AHY Gulirkan Isu Kudeta, Moeldoko Mengaku Prihatin dengan Kondisi Demokrat

Senin, 01 Februari 2021 – 22:12 WIB
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Foto: Ricardo

jpnn.com, JAKARTA - Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko membenarkan pernah dikunjungi sejumlah kader Partai Demokrat akhir-akhir ini.

Moeldoko mendengarkan kesaksian kader partai berlambang bintang mercy itu tentang bagaimana kondisi internal partai yang kini dipimpin Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

BACA JUGA: AHY Gulirkan Isu Kudeta di Demokrat, Ruhut: Kekanak-kanakan

"Beberapa kali memang banyak tamu yang berdatangan dan saya orang yang terbuka. Saya mantan Panglima TNI, tetapi saya tidak memberi batas dengan siapa pun. Apalagi di rumah ini mau datang terbuka 24 jam, siapa pun," kata Moeldoko dalam konferensi pers virtual, Senin (1/2).

Moeldoko mengatakan, dari pertemuan dengan kader Demokrat, awalnya dimulai dari pembicaraan tentang sektor pertanian.

BACA JUGA: Panas! Moeldoko Beri Peringatan Kepada AHY: Ini Urusan Saya, Bukan KSP

Namun, Moeldoko kemudian mendengarkan tentang kesaksian tentang kondisi di internal partai yang sebelumnya dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu.

Walakin, Moeldoko tidak menjelaskan siapa kader Demokrat yang berbicara padanya. Begitu juga tentang isi pembicaraannya.

BACA JUGA: Soal Upaya Kudeta di Demokrat, Tri Dianto Cuma Bilang Begini

Akan tetapi, Moeldoko merasa prihatin dengan kondisi Partai Demokrat saat ini.

"Curhat tentang situasi yang dihadapi, ya, gue dengerin saja, gitu. Berikutnya, ya, sudah dengerin saja. Saya sih sebetulnya prihatin melihat situasi itu. Karena saya juga bagian yang mencintai Demokrat," kata Moeldoko.

Moeldoko merasa dirinya disangkutpautkan dengan isu kudeta terhadap AHY karena sebuah foto. Padahal, katanya, siapa pun boleh berfoto dengannya.

"Apa susahnya, itu lah menunjukkan bahwa seorang jenderal yang tidak punya batas dengan siapa pun. Kalau itu menjadi persoalan yang digunjingkan, silakan saja. Saya enggak keberatan," ungkap Moeldoko.

Purnawirawan TNI kelahiran Kediri, 8 Juli 1957 ini mengharapkan semua pihak apabila menjadi seorang pemimpin, maka dia harus kuat.

Eks Panglima TNI itu mengingatkan tidak ada tempat bagi pemimpin yang emosional atau sensitif.

"Saran saya, ya, menjadi seorang pemimpin harus seorang pemimpin yang kuat. Jangan mudah baperan, jangan mudah terombang ambing dan seterusnya," tutur Moeldoko.

"Ya, kalau anak buahnya enggak boleh pergi ke mana-mana, ya, diborgol saja kali," pungkas mantan Kasad ini.(tan/jpnn)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler