Bangkit Begitu Bertemu Duda Beranak Tiga

Sabtu, 20 September 2014 – 00:25 WIB
BAHAGIA: Sulastri (kiri) bersama dua anaknya, Syifa Puan Nouri, 8, dan Syamil Aulia Rahman, 6, berfoto dengan Rekaveny, istri Wakil Gubernur Kepri Soerya Respationo. Foto: Ariski Prasetyo/Jawa Pos

jpnn.com - MASYARAKAT Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) mungkin tidak akan pernah lupa kejadian sepuluh tahun lalu, tepatnya 26 Desember 2004. Hari itu bumi Serambi Makkah luluh lantak oleh gempa yang disertai tsunami hebat.

---------------

BACA JUGA: Jaga Tradisi dan Tak Hilangkan Budaya Nenek Moyang

Laporan Ariski Prasetyo, Batam

--------------

BACA JUGA: Praktis, Ridwan Tak Perlu Lagi Digendong Masuk Mobil

Sedikitnya 173.741 orang tewas dan ratusan ribu lainnya kehilangan tempat tinggal. Tidak sedikit yang akhirnya harus hidup sebatang kara karena anggota keluarganya menjadi korban keganasan tsunami.

Nah, salah seorang yang kehilangan seluruh keluarganya itu adalah Sulastri. Selain suami dan tiga anak, Sulastri kehilangan orang tua, saudara, dan keponakan-keponakan yang total berjumlah 15 orang.

BACA JUGA: Babah Bikes, Sepeda Custom yang Sudah Merambah Mancanegara

Sulastri selamat dari maut karena saat itu bertugas sebagai dokter pendamping haji dari NAD. Dia pun hidup sebatang kara begitu pulang dari Tanah Suci.

’’Kejadian itu sangat menyedihkan. Saya kehilangan suami, anak-anak, serta keluarga saya,’’ ujar Sulastri ketika ditemui di Pusat Informasasi Haji (PIH) Kota Batam Minggu (14/9).

Awalnya Sulastri seperti sudah melupakan tragedi sepuluh tahun silam tersebut. Namun, begitu teringat suami dan anak-anaknya yang ikut menjadi korban, perempuan 45 tahun itu tak bisa menahan haru. Air matanya menetes.

’’Mereka orang-orang terkasih. Saya sangat kehilangan,’’ tuturnya.

Sulastri mengatakan, tidak ada firasat apa-apa menjelang dirinya berangkat ke Tanah Suci. Dia meninggalkan Aceh pada 20 Desember 2004, enam hari sebelum tsunami terjadi, dan pulang ke tanah air pada 30 Januari 2005. Sebulan lebih dia bertugas mendampingi para jamaah haji asal daerahnya.

Pada hari H tsunami, 26 Desember 2004, Sulastri masih sempat mengontak suaminya, Mukhtaruddin, setelah salat malam di Masjid Nabawi, Madinah.

Saat itu di Madinah pukul 03.00, sedangkan di Aceh pukul 07.00, sekitar sejam sebelum gempa berkekuatan 8,9 skala Richter yang disertai gelombang besar terjadi.

Kontak melalui pesan pendek (SMS) itu masih dijawab Mukhtaruddin. ”Mas Tar (panggilan Mukhtaruddin) menceritakan bahwa pagi itu dia bersama tiga anak kami habis menjalankan salat Subuh bersama. Dia juga berpesan bahwa menjadi dokter pendamping haji harus ikhlas,’’ jelasnya.

Ternyata SMS itu menjadi pesan terakhir Sulastri kepada suaminya. Sebab, pada pukul 07.58 gempa dan tsunami menerjang Aceh. Sejak itu Sulastri tak lagi bisa mengontak suaminya.

Sulastri sudah waswas ketika melihat berita di TV Arab Saudi bersama jamaah asal Aceh. Mereka panik.

’’Mereka bilang ada gempa dan gelombang setinggi pohon kelapa di Aceh. Namun, berita itu tidak ada gambarnya di TV. Yang ditampilkan tsunami dan gempa di Thailand,’’ jelasnya.

Hari berikutnya, hati Sulastri tambah cemas. Untuk memastikan keadaan, perempuan yang gemar membaca itu pun menghubungi kakak kandungnya di Medan. Ketika dihubungi, saudara perempuannya tersebut mengabarkan bahwa orang tua mereka sudah tiada.

Lastri sempat kaget. Dia lalu menanyakan kabar suami dan tiga anaknya. Untuk menenangkan hati Sulastri, saudaranya itu mengatakan bahwa keluarganya sudah ditemukan. Namun, masih dirawat di rumah sakit.

”Suami saya katanya kepalanya luka sehingga harus dirawat di rumah sakit,” ujarnya.

Mendengar kabar tersebut, Sulastri agak tenang. Namun, pada hari-hari berikutnya, setiap kali menanyakan kondisi suami dan anak-anaknya, kakak Sulastri selalu menghibur bahwa kondisi mereka baik-baik saja.

Sampai akhirnya Sulastri pulang ke tanah air pada 30 Januari 2005.

’’Ketika sampai di Asrama Haji Aceh, kakak pingsan ketika melihat saya. Saya juga diberi tahu bahwa suami saya sudah meninggal dan ketiga anak saya belum ditemukan,’’ terangnya.

Sulastri shock mendengar kabar itu. Dia lalu meminta keluarganya untuk mengantarkan ke rumahnya di Kajhu Indah, Banda Aceh. Tapi, yang dilihat adalah rumahnya sudah rata dengan tanah. Yang tersisa hanya bak kamar mandi yang airnya masih keluar dari keran.

’’Saya langsung wudu dan salat dua rakaat di tempat itu. Saya doakan keluarga saya diterima di sisi Tuhan,’’ ujarnya. Air matanya kembali berlinang.

Seusai kejadian itu, hari-hari Sulastri seperti hampa. Dia selalu murung. Dia sempat ingin kembali ke Makkah. Dia berniat menyerahkan seluruh jiwa dan raganya kepada Tuhan. Sebab, dia sudah merasa di Aceh tidak mempunyai siapa-siapa lagi. Namun, langkah tersebut bisa dicegah oleh keluarganya.

’’Saudara saya bilang jika ingin mengabdi ke Tuhan, tidak perlu ke Arab. Di kampung pun bisa,” tuturnya.

Untuk mengubur rasa sepi, Sulastri memutuskan untuk mengambil program pascasarjana di Universitas Sumatera Utara (USU). Dia masuk jurusan ilmu kesehatan anak fakultas kedokteran. Sulastri berniat untuk menyibukkan diri, melupakan semua yang pernah dialami.

Kisah nahas Sulastri tersebut pernah ditulis Jawa Pos edisi 1 Februari 2005. Ketika itu dia masih berjuang mencari anak-anaknya yang hilang karena terseret badai tsunami.

Bukan hanya kisahnya yang diceritakan, Jawa Pos juga melampirkan nomor handphone kakak Sulastri. Harapannya, kalau ada orang yang tahu keberadaan anak-anak Sulastri, nomor itu bisa dihubungi.

Alhasil, ’’pengumuman’’ di surat kabar tersebut membuat HP kakak Sulastri kebanjiran pesan pendek. Total ada 350 pesan singkat yang masuk. Banyak yang iba dengan nasib Sulastri. Namun, ada juga yang ingin meminangnya menjadi istri. Nah, berawal dari situlah hidup Sulastri berubah.

’’Dari 350 SMS itu, ada 15 pesan yang ingin meminang saya menjadi istri mereka,’’ kenang Sulastri.

Orang yang bermaksud menikahi Sulastri berasal dari berbagai usia dan daerah. Mulai anak muda asal Gorontalo sampai lansia 65 tahun dari Jawa Tengah. Bahkan, saking ibanya, sang kakek sempat mengirim surat cinta kepada Sulastri.

”Bunyinya lucu. Dia menuliskan dengan bahasa Jawa. Dia bilang panjenengan (kamu) harus sabar menjalani hidup,” ujar Sulastri sambil tersenyum.

Namun, pikiran Sulastri saat itu tidak sedang mencari jodoh. Dia tidak menghiraukan sama sekali SMS dari pria yang iba atas nasibnya tersebut. Dia takut orang yang mengirim SMS itu hanya main-main. Dia tidak membalas satu pun pesan tersebut.

Meski begitu, ada satu orang yang tetap keukeuh. Namanya Syafri Salisman. Dia duda beranak tiga. Menurut Sulastri, hampir setiap hari Syafri selalu mengirim pesan ke dia.

Awalnya pesan singkat itu berisi motivasi dan semangat. Sulastri pun membalasnya. Merasa mendapatkan angin segar, Syafri terus mengintensifkan komunikasinya dengan Sulastri.

”Dia sering nanya sudah makan belum. Sudah salat belum. Ya, kayak pacaran gitu,” cerita perempuan yang kini tinggal bersama keluarga barunya di Jalan Sidorejo, Bukit Bestari, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, tersebut.

Tak hanya itu, Syafri juga berani menghadap kakak Sulastri bersama kedua orang tuanya. Dia ingin segera melamar Sulastri. Tapi, lamaran tidak langsung diterima. Sebab, Sulastri bersikukuh menunggu masa idahnya selesai.

Tepat setelah empat bulan sepuluh hari masa idah selesai, Syafri langsung mengajak Sulastri menikah. Tanpa penolakan, ajakan itu diterima Sulastri. Kepala Kesbangpolinmas Provinsi Kepulauan Riau itu mempersunting Sulastri pada 5 Juni 2005. Sejak saat itu, Sulastri diboyong Syafri ke Pangkalpinang, Kepri.

Menurut Sulastri, banyak kesamaan antara almarhum suaminya dan Syafri. Keduanya dinilai sabar, taat pada agama, dan baik. Selain itu, pria berusia 56 tahun tersebut mempunyai tiga anak. Sama dengan anak Sulastri yang meninggal gara-gara diterjang tsunami. ”Saya langsung iyakan. Ini merupakan jawaban dari doa saya pada Tuhan,” ujarnya.

Dari hasil pernikahannya dengan Syafri, Sulastri dikaruniai dua anak, Syifa Puan Nouri, 8, dan Syamil Aulia Rahman, 6. Ditambah tiga anak dari Syafri, total anak pasangan itu lima orang.

Sulastri mengatakan, sejauh ini rumah tangganya baik-baik. Tidak pernah sekali pun dia terlibat pertengkaran dengan Syafri. Anak-anak Syafri pun begitu menyayangi ibu barunya itu. ”Saya sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri,” tuturnya.

Di Kepri Sulastri tetap mengabdi pada urusan jamaah haji. Namun, dia tidak menjadi staf paramedis seperti di Aceh. Dia bertugas mengajarkan ESQ kepada calon jamaah haji. Menurut dia, ESQ sangat penting bagi calon jamaah haji.

”Agar ketika ada cobaan tidak down. Selalu ingat Tuhan,” paparnya.

Sementara itu, Syafri saat ditemui di PIH mengaku sangat berterima kasih karena dipertemukan dengan Sulastri oleh pemberitaan Jawa Pos, 1 Februari 2005.

Dia menyatakan, setelah membaca kisah Sulastri di Jawa Pos, dirinya merasa iba. Dia juga menilai Sulastri sebagai sosok perempuan tangguh.

”Saya terharu membaca kisah itu di Jawa Pos. Kasihan perempuan ini, pulang dari Tanah Suci jadi sebatang kara,” ujarnya.

Syafri lalu memberanikan diri untuk meminangnya. Kebetulan, saat itu dia sudah bercerai dari istrinya. Langkah tersebut juga mendapat persetujuan dari anak-anaknya. ”Malah anak-anak saya yang duluan menjodohkan saya dengan Sulastri,” tuturnya.

Kini Sulastri-Syafri sudah sembilan tahun menjalani biduk rumah tangga. Mereka berharap rumah tangganya bisa langgeng sampai akhir hayat. (*/c10/c11/ari)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sempat Terbebani Tradisi Prestasi Kakak Kelas


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler