2 Kendala Utama Industri Manufaktur

Jumat, 05 Juli 2019 – 14:18 WIB
Ilustrasi perajin mebel. Foto: Suryanto/Radar Surabaya/JPNN

jpnn.com, SURABAYA - Banyak kendala yang menghambat perkembangan industri manufaktur. Dua di antaranya adalah kualitas sumber daya manusia (SDM) dan upah minimum regional (UMR).

SDM Jawa Timur (Jatim) kurang memadai. Namun, UMR-nya tinggi. Itu membuat pertumbuhan manufaktur Jatim jalan di tempat.

BACA JUGA: Kalah Bersaing dengan Vietnam, Ekspor Mebel Turun 26 Persen

Kepala Bank Indonesia Perwakilan Jatim Difi Ahmad Johansyah mengatakan bahwa fenomena yang dialami Jatim itu juga muncul di Jawa Barat (Jabar).

BACA JUGA: Jika Harga Tiket Pesawat Diatur Pemerintah, Hancur Industri Penerbangan

BACA JUGA: Budiman: Saatnya Jokowi Membangun SDM Imajinatif

”Lihat saja di Jabar ada beberapa industri tekstil yang sudah gulung tikar. UMR-nya tinggi dan memberatkan para pelaku bisnis,” ujarnya dalam East Java Economic Forum di Hotel Majapahit Surabaya, Kamis (4/7).

Fenomena di Jatim dan Jabar tersebut, menurut Difi, berdampak pada kinerja manufaktur Jawa Tengah (Jateng).

BACA JUGA: 3 Pendorong Kinerja Industri Manufaktur

Pabrik-pabrik di Jabar dan Jatim yang tutup itu mungkin bakal merelokasi usahanya ke Jateng.

Sebab, di sana UMR-nya lebih rendah. Kendala lain yang dihadapi pelaku industri manufaktur adalah SDM.

”Sudah saatnya kualitas SDM ditingkatkan agar mampu menghasilkan produk yang kompetitif,” ungkapnya.

Salah satu caranya, memanfaatkan balai latihan kerja (BLK).

Di tempat yang sama, Ketua Asosiasi Persepatuan Jatim Winyoto Gunawan menjelaskan bahwa tingginya UMR membuat industri padat karya seperti alas kaki stagnan.

Saat ini ada sekitar 50 pabrik sepatu yang mempunyai sedikitnya 100 ribu tenaga kerja. Sebagian besar pabrik itu berada di area ring satu Jatim.

Yakni, Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, dan Pasuruan. Otomatis, UMR-nya tinggi.

Selain sepatu, pabrik mebel mengalami kesulitan untuk tumbuh. Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Jatim Nur Cahyudi mengungkapkan, kinerja ekspor mebel pada triwulan pertama ini turun sekitar 26 persen.

Penyebabnya, masyarakat lebih memilih mebel buatan Vietnam yang harganya lebih murah.

”Daya saing mebel Vietnam bagus karena mendapat support dari pemerintahnya,” ujarnya.

Dukungan itu, antara lain, suku bunga perbankan di Vietnam yang lebih rendah daripada Indonesia.

Pemerintah Vietnam juga memberikan subsidi kepada pelaku industri yang ingin meremajakan mesin-mesin mereka.

Ekonom dari Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi menyatakan bahwa sektor manufaktur yang berkontribusi 30 persen terhadap PDRB Jatim perlu digenjot.

Peningkatan manufaktur bisa dimulai dengan investasi besar di bidang SDM.

’’Peningkatan SDM harus dicari solusinya. Misalnya, perbaikan kurikulum dan rutin memanfaatkan BLK,’’ jelasnya. (car/c20/hep)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Industri Manufaktur Masih Melambat


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler