Aplikasi Fox Logger, Ungkap Perselingkuhan Suami

Minggu, 28 Februari 2016 – 07:20 WIB
KREATIF: Alamsyah Cheung (kanan) dan Darren Suciono. Mereka berharap bisa mengembangkan Fox Logger ke segenap penjuru Indonesia. Foto: Ilham Wancoko/Jawa Pos

jpnn.com - ALAMSYAH Cheung dan Darren Suciono mengembangkan aplikasi yang bisa membantu Pemprov DKI memantau perjalanan seribu truk sampah. Namun, ada juga konsumen juga memakainya untuk mengungkap perselingkuhan. 

ILHAM WANCOKO, Jakarta

BACA JUGA: Di Depan Kapolda Warga Teriak: Mati Anak-Istri Saya kalau Bohong

Begitu telepon diangkat, dari seberang sana langsung terdengar suara seorang perempuan menangis. Cukup lama. Tanpa sedetik pun menceritakan apa yang menjadi penyebab air matanya terurai. 

”Tentu kami kebingungan ada apa ini,” ujar Alamsyah Cheung mengenang kejadian pada akhir tahun lalu itu. 

BACA JUGA: Kisah Polisi Hebat, Menyekolahkan Kembali Ratusan Anak

Ketika itu Fox Logger, aplikasi yang dia bidani kelahirannya bersama Darren Suciono, telah beberapa bulan dipasarkan. Si perempuan yang menelepon call center Fox Logger tadi ternyata salah seorang pemakainya.  

Setelah agak tenang, baru perempuan tersebut bercerita, berkat Fox Logger yang dipasang di mobil suaminya, dirinya jadi tahu belahan hatinya itu ternyata kerap parkir di sebuah hotel di Jakarta Pusat. Padahal, saat pamit, dia bilang ke kantor. 

BACA JUGA: Kantong Plastik Berbayar, Uang Rp 200 Milik Siapa?

”Akhirnya si ibu ini malah curhat ke call center. Sampai minta untuk (suaminya) bisa digerebek di hotel dan sebagainya he he he,” ucap Alamsyah yang didampingi Darren.

Fox Logger memang aplikasi yang bisa melihat data sebuah kendaraan telah menjelajah ke mana saja beserta jaraknya. Dengan mengetahui rute perjalanan, perilaku pengendara pun bisa diketahui. Ada juga fitur penghitung konsumsi bahan bakar. ”Kami berusaha membuat segala sesuatunya menjadi terukur,” kata Darren. 

Pemprov DKI Jakarta termasuk salah satu pengguna aplikasi tersebut. Fox Logger dilirik untuk mengawasi truk-truk pengangkut sampah. ”Pemprov mengetahui Fox Logger dari proposal yang kami kirimkan,” ujar Alamsyah. 

Berliku jalan yang harus ditempuh Alamsyah, seorang penjual alat global positioning system (GPS), dan Darren yang berkecimpung di dunia online marketing untuk sampai ke titik sekarang ini. Titik ketika aplikasi mereka kian luas digunakan. Bahkan mendapat kepercayaan dari pemerintah Jakarta. 

Berawal dari diskusi ringan pada Mei 2015, dua sahabat itu akhirnya sepakat membuat aplikasi GPS. Ide dasarnya ingin memadukan GPS dengan smartphone. ”Kami ini seperti menggabungkan kemampuan offline dan online,” kata Alamsyah.

Namun bukan seperti peta biasa di telepon genggam. Tapi dikembangkan lebih jauh hingga mampu mengefisienkan kendaraan. Setelah diskusi panjang lebar, akhirnya dibuatlah fitur merekam jalur tempuh kendaraan, jarak tempuh, dan konsumsi bahan bakar. ”Kalau hanya memindahkan GPS ke handphone, sama saja dengan yang lainnya,” ujar dia.

Tapi, baru akan mulai melangkah, Alamsyah mendapatkan hambatan besar. Usaha jual beli GPS miliknya terkena musibah. Rekan seprofesi menipunya habis-habisan. 

Padahal, Alamsyah semula merencanakan ingin menambah tabungan dan modal dari jual beli GPS itu. ”Bisa dibilang, saat itu saya bangkrut. Tapi, dengan modal sekecil apa pun dan kekurangan seperti apa pun, rencana ini harus terwujud,” tegasnya.

Akhirnya Alamsyah dan Darren mencoba mengumpulkan teman-teman mereka dengan beragam latar belakang. Ada yang ahli soal desain; ada pula yang pakar teknologi informasi. Keduanya mencoba merayu mereka untuk ikut membantu mewujudkan aplikasi tersebut.

Namun, dari perbincangan dengan rekan-rekan mereka itu, keduanya sadar, membuat software khusus aplikasi memang butuh ahlinya. Sampailah mereka pada dua pilihan: membeli software dari Tiongkok atau membuat software sendiri.

Pilihan yang tak mudah. Sebab, kalau membeli software dari Tiongkok, selain mahal, juga sudah pasaran. Lagi pula, software impor tersebut juga software yang tidak lagi bisa dikembangkan. Karena itu, mereka memutuskan mengambil opsi kedua. ”Tantangannya, kami harus menemukan seseorang yang bisa membuat software aplikasi,” ungkapnya. 

Darren lantas teringat pada seorang temannya yang lain. Si teman itu sarjana teknologi informasi. ”Setelah saya rayu, akhirnya kami dibuatkan software dengan harga yang pas dan tidak mahal. Apalagi, software ini juga software development atau bisa dikembangkan,” papar Darren. 

Aplikasi berbasis GPS impian mereka itu akhirnya selesai pada Juli 2015. Dinamai Fox Logger, aplikasi tersebut membutuhkan alat GPS, kartu telepon khusus, dan sebuah smartphone untuk menjalankan sistem. 

”Alat GPS itu untuk membantu mendeteksi kendaraan. Sedangkan kartu khusus ini agar terkoneksi dengan internet supaya bisa dilihat ke handphone,” terang Darren. 

Keuntungan memiliki software yang masih bisa dikembangkan terbukti saat mereka berdiskusi dengan perwakilan Pemprov DKI. Keinginan pemprov begitu spesifik. Salah satunya, ingin mendeteksi sebuah truk sampah yang keluar dari jalur. ”Fitur semacam itu belum ada dalam aplikasi tersebut,” kata Alamsyah, lelaki kelahiran 8 Desember 1987 itu. 

Fitur permintaan itu pun dikembangkan. Untuk truk sampah yang keluar jalur, dibuat berwarna merah secara otomatis. Juga, dilengkapi alarm via e-mail. ”Setelah beberapa kali penyempurnaan, kami pun resmi bekerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta,” jelasnya. 

Seribu truk sampah di Jakarta akhirnya bisa dipantau melalui Fox Logger. Tiap kali ada truk yang diketahui keluar jalur, segera saja pengendaranya diingatkan untuk kembali ke jalur semula. Dengan begitu, anggaran untuk truk-truk sampah tersebut bisa lebih ditekan. ”Kami bangga juga bisa membantu warga Jakarta,” ujarnya.

Di luar instansi, pengguna perseorangan yang merasakan manfaat Fox Logger juga banyak. Misalnya para orang tua yang memasang aplikasi itu di kendaraan anak mereka. Jadi, gerak si buah hati bisa dipantau.

Tapi, yang seperti si ibu yang menangis di call center tadi juga tak sedikit. Fox Logger membantu mereka memantau ”kiprah” sang suami di luar sana. Sebagian di antaranya bahkan terus terang bercerita telah bercerai sesudah mengetahui bahwa suaminya berselingkuh. ”Terus terang kami tidak menyangka kalau aplikasi ini dikembangkan penggunaannya sampai sejauh itu oleh konsumen,” ucap Alamsyah. 

Bersama Darren, Alamsyah berharap Fox Logger bisa terus berkembang. Karena itu, mereka kini tengah mencari partner. Sempat ada seorang investor dari Hongkong yang ingin membantu. Tapi, Alamsyah dan Darren menolaknya. ”Kami ingin mengembangkan aplikasi ini hingga ke seluruh penjuru Indonesia,” ujar Darren. (*/c9/ttg)
 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Keren! Warga Bayar Rekening Listrik, PBB, PDAM, dari Hasil Sampah


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler