi global kembali terjadi sebagai akibat perang dagang minyak yang dikobarkan Arab Saudi dan Rusia. Pasar komoditas minyak mentah dunia kembali bergejolak.

loading...