Abu Sayyaf Kejam! 4 WNI Melawan, Lantas Diikat jadi Satu

Sabtu, 14 Mei 2016 – 07:53 WIB
Menteri Luar Negri Retno Marsudi (tengah) saat serah terima 4 ABK korban penyandraan Abu Sayyaf , Samsir (kiri-kanan), Dede Irfan, M. Arianto Misan, Lorens M.P.R kepada Keluarga di Jakarta, Jumat (13/6/2016).Sebanyak empat (ABK) Kapal Henry tersebut akhirnya dibebaskan setelah disandera kelompok militan Abu Sayyaf sejak 15 Maret lalu. FOTO:MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

jpnn.com - JAKARTA – Empat orang WNI yang disandera kelompok Abu Sayyaf faksi faksi Alden Bagade telah dibebaskan dan sudah bertemu keluarganya kemarin. 

Dalam serah terima oleh Kemenlu kepada keluarga para pelaut tugboat Henry dan perwakilan perusahaan, terbeber cerita penyanderaan yang lebih kejam jika dibandingkan 10 sandera faksi berbeda yang telah lebih dulu bebas.

BACA JUGA: Komandan Tinggi Hizbullah Tewas, Israel dan AS Bungkam

Samsir, 26, salah seorang sandera, bercerita bahwa mereka sudah melakukan perlawanan ketika para penculik menyerbu kapal. Dengan senjata seadanya, sepuluh orang awak kapal melawan kelompok terlatih tersebut. Karena seorang tertembak, mereka menghentikan perlawanan.

“Sejak saat itu kami pasrah daripada kena. Karena speedboatnya kecil, mereka pun pilih acak untuk dibawa. Salah satu yang terpilih saya,’’ ungkapnya di Gedung Pancasila, Kemenlu, Jakarta, kemarin. 

BACA JUGA: Dipenjara 22 Tahun, Ternyata Salah Tangkap, Ganti Rugi Cuma...

Samsir disandera bersama tiga lainnya, yakni Mochammad Aryanto Misnan, Loren Marinus Petrus Rumawi, dan Dede Irfan Hilmi. 

Saat digondol ke kapal perompak, lanjut dia, matahari sudah penuh tenggelam. Hal itulah yang membuat dia tak tahu benar lokasi peyanderaan meskipun mata tak ditutup. Yang dia tahu hanyalah bahwa dia sampai dan akhirnya diikat berempat dengan tali selama penyanderaan. 

BACA JUGA: Wonderful Indonesia Beraksi di Thailand Golf Expo

’’Kalau berhenti, kami bakal diikat ke pohon agar tidak lari. Ikatan ini dilepas kalau kami mau makan, saat, atau buang air. Mereka pun tidak segan kasar ke kami. Salah satunya, teman saya, Loren, yang ditendang karena dia jalannya lamban,’’ kata juru mudi asal Palopo, Sulawesi Selatan, itu.

Cerita ini memang berbeda dengan kisah 10 WNI sebelumnya. Saat dilepas, 10 ABK WNI Kapal Brahma mengaku diperlakukan secara layak. Bahkan makanan yang dimakan oleh Peter Tonsen Cs sama dengan yang disantap penyandera. 

Sedangkan, Samsir mengaku bahwa makanan yang diperoleh seringkali adalah nasi putih dan daging kelapa kering. ’’Kadang-kadang, kami juga diberi sisa makanan mereka,’’ ujarnya. (bil/tyo/far/sof)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... 180 Hari lagi Presiden Dilengserkan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler