Aksi Bela Ulama, Ini Dua Tuntutan yang Disampaikan

Minggu, 21 Mei 2017 – 00:33 WIB
Sejumlah anggota TNI dan polisi menggelar apel kesiapan pengamanan dalam rangka Pekan Gawai Dayak dan aksi Bela Ulama di Jalan Rahadi Usman, Jumat (19/5). HARYADI/PONTIANAK POST

jpnn.com, PONTIANAK - Aksi Bela Ulama diikuti ribuan massa berlangsung damai, di Pontianak, Kalbar, Sabtu (20/5).

Massa menuntut kepolisian untuk melakukan proses hukum terhadap siapa saja mencoba memecah belah persatuan dan kesatuan di Kalbar.

BACA JUGA: Aksi Bela Ulama Bareng Pawai Gawai Dayak, Alhamdulillah...

Maassa berkumpul di Masjid Raya Mujahidin. Seusai melakukan salat dzuhur berjamaah, massa bergerak menggunakan kendaraan, baik roda dua maupun roda empat ke Mapolda Kalbar, Sabtu (20/5) siang.

Setibanya di lapangan Bhayangkara Polda Kalbar, massa melakukan orasi dan tututan. Memang saat memasuki lapangan Polda Kalbar, massa nyaris bentrok dengan aparat kepolisian.

BACA JUGA: Aksi Bela Ulama Bareng Pekan Gawai Dayak, Semoga Adem...

Keributan dipicu salah satu oknum peserta aksi melakukan pelemparan botol air terhadap aparat yang berjaga. Beruntung, aksi dapat diredam sehingga bentrokan terhindarkan.

Selanjutnya, sejumlah perwakilan dari peserta aksi dipersilahkan untuk berdialog langsung dengan Kapolda Kalbar Brigjen Pol Erwin Triwanto dan beberapa pejabat utama Polda Kalbar.

BACA JUGA: Akibat Tergoda Wanita, Remaja Akhirnya Merana

Setidaknya ada dua poin tuntutan dalam aksi tersebut. Salah satunya adalah proses hukum terhadap Gubenur Kalimantan Barat karena pidatonya dianggap bisa memecah persatuan dan kesatuan di Kalbar.

"Terus terang, tidak ada gubernur di Indonesia ini yang memproklamirkan dirinya sebagai provokator. Baru di Kalbar ini lah. Kami datang ke sini (Polda Kalbar) untuk menegaskan siapun dia, pejabatkah aparatkah. Kalau mereka coba-coba menodai Pancasila, merusak Pancasila dan menghina sibol-simbol agama, kami akan tempuh jalur hukum," kata Habib Abdurahman bin Ali ditemui sejumlah wartawan usai berdialog dengan Kapolda Kalbar.

Tuntutan kedua adalah, tidak ada lagi "pengusiran" terhadap ulama. Menurutnya, hingga saat ini sudah dua kali terjadi "pengusiran" terhadap ulama yang datang ke Kalimantan Barat.

"Kami minta tidak ada lagi pengusiran ulama. Ulama itu diamankan, bukan diusir," lanjutnya.

Kendati demikian, pihaknya sangat mengapresiasi Kapolda Kalbar karena telah berkenan berdialog dengan perwakilan massa aksi.

"Saya kagum dan bangga dengan Kapolda yang sekarang. Beliau minta jika kami akan mendatangkan ulama, dibangun koordinasi terlebih dahulu. Dan beliau santun kepada kami," katanya.

Sementara itu Kapolda Kalbar Brigjen Erwin Triwanto mengatakan, kedatangan para perwakilan aksi ini dianggap sebagai dukungan kepada para penyidik, agar dalam melakukan penyidikan dilakukan secara netral.

"Saya sudah yakinkan, penyidikan akan dilakukan secara transparan," kata Erwin. "Intinya pertemuan itu, dalam penyidikan tidak ada diskriminasi," tegasnya.

Disinggung soal adanya insiden nyaris bentrokan antara massa di luar aksi damai dengan aparat kepolisian, di beberapa lokasi di Kota Pontianak, Erwin menegaskan bahwa pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan panitia.

Di mana pada hari yang sama juga digelar kegiatan pawai Pekan Gawai Dayak yang rute pawainya telah ditentukan. Demikian juga dengan rute aksi damai "Bela Ulama".

"Namun setelah saya tanyakan, mereka yang nyaris bentrok di luar kendali mereka (massa aksi damai). Tapi tidak sampai bentrok. Karena kita sudah sekat dengan anggota Kodam dan Brimob," pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, Kapolda Kalbar menghimbau kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi, terlebih oleh media sosial. (arf)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Teriakan Bandit Gegerkan Rumah Sakit Polda


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler