Sempat Terbebani Tradisi Prestasi Kakak Kelas

Jumat, 19 September 2014 – 03:10 WIB
JAGA KEKOMPAKAN: Anggota Spensix Choir berpose bersama setelah berlatih. Titik Andriyani/Jawa Pos/JPNN.com

jpnn.com - KEKOMPAKAN masih terlihat saat tim paduan suara SMPN 6 Spensix Choir berlatih pada Senin (8/9). Mereka memang baru saja memenangi event bergengsi tingkat internasional. Meski demikian, bukan berarti latihan paduan suara usai. Mereka tetap intens berlatih seminggu dua kali. Yang absen sudah pasti terkena denda. ”Itu merupakan bagian dari komitmen kami saat bergabung dalam paduan suara,” jelas Hartini, guru musik dan pelatih tim Spensix.


Laporan Titik Andriyani, Surabaya
=========================

BACA JUGA: Lingkar Pinggang Jokowi Bertambah 2 Cm


Beberapa kali Hartini dan sejumlah pelatih lain mengantarkan Spensix berprestasi di kancah internasional. Pada 2006 dan 2007, mereka mendapat predikat sebagai The Best Performance pada peringatan Hari Anak Sedunia dalam event 1st International Children di Jinan, Tiongkok. Pada saat itu, Spensix menjadi satu-satunya perwakilan dari Indonesia.

Dua tahun kemudian, yakni pada 2009, Spensix berhasil meraih medali perak untuk kategori mix youth dalam Voyage International Choir Festival 2009 di Penang, Malaysia. Prestasi mereka kembali berlanjut pada 2012. Tim itu berhasil meraih medali emas pada event yang sama di Guangzhou, Tiongkok.

BACA JUGA: Menilik Hari-hari Terakhir SBY sebagai Presiden

Ingin mendulang prestasi serupa, Hartini menyuntikkan semangat yang sama dalam regenerasi Spensix. Berbekal disiplin dan komitmen, dia berhasil mengantarkan kembali anak didiknya pada event 3rd Bali International Choir Festival 2014 di Bali, 27 Agustus.

Pesaing mereka bukan tim sembarangan. Di antaranya, dari Filipina, Italia, Korea Selatan, dan Amerika. Sebagian besar pesaing mereka adalah tim paduan suara profesional. Bukan tim paduan suara dari sekolah.

BACA JUGA: Kisah Satgas Marinir-1 Surabaya Amankan Pulau Terluar

Ada dua kategori lomba. Yakni, open untuk pemula dan championship bagi peserta yang pernah meraih juara. Tentu Spensix terjun di kategori championship. Kategori itu termasuk berat. Nah, kategori championship dibagi lagi menjadi tiga. Yakni, folklore, mix youth, dan lagu rohani. Spensix berhasil menggenggam medali emas untuk kategori mix youth.

Mengantar Spensix meraih medali emas bukan pekerjaan mudah. Apalagi persiapan dilakukan saat Ramadan. Namun, Spensix sejak awal menargetkan meraih medali emas. Karena itu, mereka bertekad intens berlatih saat puasa. Supaya tepat waktu, mereka menerapkan aturan. ”Yang telat kena denda,” ucap alumnus IKIP Jogjakarta jurusan musik itu.

Jam latihan pun tidak ubahnya dengan hari biasa. Yakni, sekitar 3–4 jam. Bahkan, pada Sabtu mereka bisa berlatih hingga delapan jam. Kerja keras, disiplin, dan komitmen selalu dia tekankan kepada timnya.

Ketua Tim Paduan Suara Alyaa Zalfaa K.P. sempat tidak percaya saat mereka berhasil meraih medali emas. Dia mengakui tertekan karena terbebani dengan prestasi kakak kelas yang berhasil meraih emas pada 2012.

Namun, keraguan dan beban itu berkurang saat mereka mendapat kehormatan untuk tampil pada opening ceremony,25 Agustus. Selama dua jam mereka berupaya tampil maksimal. Spensix pun mendapat aplaus panjang dari seluruh peserta dan tim juri. Pada akhir pengumuman, Alyaa sontak terkejut saat nama timnya disebut-sebut meraih medali emas.

”Nggak rugi bangeeet, tiga bulan kami melakukan persiapan,” ucapnya. Godaan datang saat bulan puasa. Banyak siswa yang harus menunda mudik Lebaran untuk berlatih. Lantaran sudah bertekad, banyak yang menunda untuk mudik. Bahkan, yang telat pun tidak ada. ”Bisa kena denda untuk menyediakan konsumsi saat berbuka puasa,” ucapnya.

Semangat tersebut dipicu keinginan mendapatkan gold. Bagaimanapun, mereka ingin mengikuti jejak kakak kelasnya. ”Kami sempat beban mental. Ternyata, mempertahankan itu memang sulit,” akunya.

Apalagi prestasi akademis anggota tim paduan suara dilarang keras turun. Sebab, Hartini menerapkan aturan. Siswa yang prestasi akademisnya melorot lebih baik keluar dari tim paduan suara. Karena itu, penghuni Spensix rata-rata siswa dari kelas unggulan.

Justru dengan aturan tersebut, anggota Spensix termotivasi untuk menjaga prestasi akademis. Kedisiplinan yang diterapkan dalam Spensix itu terbawa ketika mereka belajar. ”Karena itu, banyak orang tua yang ingin anaknya masuk paduan suara. Bukan karena apa. Mereka hanya ingin anaknya disiplin dan prestasi akademisnya terjaga,” timpal Hartini.

Fadilatunisa Rizqilla, anggota Spensix lainnya, mengatakan, timnya sering diundang untuk mengisi berbagai acara. Lantaran sering izin keluar kelas, mereka harus mempunyai komitmen untuk menjaga prestasi akademis dengan nilai baik. ”Kami sering diminta tampil ke mana-mana dan tidak bisa menolak. Kami sudah komitmen tampil di mana pun tanpa mengganggu pelajaran,” ungkapnya.

Bukan hanya itu, anggota tim juga mempunyai pantangan untuk menghindari berbagai hal tertentu. Tujuannya menjaga kualitas suara mereka. Pantangan tersebut, antara lain, tidak boleh minum es, gorengan, makanan pedas, mengurangi berada di ruangan ber-AC, dan tidak tidur larut malam. ”Saya favorit makanan pedas. Tapi, demi lomba, saya sering merelakan untuk meninggalkan masakan pedas,” ucap Clavinova Damayanti Agita, anggota lainnya.

Siswa kelas VIII itu juga mempunyai kiat untuk menjaga kualitas suaranya. Yakni, dengan rutin mengonsumsi kencur dan minuman hangat. ”Itu yang kami jaga hingga menjelang lomba,” ucapnya. Anggota yang melanggar pantangan tersebut bakal ketahuan. Hartini mengetahui betul bila ada suara anggotanya yang berubah saat berlatih. ”Pasti ketahuan kalau ada suara yang ngowos. Ada nada yang bocor. Dan mereka sendiri akan mengaku minum es,” ucap Hartini.

Hasilnya memang maksimal. Bukan hanya juara, Spensix juga berhasil membuat terkesan para juri. Terutama juri dari Amerika. Tim itu mendapat pujian. ”Kata juri, kami tampil bagus banget. Juri dari Amerika bilang, ’Kok bisa ya, full koreografi, tapi bisa dilakukan dengan baik. Suara tetap konstan,’,” ucap Agita.

Hartini berharap dari tahun ke tahun sekolahnya bisa mempertahankan prestasi yang selama ini bisa diraih. ”Dan itu bukan hal mudah. Syukur-syukur, prestasi kami terus meningkat,” ucap guru kelahiran 1966 itu. (*/c6/dos)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Melanggar Aturan Cinta Lingkungan, Surat-Surat Dipersulit


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler