Bambang Brodjonegoro Apresiasi Kolaborasi ITB dan Pertamina

Kamis, 10 September 2020 – 13:10 WIB
Menristek/Kepala BRIN Bambang Brodjonegoro saat webinar. Foto: humas Kemenristek/BRIN

jpnn.com, JAKARTA - Menteri Riset dan Teknologi (Kemenristek)/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro memberikan apresiasi terhadap kolaborasi ITB dan Pertamina dalam mengembangkan inovasi bahan bakar biofuel yang berbahan minyak sawit.

Keberhasilan Pertamina dan ITB menguji coba produksi green diesel D100 dari Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) kelapa sawit berkapasitas 1.000 barel perhari di Kilang Pertamina Dumai telah memberi secercah harapan akan bangkitnya kemandirian energi terbarukan di Indonesia. 

BACA JUGA: Inilah Contoh Keberhasilan Program SII Kemenristek BRIN

Dirediksi bahan bakar nabati berbasis sawit akan menjadikan perekonomian Indonesia bergerak lebih cepat untuk pemulihan ekonomi mengingat sektor energi memiliki peranan penting dan strategis bagi perekonomian nasional.

"Indonesia harus melepaskan diri dari ketergantungan bahan bakar fosil dan beralih pada bahan bakar terbarukan. Kita perlu meningkatkan kapasitas bahan bakar terbarukan dalam energi campuran sekitar 23% di tahun 2025 dan harapannya dapat mencapai 31% pada 2050,” ujar Bambang Brodjonegoro saat memberikan sambutan dalam Webinar The Development of Biofuels Indonesia - Brazil, Rabu (9/9) malam.

BACA JUGA: Bambang Brodjonegoro Lebih Baik dari Ahok, Anas dan Tumiyana?

Dia melanjutkan, bahan bakar nabati berbasis sawit diprediksi akan menjadikan perekonomian Indonesia bergerak lebih cepat dan bisa meminimalisir dampak perlambatan ekonomi yang kini mulai melanda banyak negara di dunia. 

Konsumsi bahan bakar dalam negeri mencapai 1.790.000 barrel perhari. Namun kini Pertamina dan ITB telah berhasil memproduksi green diesel D100 dari 100% Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) yang di-cracking menggunakan katalis merah putih hasil pengembangan ITB dan Pertamina dengan kelapa sawit berkapasitas 1.000 barel perhari.

BACA JUGA: Anies Baswedan: Kegiatan Usaha Jalan Terus, Kegiatan Kantor Jalan Terus, tetapi...

Dengan demikian dapat membantu kebutuhan bahan bakar fosil dalam negeri yang sangat tinggi.

“Bahan bakar minyak sawit merupakan komoditas sumber daya alam terbarukan di Indonesia yang jumlahnya berlimpah. Biofuel juga memberi peluang terhadap pemberdayaan petani sawit rakyat dalam industri bahan baku biohidrocarbon, sehingga akan meningkatkan kesejahteraan hidup mereka,” paparnya.

Penggunaan bahan bakar green diesel D100 pada kendaraan tidak akan menurunkan kinerja mesin atau menuntut dilakukan modifikasi tertentu pada mesin sebagaimana yang terjadi pada kendaraan yang menggunakan bahan bakar biodiesel B30 yang berbasis Fatty Acid Methyl Ester (FAME).

Pada kesempatan sama Plt. Deputi Bidang Penguatan Inovasi Kemenristek/BRIN Jumain Appe menyampaikan, kolaborasi Indonesia dan Brasil dalam webinar ini bertujuan untuk mengetahui cara Brasil mengimplementasikan kebijakan pemanfaatan bahan bakar nabati berbasis tebu.

Brasil akan menyajikan teknologi yang digunakan dalam memproduksi bahan bakar nabati.

“Kita belajar bagaimana cara Brasil membuat kebijakan penentuan harga tebu dan gula. Dengan demikian Indonesia dapat tips membuat regulasi dalam penentuan harga sawit dan minyak sawit. Setelah industri bahan bakar nabati sudah stabil, Brasil pun bersedia membeli bahan bakar milik kita,” tutur Jumain. (esy/jpnn)

 

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler