Apa dan Siapa di Koin Rp 500?

Jumat, 30 Desember 2016 – 01:03 WIB
Tahi Bonar Simatupang, lebih familiar disebut T.B. Simatupang (depan kanan). Foto: Public Domain.

jpnn.com - TAHI Bonar Simatupang, pria yang wajahnya ada di koinan Rp 500 baru, acapkali bersiteru dengan guru sejarahnya. Perseteruan yang membawanya jadi pemikir militer. 

Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network

BACA JUGA: Hari ini 1949

Semua buku yang ditulisnya, T.B. Simatupang nyaris tak alfa mengisahkan lakon Meneer Haantjes, guru sejarahnya di Algemeene Middelbare School (AMS), Batavia--sekolah setara SMA yang dulu berlokasi di Salemba. 

Lelaki kelahiran Sidikalang, Sumatera Utara, 28 Januari 1920 tersebut masuk AMS pada 1937, setelah sebelumnya sekolah di HIS Pematang Siantar (lulus 1934) dan MULO Tarutung (lulus 1937). 

BACA JUGA: Oiya...Bung Karno pernah jadi Perancang Busana?

Masa-masa itu perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia sedang menggeliat. 

Meneer Hantjes cukup atraktif menganalisa perkembangan masyarakat Indonesia yang pada masa itu masih bernama Hindia Belanda.

BACA JUGA: Sebelum ini Tak Ada Perayaan Natal

Kepada para murid dia kerap menyampaikan bahwa penduduk Hindia Belanda terdiri dari bermacam suku-suku. Antara suku satu dengan suku lainnya terdepat perbedaan cukup besar. Maka, mustahil bersatu mencapai kemerdekaan.  

Simatupang bukan generasi beo, yang A kata orang, dia ikut bilang A. Guru itu didebatnya. 

"Saya," tulis T.B. Simatupang dalam buku Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos, "teringat kepada perdebatan-perdebatan yang sering saya alami selama pelajaran-pelajaran sejarah di Christelijke AMS di Salemba. Guru Sejarah Meneer Haantjes…"

Tidak hanya itu. Meneer Hantjes juga mengatakan, bahwa penduduk Hindia Belanda tidak mungkin membangun tentara yang modern untuk mengalahkan Belanda. Sebab, secara fisik tidak memungkinkan menjadi tentara yang baik.

"… soldiers that could form a strong and modern army to defea the Dutch. I argued emotionally that, in this way, Meneer Haantjes was participating in spreading the myth," tulis T.B. Simatupang dalam buku The Fallacy of a Myth

Karena mendebat Meneer Hanntjes, dia pernah diusir dari kelas. Bahkan mendapat teguran dari Direktur AMS, Meneer de Haan, "upayakan tidak menyakiti hati orang lain dalam mengemukakan pendapat."

Tentara "Balik Meja"

"Dendam" itu membawanya jadi tentara. Lulus dari AMS pada 1940, ia masuk Koninklijke Militaire Academi (KMA), pendidikan untuk anggota Koninklijk Nederlands Indische Leger (KNIL) di Bandung.  

Seiring kedatangan Jepang pada 1942, sekolah milter ala Belanda itu pun tutup. Simatupang keluar dari KMA sebagai perwira muda--seletingan dengan Urip Sumohardjo, A.H. Nasution dan Alex Kawilarang. 

Pendek kisah, setelah proklamasi 17 Agustus 1945, Pak Sim--demikian dia biasa disapa--bergabung dengan Tentara Republik Indonesia dengan pangkat Kapten. 

Membuktikan bahwa ucapan Meneer Haantjes keliru, ia berjibaku merapikan organisasi angkatan perang Republik Indonesia yang masih seumur jagung. 

Inilah yang membuatnya selalu "di balik meja", tempat bertanya bila ada masalah. Kemampuan ini, kabarnya berkat hobinya membaca buku-buku strategi perang sejak muda. 

Pak Sim memang tidak memainkan lakon sebagai tentara tempur. Tapi, berkat kemampuan mengatur irama organisasi ia dipercaya menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Perang. Jabatan yang diembannya sepanjang 1948-1949. Dan ikut berangkat menghadiri Konferensi Meja Bundar (KMB) ke Den Haag, Belanda.

Sepeninggal Jenderal Soedirman, Pak Sim diangkat menjadi Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) Republik Indonesia. Pangkatnya naik jadi Mayor Jenderal. 

Pada 1953, KSAP dibubarkan Presiden Soekarno. Dan "tentara balik meja" itu pun berkarir sebagai--meminjam istilah yang dilontarkan T.B. Simatupang sendiri--, penasehat Menteri Pertahanan yang tidak pernah diminta nasehat.

"Saya sebagai penasehat tidak ada pekerjaan apa-apa, lantas saya banyak menulis, banyak di antara buku saya ditulis waktu itu," sambung perwira yang pensiun pada 1959.

Tiga Karl

Dua tahun sebelum Konferensi Internasional tentang Gereja, Dunia dan Masyarakat tahun 1966, ia didatangi Paul Abrecht, aktivis Gereja dan penulis buku kenamaan.

"Apa pekerjaan Anda?" tanya Paul, tulis T.B. Simatupang dalam buku yang diberinya judul Percakapan dengan Dr. T.B. Simatupang.

"Saya bilang, saya mempelajari tiga Karl: Karl Marx, Carl von Clausewitz dan Karl Barth. Lantas dia terkejut," kenang Pak Sim.

Carl von Clausewitz seorang ahli strategi kemiliteran; Karl Barth teolog Protestan abad ke-20; Karl Marx ideolog komunis. 

"Kalau begitu," sahut Paul, "Anda harus ikut mempersiapkan konferensi dunia Gereja dan Masyarakat. Karena ini kita perlukan."

Ya, setelah pensiun dari ketentaraan, suami Sumarti Budiardjo (adik Ali Budiardjo--kawan seperjuangan Pak Sim--tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang menduduki jabatan tertinggi PT Freeport) banyak menulis dan aktif dalam urusan keagamaan. 

Untuk mengenang jasanya, nama T.B. Simatupang diabadikan jadi nama jalan dan wajahnya diukir dalam koinan Rp500 yang baru saja diluncurkan Bank Indonesia. 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Rupanya, Pahlawan di Koin Rp200 itu Dokter Pemberontak


Redaktur & Reporter : Wenri

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler