Awal Mula hingga Jadi Polemik Bisnis Tes PCR, Luhut Binsar Ternyata

Senin, 08 November 2021 – 16:24 WIB
Septian Hario Seto angkat bicara soal polemik bisnis alat tes PCR yang menyeret nama Luhut Binsar Pandjaitan. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Septian Hario Seto angkat bicara soal polemik bisnis alat tes PCR yang menyeret nama Luhut Binsar Pandjaitan.

Adapun dua perusahaan, yakni, PT Toba Sejahtera dan PT Toba Bumi Energi yang terafiliasi dengan Luhut Binsar memiliki saham di PT Genomik Solidaritas Indonesia (GSI).

BACA JUGA: Geger Bisnis Tes PCR, Anak Buah Ungkap Kronologis Keterlibatan Luhut Binsar

GSI sendiri merupakan perusahaan yang mendirikan dan mengelola laboratorium untuk tes Covid-19.

Saat polemik tersebut heboh dan menjadi sorotan, Seto mengatakan Luhut ternyata sempat lupa memiliki saham PT GSI.

BACA JUGA: Pengamat: Kemenkes Sudah Terbuka, Polemik Harga PCR Belum Tentu Bisnis

"Beliau sempat tanya ke saya, 'memangnya Toba Sejahtera punya saham di GSI, To?'. Beliau tidak ingat rupanya. Saya menjelaskan kronologis yang saya ingat waktu itu," kata Seto saat dikonfirmasi JPNN.com, Senin (8/11).

Seto menjelaskan PT GSI sendiri dibangun dengan semangat solidaritas untuk membantu penanganan pandemi Covid-19.

BACA JUGA: Erick Thohir punya Jargon Akhlak, Tetapi Diduga Ikut Bisnis PCR?

"Sifatnya lebih social entrepreneurship. Jadi, keuntungan yang diperoleh GSI digunakan kembali untuk tujuan sosial, seperti, memberikan tes PCR gratis untuk yang tidak mampu, nakes, ataupun orang-orang yang di Wisma Atlet," ujar Seto.

Seto menambahkan bahwa Luhut Binsar tidak pernah berniat mencari keuntungan dalam bisnis yang dijalankan GSI.

Di dalam perjanjian pemegang saham GSI, ada ketentuan bahwa 51 persen dari keuntungan harus digunakan kembali untuk tujuan sosial. Oleh karena itu, sampai detik ini tidak ada pembagian keuntungan seperti dividen kepada pemegang saham," ujar Seto.

"Hasil laba yang lain digunakan untuk melakukan reinvestasi terhadap peralatan atau kelengkapan lab yang lain," sambung Seto. (cr1/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur : Elvi Robia
Reporter : Dean Pahrevi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler