300 Ribu PNS Pindah ke Ibu Kota Baru, Ditambah Keluarganya Sekitar 1,4 Juta

Kamis, 29 Agustus 2019 – 00:07 WIB
PNS instansi pusat sebagian harus ikut pindah ke ibu kota baru di Kaltim. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com, PENAJAM PASER UTARA - Pemerintah pusat melakukan kajian pemindahan ibu kota negara dari Jakarta ke Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan Kutai Kartanegara, Kaltim.

Kajian di Penajam Paser Utara dilakukan sejak akhir 2017. Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Bapelitbang) PPU melakukan pendampingan saat tim dari Korlantas Mabes Polri meninjau wilayah PPU, khususnya Kecamatan Sepaku.

BACA JUGA: Intan Fauzi: Pemindahan Ibu Kota Jangan Membebani Anggaran Negara

Sekretaris Bapelitbang PPU Hadi Saputro mengatakan, Korlantas mengkaji dari sisi jalur infrastruktur transportasi, telekomunikasi dan kesiapan rencana jalu transportasi alternatif.

Pada awal 2018, tim Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) turun ke PPU khusus mengkaji sosial, budaya, ekonomi dan pengembangan wilayah.

BACA JUGA: Pemindahan Ibu Kota, Kemendagri Bakal Bahas Revisi UU DKI?

Dari sisi geografis wilayah, PPU lebih unggul dibandingkan dengan Kalimantan Selatan (Kalsel). Karena sebagian PPU dan sebagian Kukar yang ditetapkan sebagai ibu kota negara diapit dua kota, yakni Samarinda dan Balikpapan.

Selain itu, dari sosial budayanya, secara umum Kaltim heterogen. Dan potensi konflik sosial sangat minim atau nyaris tidak ada.

BACA JUGA: Bertemu Jokowi, Ridwan Kamil Minta Perencanaan Ibu Kota Baru Dikaji Ulang

BACA JUGA: MenPAN-RB: PNS Akan Lebih Bahagia Hidup di Ibu Kota Baru

“Dilihat dari identifikasi awal, sudah mengarah ke sana (PPU, Red.), dibandingkan Kalimantan tengah. Indokator ibu kota negara, kita di atas rata-rata. Dari sisi konflik, kita sangat aman. Dan kesesuaian lahan cukup baik. Termasuk ketersediaan sumber air bersih cukup memadai,” kata Hadi Sapitro kepada prokal.

Kecamatan Sepaku di PPU dan Kecamatan Samboja di Kukar yang jadi ibu kota negara memiliki ketersediaan lahan yang memadai. Hadi Saputro menyatakan, Bappenas memaparkan pemindahan ibu kota negara tidak mengeluarkan anggaran pembebasan lahan.

Artinya, lahan ibu kota yang dipersiapkan adalah lahan milik negara. Di Kecamatan Sepaku dipastikan tidak ada taman hutan rakyat (Tahura). Untuk tahura hanya ada di kawasan Kukar yang berbatasan dengan Sepaku.

Meskipun belum diketahui titik pastinya lahan yang akan digunakan pemerintah pusat. Namun, lahan milik negara di Kecamatan Sepaku antara 180 ribu hektare hingga 200 hektare. Hadi Saputro menyatakan, lahan milik negara tersebut dikelola perusahaan atau melalui izin Hak Pengusahaan Hutan (HPH) maupun Hutan Tanaman Industri (HTI).

Salah satu pemilih hak pengusahaan hutan tersebut adalah PT ITCI Kartika Utama dan PT Balikpapan Forest Industry. Namun, belum bisa dipastikan lahan yang dikelola perusahaan tersebut masuk dalam perencanaan pengembangan ibu kota negara. Namun, lahan dikelola swasta ini bisa sewaktu-waktu diambil alih oleh negara.

“Khusus di Kecamatan Sepaku HPH itu hampir 200 ribu hektare. Itu belum termasuk lahan garapan warga. Karena kajian pemindahan ibu kota tidak akan melaksanakan pembebasan lahan masyarakat. karena semua lahan yang digunakan milik negara. Waktu pemaparan bulan akhir 2018 ke Bappenas, kita ajukan kawasan HPH. Dalam HPH itu juga sudah terbentuk badan jalan dengan lebar 15 sampai 20 meter. Kalau itu masuk perencanaan ibu kota, tinggal diperlebar apakah itu 50 meter atau 100 meter, tergantung kebutuhan pemerintah pusat,” beber dia.

BACA JUGA: Lihat, Warga Dayak Paser Gelar Ritual Adat Dukung Pemindahan Ibu Kota

Setelah penetapan ibu kota, Pemkab PPU juga tengah memikirkan mengenai pengembangan sumber daya manusia (SDM). Hal tersebut dilakukan, agar secara umum, warga Benuo Taka memiliki bekal untuk menghadapi persaingan.

Setelah seluruh infrastruktur ibu kota rampung, diperkirakan 300 ribu pegawai pemerintah pusat bergeser dari Jakarta ke Kaltim.

“Diperkirakan ada 300 ribu pegawai, kalau tambah keluarganya sekitar 1,4 juta. Ini yang belum lagi yang lain. Mereka yang datang adalah orang yang memiliki modal, jaringan dan berpendidikan. Kalau kita tidak persiapkan SDM kita di sini, takutnya nanti kita hanya jadi makelar tanah dan ujung-ujungnya terpinggirkan,” pungkasnya. (kad/rus/prokal)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pemindahan Ibu Kota Bikin Rakyat Makin Sejahtera


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler