Apa yang Terjadi di Bulan Puasa 1944?

Rabu, 14 Juni 2017 – 15:02 WIB
Buya Hamka dan Bung Karno berdiri. Di tengah Abdul Karim Oei. Ketiga mengangkat saudara sewaktu di Sumatera. Foto: Public Domain.

jpnn.com - RUPANYA, Jepang menjanjikan kemerdekaan Indonesia pada bulan puasa 1944. Buya Hamka punya cerita...

Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network

BACA JUGA: Wallahu Alam…Seluruh Kitab Suci Turun Pada Bulan Ramadhan

Buya Hamka baru saja pulang shalat taraweh, ketika rumahnya di Kampung Jati, Jl. Teratai 16 Medan kedatangan tamu.

"Dua orang wartawan, yaitu Yahya Ya'kub dan Hadely Hasibuan, sebagai wakil Domei," kenang Hamka dalam memoarnya Kenang2-an Hidup.

BACA JUGA: Beginilah Penilaian Tokoh Muhammadiyah pada Keislaman Bung Karno

Tamu itu dipersilahkan duduk. Di lantai beralaskan tikar usang. Tak ada kursi di rumah petakan kecil itu. Tak ada jamuan. Karena memang tak ada yang bisa dihidangkan.

Dua wartawan itu membawa kabar gembira. Jepang menjanjikan kemerdekaan bagi Indonesia.

BACA JUGA: Indonesia Punya Gitaris Unik Era 1960-an, ini Orangnya...

Alkisah…memasuki 1944 serangan bertubi-tubi pasukan Sekutu memojokkan bala tentara Jepang di gelanggang perang dunia kedua. Matahari Dai Nipon sudah condong turun. Bunga Sakura berguguran.

Kabinet Tojo jatuh. Digantikan Kabinet Koiso. Pada tanggal 7 September 1944, rezim Koiso menerbitkan maklumat; janji kemerdekaan Indonesia di masa depan.

"Kata-kata di masa depan, meski pun hanya karet, yang boleh ditarik dan diulur, bukan sedikit pengaruhnya atas jiwa pemimpin-pemimpin Indonesia yang telah sangat ingin mengecap kemerdekaan tanah air," tulis Hamka.

Dua wartawan itu pun mewawancarai Hamka, meminta komentarnya sebagai tokoh pemuda, penganjur Muhammadiyah tentang janji tersebut.

Sebelum menumpahkan perasaannya, sebelum membalas pertanyaan wartawan, Hamka masuk ke dalam kamar.

Beberapa saat dia bersujud. Sujud sukur. Air matanya pun menggelanggang karena terharu.

Baginya, janji kemerdekaan sangat menggembirakan dan mengharukan hati. Belum pernah bangsa Belanda memberi janji sedemikian itu.

Sejurus kemudian, Hamka kembali menemui dua tamunya. "Lalu kawan itu bertanya: Bagaimana fikiran tuan menerima khabar itu?" tulis Hamka.

"Sekarang," sahut Hamka, "barulah ada harganya perjuangan kita membantu Jepang selama ini. Dua tahun! Biar bagaimana sengsara buat zaman depan kemerdekaan pasti cepat datangnya. Kemerdekaan adalah tujuan hidup saya."

Umumnya, bagi para pejuang kemerdekaan, janji itu adalah obat penawar yang paling mujarab, atas tenaga yang telah ditumpahkan selama ini. Kemerdekaan Indonesia, artinya ialah mempunyai bendera sendiri, mempunyai kepala negara sendiri, mempunya tanah air.

***

Masih bulan puasa 1944. Buya Hamka membaca majalah Djawa Baroe. Dari majalah itu dia mengetahui, Soekarno saudara angkatnya sedang berada di Banten ketika mendapat kabar tentang janji kemerdekaan.

"Dia (Bung Karno--red) dipanggil pulang ke Jakarta buat disampaikan kepadanya perkabaran resmi itu oleh Somubutyo. Dalam majalah Djawa Baroe kelihatan gambarnya menangis lantaran terharu menerima kabar itu," tulis Hamka.

Berselang hari, sebagaimana dikisahkan Buya Hamka, "puasa pun habis. Datang 1 Syawal. Hari Raya Idil Fitri. Hari raya ini diambil orang kesempatan buat menyatakan perasaan hati menerima khabar gembira itu."

Di Medan, sambung Hamka, diadakan upacara di tanah lapang Hukuraido. Mensukuri janji kemerdakaan. Dengan resmi Tyokan memberi izin orang menaikkan bendera Merah Putih di tiang tinggi.

"Ketika bendera itu naik bergelong-gelong ke udara, laksana ular naga, diiringkan oleh bunyi musik Indonesia Raya, di bawah pimpinan seorang dirigent yang ahli, Hamka San kembali terharu. Dia menangis lagi!"

Seorang juru potret lekas-lekas menembakkan kamera ke wajahnya. Mengambil tangis Hamka. Untuk alat propaganda.

Haru biru pun selesai. Jepang, melalui Bunkaka meminta Hamka turut serta dalam rombongan menyiarkan kabar itu keliling Sumatera Timur.

Medan, Tebing Tinggi, Pematang Siantar, Brastagi, Kabanjahe, Kisaran, Tanjung Balai, Binjai, Pangkalan Brandan.

"Walaupun tidak dengan rombongan pemerintah, berita janji kemerdekaan itu akan saya siarkan juga kepada rakyat. Apalagi dengan rombongan pemerintah," demikian Hamka.

Dalam rombongan itu, ikut juga Adinegoro--kemudian hari jadi tokoh pers Indonesia.

Rupanya, tak semua suka dengan kabar itu. Menurut Hamka, "yang sangat dingin penerimaannya di kalangan bangsa Indonesia, ialah golongan sultan2 dan raja2."

Bagi golongan itu, kabar itu tak ada pengaruh sama sekali. Mereka merasa telah merdeka sedari dulu. Terjadi pertentangan. Sesama anak negeri. "Janji kemerdekaan rupanya bukanlah membawa nikmat. Tetapi membawa bala," kata Hamka.

Tiba-tiba…Buya Hamka menerima kawat dari Bung Karno di Jakarta. Isinya:

Saudara Hamka Medan. Sudikah saudara pindah ke Jakarta? Bekerja di pusat pejabat Hokokai. Lekas Jawab.

Soekarno

Rupanya, Haji Rasul ayah Hamka yang pada masa itu tinggal di Jakarta, juga menginginkan anaknya pindah ke Jakarta.

"Keinginan itu pernah pula disampaikannya (Haji Rasul--red) kepada Bung Karno, yang telah beliau angkat sebagai anaknya itu," tutur Hamka.

Apa boleh buat. Masa-masa itu situasi terlalu cepat berubah. Bulan puasa 1945, Jepang kalah perang. Indonesia menjadi negara pertama yang merdeka paska perang dunia kedua.

Dan Hamka, selaku tokoh muda Muhammadiyah, pada masa perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia (1945-1949), dipilih menjadi panglima Front Pertahanan Nasional (FPN)--satuan tempur Republik Indonesia yang berpusat di Padang.

Rapat pembentukan FPN pun ternyata digelar pada bulan puasa 1947. Ramadhan 1368.

"Malam agak panjang," tulis Hamka dalam memoarnya, "yang memimpin rapat malam itu Haji Datuak Batuah dari Partai Komunis Indonesia, PKI." (wow/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Inilah Penampil Pertama dalam Sejarah TVRI


Redaktur & Reporter : Wenri

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler