Alquran Warisan Maulana Malek Ibrahim Ini Konon Bisa Terbang

Rabu, 13 Juni 2018 – 00:05 WIB
Tgk. Meurah Hasan, juru kunci (penjaga) rumah Quran dari keturunan ke-13 meyakini Quran Tua telah berusia 700 tahun. Foto: DENI SARTIKA/RAKYAT ACEH

jpnn.com - Diyakini telah berusia 700 tahun, Alquran Tua atau Quran wangi, yang berada Desa Mugo Rayeuk, Kecamatan Panton Reu, Aceh Barat, ini merupakan bagian cerita Islam masuk ke Aceh.

Deni Sartika - Meulaboh

BACA JUGA: BKSDA Siapkan Rp 10 Juta untuk Info Pembunuh Gajah Bunta

Tgk. Meurah Hasan, juru kunci (penjaga) Rumah Quran dari keturunan ke-13 meyakini Alquran Tua telah berusia 700 tahun.

Katanya, kitab suci ini konon sampai ke Aceh berkat kehadiran seorang khalifah yang berasal dari Arab, sekitar abad ke-XII silam. Da’i itu bernama Maulana Malek Ibrahim.

BACA JUGA: Presiden: Alquran Adalah Hidayah

Ia merupakan seorang pedagang asal Arab Saudi yang berlabuh melalui di Peulabuhan Pereulak, Aceh Timur. Rutinitas berniaganya, senantiasa berinteraksi dengan orang lain, dalam setiap komunikasi, selalu menyampaikan dakwah tentang ajaran agama Aslam dan kebesaran Allah SWT, kepada setiap pembeli dan orang sekitarnya.

Tanpa ada paksaan, secara perlahan mulai banyak mualaf di Aceh. Dahulu, lanjut Tgk. Meurah, masyarakat di Aceh terlebih dahulu mengenal ajaran agama Hindu dan Budha sebagai kepercayaan rintisan masa kerajaan Majapahit.

BACA JUGA: Pengedar Narkoba Ditangkap, Polisi Sita Senpi Laras Panjang

Dalam syiarnya, Maulana Malek Ibrahim menggunakan Alquran Tua ukiran tangan yang dibawanya untuk mengaji.

Masyarakat Aceh memberikan sebutan ‘Syeh’ kepada Maulana Malek Ibrahim, sosok ini mulai dianggap sebagai guru, bagi sebagian masyarakat. Kehadiran pedagang asal Arab ini dinilai mulai memberikan pencerahan bagi masyarakat Aceh, kala itu.

Tampilan karakternya, sangat mulia dan bijaksana, layak seorang Da’i yang menjadi contoh panutan bagi masyarakat.

Syeh Maulana Malek Ibrahim meminang seorang wanita dari keturunan keluarga terpandang di Aceh, untuk dijadikan istrinya, sampai memperoleh keturunan dua orang anak, yakni Malikul Saleh (anak pertama) dan Abdusamad (anak kedua).

Dua anaknya ini mendapat bimbingan tentang ajaran Islam sejak usia dini, hingga beranjak remaja. Syeh Maulana Malek Ibrahim pun kembali melanjutkan rencana awal untuk menyebarkan agama Islam ke Pulau Jawa.

Kala itu mayoritas masyarakat di Jawa menganut agama Hindu dan Budha. Ia pun meninggalkan Alquran ukiran tangan kepada anaknya di Aceh, supaya dapat menjadi pedoman umat Islam untuk mengaji.

Melalui pelabuhan Gresik, Jawa Timur, ia berlabuh di daratan Jawa. Saat itu, kekuasaan Majapahit sebagai kerajaan penyebar agama Hindu dan Budha sangat kuat di puncak kejayaannya.

Sementara dua orang anaknya yang ditinggalkan di Aceh, mulai menjalankan perintahnya. Malikul Saleh membentuk imperium (Kerajaan) Islam pertama yang bernama Samudra Pasai (abad 13) di Aceh Utara.

Sedangkan anak keduanya, yakni Abdusamad, memilih naik haji. Kembali ke Aceh, ia memilih untuk mengikuti jejak Syeh Maulana Malek Ibrahim, yakni menjadi Dai demi berdakwah dan menyebarkan ajaran Islam secara meluas. Abdusamad pun memperoleh gelar sebutan Syeh (guru).

Berbekal Alquran peninggalan ayahnya, Syeh Abdusamad memulai menyebarkan Islam menyelusuri Aceh Timur, Aceh Utara, sampai menetap di Pidie. Ia berumah tangga dengan seorang gadis dan memperoleh keturunan bernama Cik Adam. Pondok pesantren bernama Babul Hasanah awal dibuka di kawasan Pidie.

Syeh Abdusamad pun meninggal di Tiro, Pidie. Anaknya, Tgk. Cik Adam kembali mengikuti jejak orang tuanya untuk menyebar Islam. Berbekal Alquran sepeninggalan kakeknya (Syeh Maulana Malek Ibrahim), melanjutkan dakwah.

Ia memilih menyebarkan Islam di pantai barat, melintasi Keumala, Tangse Geumpang, Tutut hingga ke Aceh Barat dan menetap di Desa Panton Reu (kini Desa Mugo Rayeuk).

Di situlah ia mendirikan pesantren kecil dinamakan Babul Hasana. Tgk Cik Adam berumah tangga dan dikaruniai lima orang anak; Tgk. Keumala, Tgk. Jambo Awe, Tgk. Dumba, Tgk. Hasyim, dan Tgk. Ahmad. Usia lanjut, membuat Tgk. Cik Adam menghembuskan nafas terakhir pada Abad ke -14 di Aceh Barat.

Aquran tersebut berada di Desa Mugo Rayeuk tanpa pernah dipindahkan dari tempatnya, yang kini dikenal sebutan rumah “Quran Panton Reu.”

Keberadaan Alquran ini, merupakan pusaka religius sejarah masuknya Islam di Aceh. Telah menjadi tanggung jawab anak, cucu, cicit, piut, dan miut (keturunan jauh) Tgk. Adam untuk penjaga Alquran ini. Sampai Alquran ini tidak pernah keluar dari rumahnya.

“Jika keluar, hanya saat kebutuhan mendesak saja, seperti perayaan Pekan Budaya Aceh (PKA) di Banda Aceh,” kata Tgk. Meurah Hasan.

Sampai kini, telah tercatat sebanyak 13 orang keturunan yang menjadi penjaga Alquran tua tersebut.

Kisahnya, ketika masa penjajah Belanda, Alquran ini pernah dibawa keluar sesaat dari Panton Reu, demi menghindari upaya Belanda untuk memusnahkannya. Dan pernah disimpan di Desa Sawang Rambot, Kecamatan Kaway XVI.

Begitu keadaan kondusif, Alquran ini konon kembali sendiri ke Panton Reu tanpa dipulangkan.

“Makanya dulu sempat heboh dan diutarakan kalau Quran ini bisa terbang,” ujar Tgk. Meurah Hasan mengenang sejarah.

Alquran Tua memiliki panjang 25 cm, lebar sekitar 20 cm dengan 30 juz. Kitab ini hasil ukiran tangan di atas kertas hasil tempahan dari kulit kayu. (mai)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Gubernur Mangkir, DPRA Merasa Dilecehkan Pemerintah Aceh


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler