Alexa Analytics
JPNN.com App
Aplikasi Berita Terbaru dan Terpopuler
Dapatkan di Play Store atau Apps Store

Respons Peringatan Kedubes AS, IPW: Polri Harus Bersihkan Sarang Terorisme

Jumat, 09 April 2021 – 13:56 WIB
Respons Peringatan Kedubes AS, IPW: Polri Harus Bersihkan Sarang Terorisme - JPNN.COM
Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane. Foto: arsip JPNN.com/Ricardo

jpnn.com, JAKARTA - Kedutaan Besar Amerika Serikat (Kedubes AS) di Jakarta mengeluarkan peringatan dini agar warganya menghindari mal, kerumunan, dan tempat hiburan karena masih tingginya ancaman teroris di Indonesia.

“Peringatan dini Kedubes AS itu perlu disikapi Polri dengan membersihkan sarang-sarang terorisme dan radikalisme yang bisa mengancam ketertiban umum,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane, Jumat (9/4).

Neta mendesak Kepala Badan Intelijen Keamanan (Kabaintelkam) Polri Komisaris Jenderal (Komjen) Paulus Waterpauw bekerja keras dan membuat langkah-langkah nyata membersihkan kantong-kantong terorisme dan radikalisme di negeri ini. Menurut dia, tujuannya agar kelompok terorisme tidak punya ruang gerak untuk beraksi.

Sebab, lanjut Neta, dalam peringatan dini yang dikeluarkan 7 April itu, Kedubes AS menyebutkan pascaterjadinya teror bom di Makassar pada 28 Maret 2021 dan penembakan di Mabes Polri 31 Maret 2021, ancaman terorisme di Indonesia masih tinggi.

“Potensi ancaman teroris memang masih tinggi. Di Jabodetabek misalnya, sejumlah kantong teroris sudah diacak acak polisi, tapi di kawasan Depok, Tangsel (Tangerang Selatan), dan Tangerang belum berhasil ringkus,” ujar Neta.

Dia menjelaskan di Jabodetabek, misalnya, sejumlah kantong teroris sudah diacak-acak polisi, tetapi di kawasan Depok, Tangerang Selatan, dan Tangerang belum ringkus.

Berdasar pendataan IPW, sedikitnya ada 11 daerah yang rawan teroris di Indonesia, yakni Jakarta, Jawa Barat (Jabar), Jawa Tengah (Jateng), Yogyakarta, Jawa Timur (Jatim), Papua, Sulawesi Selatan (Sulsel), Sulawesi Tengah (Sulteng), Lampung, Sumatera Utara (Sumut), dan Banten.

Neta menjelaskan di Banten berbagai langkah antisipasi sudah dilakukan polisi. Antara lain, kata dia, mengumpulkan kiai kampung, penyuluh agama, dan guru madrasah di seluruh Banten. Tujuannya agar paham radikalisme, terorisme, dan serta intoleransi bisa diminimalkan.