Antara La Nyalla, Gerindra dan Setoran Pilkada

Jumat, 12 Januari 2018 – 09:13 WIB
La Nyalla Mahfud Mattalitti menggelar konferensi pers di Jalan Soepomo, Jakarta Selatan, Kamis (11/1). Foto: Ken Girsang/jpnn.com

jpnn.com, JAKARTA - Kesabaran mantan Ketua Umum PSSI, La Nyalla Mattalitti habis sudah. Gagal ikut Pilgub Jatim 2018, La Nyalla pun membongkar (dugaan) syarat uang yang diterapkan Partai Gerindra untuk mengeluarkan rekomendasi.

Dari pengakuan La Nyalla, pertama kali dimintai uang untuk uang saksi pada 9 Desember 2017 lalu. Namun, dirinya tak merinci uang saksi ini untuk ajang pesta demokrasi yang mana.

BACA JUGA: Koalisi Dadakan PDIP-Gerindra Ibarat Benci Tapi Rindu

”Ada saat tanggal 9 itu yang ditanyakan uang saksi. Kalau siapkan uang saksi, saya direkom tapi kalau uang saksi dari 68.000 TPS dikali Rp 200.000 per orang dikali dua berarti Rp 400.000. Itu sekitar Rp 28 miliar. Tapi, yang diminta itu Rp 48 miliar dan harus diserahkan sebelum tanggal 20 Desember 2017. Nggak sanggup saya, ini namanya saya beli rekom, saya nggak mau,” paparnya kepada wartawan di jalan Prof Dr Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (11/1).

Menurut La Nyalla, dirinya kecewa disyaratkan uang oleh partainya sendiri. Padahal, dirinya merasa telah berkorban banyak untuk partai besutan Prabowo Subianto itu.

BACA JUGA: Satria Gerindra Sebut La Nyalla Tak Bijaksana

Bahkan, permintaan uang untuk mengeluarkan rekomendasi disebut La Nyalla datang langsung dari Prabowo. Tak tanggung-tanggung, angkanya mencapai ratusan miliar rupiah. ”Prabowo sempat ngomong, 'siapkan kamu sanggup Rp 200 miliar?' 500 saya siapkan, kata saya karena di belakang saya banyak didukung pengusaha-pengusaha muslim,” tutur La Nyalla.

Buat La Nyalla, ucapan Prabowo kala itu hanyalah bercanda saja. Dia kaget ternyata syarat tersebut benar-benar diterapkan.

BACA JUGA: PT Tetap 20 Persen, Jokowi-Prabowo Head to Head Lagi

”Saya pikir main-main, ternyata ditagih betul Rp 40 miliar, saya bilang nanti. Saat itu juga saya sampaikan saya mau pasang fotonya bapak, Gerindra, cuma jangan tulis calon gubernur, tulisnya bakal calon. Saya pasang di Pacitan sampai desa foto Prabowo. Semua sudah tahu Prabowo mendukung La Nyalla,” beber La Nyalla.

Dia melanjutkan cerita, Ketua DPD Gerindra Jatim Soepriyatno disebut La Nyalla meminta Rp 170 miliar kepada dirinya. Namun, La Nyalla menolak. ”Dia minta uang Rp 170 miliar. Langsung saya sampaikan kepada Daniel (pengusaha Tubagus Daniel Hidayat, bendahara La Nyalla saat mencoba mendapatkan rekom, Red) saya lebih baik bangun masjid, saya bilang. Biar yang mengganjal ini tanggung jawab,” ujarnya.

La Nyalla menerangkan, baru sanggup memberikan uang Rp 40 miliar, seusai pencalonannya di Pilkada Jawa Timur telah terdaftar di KPU. Namun, akhirnya dirinya bersikap untuk mengembalikan surat mandat Prabowo pada 20 Desember 2017.

”Saya kembalikan surat tugas. Padahal, saya sudah siapkan Rp 300 miliar, tapi apabila sudah selesai pencalonan saya sebagai calon gubernur, baru saya taruh duit di situ. Ini belum apa-apa sudah minta duit, ya kabur kita,” imbuhnya.

La Nyalla juga menegaskan, dirinya telah memutuskan untuk tidak lagi menjadi kader Partai Gerindra. ”Ada yang tanya, 'apa saya masih mau di Gerindra?' Tidak, saya tidak akan mau lagi di Gerindra,” tandasnya.

Terpisah, politikus Partai Gerindra, Ahmad Riza Patria membantah pernyataan La Nyalla yang mengklaim dimintai mahar politik Rp 40 miliar agar dicalonkan di Pilgub Jatim. ”Nggak ada itu. Kami sudah paham aturan, enggak ada mahar-mahar,” ujarnya kepada wartawan, kemarin.

Riza menuturkan, rata-rata calon yang diusung Gerindra dalam pilkada 2018 "tidak punya uang" untuk maju. Contohnya, saat partainya mencalonkan Jokowi-Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada 2012 lalu. Menurut dia, Gerindra saat itu merogoh kocek Rp 62,5 miliar untuk mendukung pasangan Jokowi-Ahok.

Dia juga mengambil contoh beberapa calon yang diusung dalam pilkada 2018. Riza menyebutkan beberapa nama, seperti Mayor Jenderal Tentara Nasional Indonesia (Purn) Sudrajat, yang diusung di Jawa Barat, serta Panglima Komando Strategis Cadangan TNI Angkatan Darat Letnan Jenderal, Edy Rahmayadi. Keduanya diajukan Gerindra tanpa mahar politik tertentu. Malahan, kedua orang itu 'tidak punya uang' saat dicalonkan Gerindra. ”Tanya mereka (Sudrajat dan Edy, Red), ada uang (untuk maju, Red) nggak? Nggak ada,” ucap Wakil Ketua Komisi II DPR RI itu.

Waketum Partai Gerindra, Ferry Juliantono menuturkan, Prabowo sangat menghormati La Nyalla dan tahu persis perjuangan beliau, namun kondisinya memang harus diputuskan bersama dengan partai lain dan bukan karena uang.

Dia menegaskan, tak ada pemerasan yang dilakukan Gerindra kepada bakal calon di pilkada, termasuk La Nyalla. ”Apalagi pemerasan, ya nggak lah. Saya tahu persis Pak La Nyalla orang yang sangat menghormati Pak Prabowo dan begitu juga sebaliknya,” ujarnya. (aen/indopos)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Oknum Gerindra Berinisial F Peras La Nyalla, Ada 13 Bukti


Redaktur & Reporter : Adek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler