4 Tewas, Delapan Orang Terkubur 18 Jam Lebih

Rabu, 04 Juni 2014 – 09:06 WIB
KEGAGALAN KONSTRUKSI: Proses menolong korban runtuhnya rukan tiga lantai yang terdiri atas 17 petak di Jalan Ahmad Yani, kompleks Cenderawasih Permai, Samarinda, Selasa. Foto: Jamri Lex/Kaltim Pos/JPNN

jpnn.com - SAMARINDA – Jerit menyayat hati terdengar dari balik reruntuhan rumah kantor (rukan) di kompleks Cenderawasih Permai, Kelurahan Temindung Permai, Sungai Pinang, Samarinda. Peristiwa ambruknya rukan berukuran 103 x 15 meter Selasa pagi itu (3/6) mengakibatkan sedikitnya 4 orang tewas, 9 luka-luka, dan 8 masih terjebak di reruntuhan.

Rukan tersebut ambruk pada pukul 06.25 Wita kemarin. Dari 84 pekerja, 14 orang di antaranya tertimpa material. Tamborianto, salah seorang pekerja, menceritakan bahwa dirinya baru saja mengecor lantai 3 rukan.

BACA JUGA: Calon Perawat Tewas Tersenggol Mobil Tambang

Pekerjaan dimulai Senin (2/6) pukul 19.00 Wita hingga Selasa pukul 05.00. Selepas bekerja, tiba-tiba adiknya melaporkan ada tiang yang bergetar. ”Saya langsung suruh adik saya menyelamatkan diri. Belum lima menit, sudah runtuh,” ucap Tamborianto.

Petugas penyelamat kesulitan untuk mengangkat beton secara manual. Reruntuhan yang rapuh pun membuat tim penyelamat ekstrahati-hati agar korban tidak semakin terjepit. Warga yang ingin menonton penyelamatan juga membuat para petugas kerepotan.

BACA JUGA: Senayan Dukung Sumut Pecah jadi Lima

Korban selamat yang berhasil dipindahkan kemarin siang antara lain adalah Paiman, 49. Posisinya diketahui setelah mengirim pesan pendek kepada seorang buruh yang selamat. ”Saya masih hidup, tolong saya,” bunyi pesan pendek yang juga terus dia teriakkan selama terjebak. Pukul 14.35, ketika takbir dikumandangkan tim penyelamat, Paiman ditemukan dan diangkat. Dia segera dibawa ke rumah sakit.

Korban selamat yang terakhir dievakuasi adalah Suyaji, 32. Bisikan Allahu Akbar dari bibirnya terdengar tim penyelamat yang terus mencari korban di bawah puing-puing.

BACA JUGA: Kompolnas Minta Kapolda Usut Polisi Main Tembak

”Kami bertanya bagaimana kondisi korban di bawah,” ucap seorang anggota tim penyelamat dari Badan SAR Nasional. Suyaji menjawab, dirinya bersama beberapa orang yang lain.

”Tapi, sepertinya mereka sudah meninggal. Tangan mereka sudah dingin dan tak bergerak,” kata Suyaji dari dalam lubang. Setelah 13 jam terjebak, dia pun dikeluarkan dengan menderita patah tulang kaki kanan dan cedera dada.

Korban tewas dalam peristiwa itu adalah Kadori, 31; Kasiran, 28; Surani; dan Abdul Makruf. Kadori dan Kasiran adalah pekerja asal Jawa Timur. Keduanya ditemukan tergencet di sisi selatan bangunan. Berdasar pantauan Kaltim Post (Jawa Pos Group), keduanya terjebak di bagian depan bangunan.

Beberapa kawan korban menjelaskan, keduanya sedang berada di lantai 2 dan berusaha melompat menyelamatkan diri saat bangunan mulai runtuh. Bukannya selamat, mereka malah terjebak.

Sementara itu, korban tewas yang lain, yakni Surani dan Makruf, ditemukan di dalam kelambu malam. Mereka diduga sedang tidur di lokasi proyek yang juga menjadi tempat tinggal sementara ketika peristiwa berlangsung.

Musibah tersebut juga membuat sembilan orang dirawat di RSUD A.W. Sjahranie. Empat di antaranya sempat tertimbun. Mereka adalah Suroto, 44; Dwi Yanuartomo, 28; Paiman, 49; dan Suyaji, 32.

Sementara itu, Polresta Samarinda sudah memeriksa lima saksi, termasuk seorang mandor. ”Masih terus kami selidiki,” ucap Kasubbaghumas Polresta Samarinda Iptu Agus Setyo saat ditemui di lokasi kejadian.

Anggota Polresta Samarinda beserta Satuan Brimob Detasemen B Pelopor pun masih terus berjaga-jaga di sekitar lokasi.

Ditemui saat evakuasi korban kemarin siang, Wali Kota Samarinda Syaharie Jaang meminta instansi berwenang turun tangan. ”Peralatan dari bina marga telah diturunkan untuk membantu,” ujarnya.

Dia meminta kepolisian menginvestigasi dan mengungkap penyebab kejadian yang di dunia konstruksi masuk kategori langka tersebut.

Pembangunan rukan dengan perkiraan investasi Rp 15 miliar itu diduga melanggar prinsip-prinsip konstruksi.

Struktur rukan diduga ambruk karena dikerjakan bukan oleh penyedia jasa konstruksi profesional. Berdasar dokumen izin mendirikan bangunan (IMB) yang diterbitkan Pemkot Samarinda, Juliansyah Gojali dari PT Firma Abadi diketahui sebagai pemohon izin. IMB terbit Desember 2013.

Dari situ diketahui awal pembangunan rumah kantor. Setelah enam bulan, dua bangunan kembar berdiri. Sama-sama 17 petak kantor dengan total panjang 103 meter dengan lebar 25 meter.

Tiga lantai di sebelah timur telah berdiri. Namun, ketika pengecoran lantai 3, bangunan di sebelah barat malah ambruk. Kekuatan penopang, yakni pilar (vertikal) dan balok penopang (horizontal), diduga tidak memenuhi standar.

Pilar dan balok penopang diperkirakan terlampau ramping. Dari tinjauan di lokasi kejadian, balok penopang berukuran 23 x 23 cm.

”Kelihatannya tidak sesuai. Tetapi, perlu investigasi untuk memastikan,” kata Slamet Suhariadi, ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Kaltim.

Di lapangan diketahui ukuran besi cor juga diragukan. Besi yang digunakan berdiameter 5 mm, 7 mm, dan 10 mm untuk tulang pancang. Sedangkan pengikat tulang menggunakan besi 10 mm. Sebagian praktisi mengatakan, besi yang digunakan semestinya 12 hingga 15 mm untuk tulang pancang. Sedangkan pengikat berukuran 10 mm untuk tulang 12 mm.

Berdasar analisis Slamet, kondisi tanah perlu ditinjau. Jonathan, warga di kompleks Cenderawasih Permai yang dekat lokasi kejadian, mengatakan bahwa lahan itu dulu berupa rawa yang sering digunakan untuk menambatkan sapi.

”Kekuatan tanah menentukan seberapa dalam tanah keras yang harus dicapai tiang pancang,” jelas Slamet. (fch/dns//dra/fel/JPNN/c9/sof)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Keppres Pemakzulan Bupati Karo Belum Juga Terbit


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler