Anak Muda itu Bilang, Semua yang Dikatakan Donald Trump Benar

Selasa, 01 November 2016 – 00:07 WIB
MILENIAL - Natalie Blank usai mengikuti kampanye Donald Trump di Cedar Rapids, Iowa, Jumat (28/10) waktu setempat. Foto: SOFYAN HENDRA/JAWA POS

jpnn.com - BUANG jauh-jauh stereotipe bahwa ide-ide sang kandidat presiden dari Partai Republik, Donald Trump, hanya disetujui para pasukan Grand Old Party yang –sesuai namanya– sudah sepuh-sepuh.

SOFYAN HENDRA - Cedar Rapids, Iowa

BACA JUGA: Pedagang di Glodok tak Takut Aksi 4 November

Jack Kolkir, 18, Sam Conlon, 18, serta si kembar tak identik Ashlynn dan Bryan Keck, 17, masih remaja.

Namun, mereka adalah pembela Trump. Mereka bahkan mendeklarasikan diri sebagai generasi masa depan AS yang percaya bisa ”make America great again”.

BACA JUGA: Angga dan Dwi, Ayahnya Meninggal Kena DB, Ibunya Kanker Otak

Jack dan tiga bocah lelaki itu hadir di kampanye Trump di Cedar Rapids, Iowa, Jumat malam lalu (Sabtu WIB).

Mereka kompak menjinjit-jinjitkan kaki dan memanjangkan leher di belakang empat presenter televisi yang tengah melaporkan persiapan kampanye. Sesekali mereka berjingkat dan melompat.

BACA JUGA: Mahasiswa Ini Hobi Piara Burung, Omzet Belasan Juta per Bulan

Lompatan kecil yang disertai harapan bisa nongol di tayangan yang disiarkan langsung jejaring televisi global.

Polah mereka memang masih bocah. Si kembar Ashlynn dan Bryan bahkan belum punya hak suara.

Di antara keempatnya, hanya Jack dan Sam yang bisa memilih. Di AS usia minimal pemilih adalah 18 tahun.

Namun, seandainya sudah punya hak pilih, kita tahu si kembar pun akan memberikan suara buat siapa.

”Yeah aku enjoy dengan yang Trump lakukan,” kata Jack saat berbincang dengan Jawa Pos sebelum dimulainya kampanye di McGrath Amphitheatre tersebut.

”Yang dikatakan Trump itu semua benar,” tambah dia.

Dia menganggap ide-ide Trump brilian. Sebut saja rencana pembangunan tembok di perbatasan untuk menghalau imigran gelap.

”Itu bukan rasis. Itu menunjukkan bahwa Trump ingin semua warga negara AS terdata dan legal,” katanya serius.

Di AS imigran gelap memang biasa disebut dengan lebih halus, yakni undocumented immigrant, bukan illegal immigrant.

Artinya, pendatang tak terdata. Bahkan, anak yang lahir dari rahim imigran gelap bisa otomatis punya hak menjadi warga negara AS.

”Hanya Trump yang bisa menghentikan itu semua,” kata Jack yang baru lulus SMA di Kota Dubuque, Iowa.

Lalu, apa masalahnya sih jika banyak imigran? ”Itu bisa membuat kami kelak kehilangan kesempatan bekerja,” sahut Sam.

Tentang skandal perempuan yang menerpa Trump, Jack tidak mempermasalahkannya.

”Apalagi, itu juga dilebih-lebihkan media,” katanya. Mungkin karena dia bocah lelaki.

Kevin, 22, mahasiswa asal Chicago, menganggap negaranya kian lama semakin lemah.

Menurut dia, Trump-lah yang bisa mengembalikan kedigdayaan negerinya.

Mungkin dia merindukan rezim George W. Bush yang hawkish. ”Aku kecewa kenapa bisa begitu (melemah, Red),” katanya.

Dia menyebutkan, setiap saat AS berada dalam ancaman keamanan. Dia punya angan-angan negaranya bisa kembali kuat.

”Trump itu pebisnis. Dia tahu caranya bekerja. Bukan politikus yang hanya pintar omong,” ulas Kevin.

”Padahal, yang kita butuhkan simpel. Lebih banyak lapangan pekerjaan yang selama ini makin berkurang,” imbuhnya.

Fenomena dukungan anak muda kepada Trump itu sedikit mengejutkan.

Sebab, betapa kencang sang rival, Hillary Clinton, mengerahkan upaya untuk menggaet pemilih pemula.

Terutama melalui Hollywood connection alias kedekatan dengan para selebriti belia dengan jumlah follower media sosial yang berjuta-juta.

Kubu Clinton secara resmi telah meng-endorse Katy Perry untuk berkampanye mendukung capres Demokrat tersebut.

Pelantun Rise tersebut mendapat bayaran USD 70 ribu (sekitar Rp 912,2 juta) untuk mengajak fans memilih Clinton.

Misalnya lewat kampanye di YouTube. Juga ajakan langsung di Instagram-nya yang diikuti 57,7 juta fans.

Itu yang berbayar. Belum dukungan sukarela dari para penyanyi dan aktor A-lister yang membanjir.

Mulai Lady Gaga, supermodel Kendall Jenner, aktris Anne Hathaway, hingga pemain The Avengers.

Ada sutradara Josh Whedon, Iron Man Robert Downey Jr, si Black Widow Scarlett Johansson, dan The Hulk Mark Ruffalo.

Bandingkan dengan Trump yang ditolak mentah-mentah oleh Justin Bieber.

Padahal, Trump hanya ingin penyanyi Kanada itu membawakan beberapa lagu di kampanyenya.

Dia pun ditawari bayaran USD 5 juta atau Rp 65 miliar! Ternyata, endorsement dari para hitmaker yang dicintai remaja tersebut tidak banyak berpengaruh.

Setidaknya di mata anak-anak muda pembela Trump tersebut. ”Aku mendukung Trump ya karena program dan ide-idenya,” kata Natalie Blank, cewek asal Cedar Rapids.

Menurut Blank, gagasan taipan properti dengan rambut khas itu untuk menyingkirkan Obamacare dianggap tepat.

Program kesehatan yang membuat jangkauan asuransi makin luas kepada warga miskin tersebut dianggap hanya akan menambah utang AS.

”Kita akan makin buruk,” kata Blank yang kemarin datang ke kampanye Trump sambil membawa poster Hillary for Prison.

Dia juga menyebutkan, negaranya tidak akan bisa menjadi baik jika dipimpin Clinton. ”Dia tidak jujur. Lebih banyak berpura-pura,” cibirnya.

Blank yang kini baru berusia 16 pun menyadari dirinya juga tidak akan bisa memilih.

”Tapi, ini suara kami. Suara anak muda yang akan menentukan kelak,” katanya percaya diri. (*/c10/oki)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pesan Bu Tien: Pohon Beringin itu Jangan Sampai Mati ya


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler