Petugas kesehatan Palestina di Jalur Gaza mengatakan sedikitnya 20 orang, termasuk sembilan anak-anak tewas dalam bentrokan dengan petugas keamanan Israel.

Jumlah korban yang meninggal ini merupakan salah satu yang terbanyak dalam beberapa tahun terakhir.

BACA JUGA: Bayi Paus yang Terdampar di Sungai Thames di London Berhasil Diselamatkan

Kementerian Kesehatan Palestina tidak memberikan rincian sebab kematian 20 orang tersebut.

Ketujuh anggota dari sebuah keluarga, yang tiga di antaranya adalah anak-anak dilaporkan meninggal dunia akibat ledakan di utara Gaza.

BACA JUGA: HNW Minta Presiden Jokowi Hadirkan Langkah Konkret untuk Kemerdekaan Palestina

Belum diketahui asal ledakan tersebut.

Militer Israel mengatakan serangan udara mereka mengenai sejumlah sasaran Hamas, sebagai balasan atas tembakan roket dari Gaza.

BACA JUGA: Berhasil Tangani COVID, Australia Berusaha Tawarkan agar Bisnis dan Pekerja Asing Masuk

Pihaknya mengatakan delapan orang militan Hamas tewas.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh kelompok militan Hamas sudah melewati batas ketika meluncurkan serangan roket ke Yerusalem dan mengatakan akan membalasnya.

"Kami tidak akan membiarkan serangan terhadap wilayah kami, ibukota kami, terhadap warga dan tentara kami, siapa yang melakukan serangan akan membayar mahal," kata Netanyahu.

Pernyataan Netanyahu muncul setelah serangan roket ke Israel menimbulkan sirene udara di Yerusalem yang menyebabkan warga terburu-buru mencari perlindungan.

Sebanyak 50 roket diluncurkan, enam di antaranya menargetkan Yerusalem, yang berjarak 100 kilometer dari lokasi serangan roket pertama pada kota tersebut di masa perang tahun 2014.

Hamas mengakui pertanggung jawaban mereka melalui perkataan Abu Obeida, juru bicara sayap militer Hamas.

Ia mengatakan serangan roket itu merupakan balasan atas "kriminal dan agresi" Israel di Yerusalem.

"Ini adalah pesan yang harus dimengerti oleh musuh," katanya. Inggris dan AS mengecam serangan roket Hamas, Turki mengecam tindakan 'tidak berperikemanusiaan'

Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Antony Blinken mengatakan serangan roket dari Gaza ke Israel harus "segera" dihentikan dan mendesak semua pihak untuk mengambil langkah guna mengurangi ketegangan.

"Kami sangat memfokuskan diri pada situasi di Israel, Tepi Barat, Gaza, kami sangat prihatin dengan serangan roket yang kita lihat sekarang. Ini harus dihentikan, mereka harus segera berhenti," kata Menlu Blinken menjelang pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Yordania Ayman Safadi.

Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mengatakan Inggris mengutuk serangan roket ke Yerusalem dan wilayah lain di Israel.

"Kekerasan yang berlanjut di Yerusalem dan Gaza harus dihentikan. Ketegangan di semua pihak harus mulai reda, dan  warga sipil harus berhenti dijadikan sasaran," kata Raab di Twitter.

Ribuan orang berkumpul di luar kedutaan besar Israel di ibukota Turki Ankara dan konsulat di Istanbul untuk memprotes tindakan Israel, sementara Presiden Turki Tayyip Erdogan  berbicara dengan para pemimpin Timur Tengah mengenai ketegangan yang terus menguat.

Meski di Turki sedang ada lockdown penuh karena meningkatnya kasus COVID-19, para pengunjuk rasa di Istanbul, termasuk warga Suriah dan Palestina, membawa bendera Palestina dengan berteriak "Tentara Turki ke Gaza" dan "Hancurkan Israel, Hancurkan Amerika".

Menurut pernyataan yang dikeluarkan kantornya, Presiden Erdogan mengatakan kepada Raja Yordania Abdullah bahwa tindakan "tidak berperikemanusiaan" terhadap warga Palestina merupakan serangan terhadap seluruh warga Muslim.

Ia juga menambahkan, Turki dan Yordania harus bekerja sama untuk menghentikannya. Israel memperingatkan Hamas akan konsekuensi serius

Serangan roket di malam hari ke arah Yerusalem itu dengan cepat meningkatkan ketegangan yang sudah ada di wilayah tersebut, menyusul konfrontasi selama beberapa minggu antara polisi Israel dengan pengunjuk rasa Palestina yang bisa memperparah konflik.

Militer Israel mengatakan satu orang terluka dalam serangan roket sebelum mereka mengeluarkan peringatan bahwa Hamas "akan memikul bertanggung jawab" atas serangan tersebut.

Tidak lama setelah suara sirine terdengar, bunyi ledakan muncul di Yerusalem.

Sebuah roket jatuh di kawasan barat kota tersebut, merusak sebuah rumah, sehingga menyebabkan kebakaran.

Sebelumnya, polisi Israel menembak gas airmata, granat setrum, dan peluru karet ke arah warga Palestina yang melemparkan batu ke arah Masjid Al-Aqsa, salah satu masjid paling suci bagi Umat Muslim, yang berada di lokasi yang sama dengan salah satu tempat paling suci bagi warga Yahudi.

Dalam usaha untuk menghindari konfrontasi lebih lanjut, pihak berwenang Israel mengubah rencana pawai oleh kelompok ultranasionalis Yahudi yang akan melewati kawasan Muslim di kota tersebut untuk memperingati Hari Yerusalem, di mana Israel merebut bagian timur Yerusalem di tahun 1967.

Namun situasi masih tetap tegang.

Menurut keterangan Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina, lebih dari 305 warga Palestina mengalami cedera, dengan 228 di antaranya harus dibawa ke rumah sakit dan klinik untuk mendapat perawatan.

Polisi Israel mengatakan 21 petugas mereka mengalami cedera, dengan 3 di antaranya harus menjalani perawatan di rumah sakit.

Paramedis Israel juga mengatakan tujuh warga Israel mengalami luka-luka.

Konfrontasi ini merupakan rangkaian ketegangan yang sudah terjadi selama beberapa minggu terakhir, di mana setiap malam terjadi bentrokan antara warga Palestina dan polisi Israel di kawasan kota lama Yerusalem, yang berlangsung selama bulan Ramadan.

Penyebab ketegangan belakangan ini adalah rencana penggusuran belasan warga Palestina dari wilayah Sheikh Jarrah di Yerusalem Timur, di mana para pemukim Israel sudah lama melancarkan gugatan hukum untuk menguasai properti di sana.

Mahkamah Agung Israel menunda keputusan penting yang sedianya akan diumumkan hari Senin karena adanya insiden terbaru ini.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News

BACA ARTIKEL LAINNYA... Penusukan di Supermarket Selandia Baru, Tiga Orang Alami Cedera Serius

Berita Terkait