Abu Vulkanik Menutupi Bandara Ngurah Rai

Jumat, 29 Juni 2018 – 10:44 WIB
Gunung Agung. ILUSTRASI. Foto: BNPB

jpnn.com, JAKARTA - Gunung Agung, Bali, mengembuskan abu vulkanik hingga mengeluarkan asap dan abu, sejak Kamis (26/6) pukul 10.30 Wita sampai Jumat (29/6) dini hari. Embusan itu telah menyebabkan hujan abu di bagian Barat, hingga Barat Daya.

Satelit Hinawari dari BMKG menunjukkan abu vulkanik telah menutupi ruang udara koordinat Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

BACA JUGA: Bandara Ngurah Rai Ditutup Selama 16 Jam

Karena itu Rapat Koordinasi Penanganan Dampak Erupsi Gunung Agung terhadap Operasi Penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Jumat (29/6) pukul 00.05 Wita, memutuskan melakukan penutupan bandara (closed aerodrome) yang direkomendasikan mulai pukul 03.00 Wita sampai 19.00 Wita.

“Untuk selanjutnya di terbitkan Notam (Notice to Airmen). Evaluasi akan diadakan kembali Jumat (29/6) pukul 12.00 Wita," kata Juru Bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Jumat (29/6).

BACA JUGA: Lebaran, Trafik Penumpang Bandara Ngurah Rai Tertinggi

Menurut Sutopo, penutupan bandara ini terkait safety yang utama. Beberapa operator telah membuat keputusan cancel flight dengan alasan safety.

Untuk pesawat yang cancel flight pada Kamis (28/6), baik keberangkatan dan kedatangan sebanyak 48 flight dengan penumpang 8.334 orang. Jumlah itu terbagi atas penerbangan internasional sebanyak 38 flight dengan penumpang 6.611 orang dan penerbangan domestik 10 flight dengan penumpang 1.723 orang.

BACA JUGA: Kemenhub Dukung Penerbangan Charter Polandia - Denpasar

"Maskapai penerbangan yang membatalkan penerbangan adalah Air Asia, Jet Star, Qantas, dan Virgin," jelasnya.

Sementara itu hasil pantauan visual di Pos Pengamatan Gunung Agung PVMBG di Rendang, hingga Jumat (29/6) pukul 06.00 Wita, Gunung Agung masih mengeluarkan abu vulkanik dan kawah menyala api berwarna kemerahan dengan intensitas stabil dengan tinggi kolom abu mencapai 2.500 meter.

"Status masih tetap Siaga (Level 3). Belum ada kenaikan status. Belum dapat diperkirakan sampai berapa lama durasinya efusifnya," katanya.

Saat ini masih terdeteksi microtremor pada alat seismograf PVMBG yang mengindikasikan adanya pergerakan magma ke permukaan. Secara seismik teramati peningkatan amplitudo seismik secara cepat dalam tempo 12 jam terakhir. Kegempaan didominasi oleh gempa-gempa dengan konten frekuensi rendah yang dimanifestasikan di permukaan dengan embusan mengeluarkan emisi gas dan abu vulkanik.

Hujan abu terjadi di beberapa daerah di barat dan barat daya Gunung Agung. Wilayah yang terpapar abu sementara terjadi diwilayah Purage, Pempatan Rendang, Keladian, Besakih, Br. Beluhu, Desa Suter karena dominan angin dan abu mengarah ke Barat.

Secara deformasi, kata Sutopo, teramati inflasi sejak 13 Mei 2018 hingga saat ini dengan uplift sekitar 5 mm. Hal ini mengindikasikan masih adanya pembangunan tekanan oleh magma di dalam tubuh Gunung Agung. "Hingga saat ini, inflasi tubuh Gunung Agung masih belum mengalami penurunan," jelasnya.

Radius berbahaya tetap di dalam radius 4 km dari puncak kawah. Masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Agung melakukan evakuasi mandiri. Sebanyak 309 jiwa masyarakat mengungsi yang berada di 3 titik pengungsi yaitu di Dusun Tegeh Desa Amerta Bhuana, Banjar Dinas Galih Desa Jungutan dan Banjar Desa Untalan Desa Jungutan di Kabupaten Karangasem.

"Masyarakat diimbau tetap tenang. BNPB terus melakukan koordinasi dengan Kementerian Perhubungan, PVMBG, BMKG, BPBD, Pemda Bali, dan lainnya," ungkap Sutopo.(boy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... AP I Diuntungkan Ngurah Rai, Pemprov Bali Tak Dapat Apa-apa


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler