Banjarnegara Pasok 17 Ton Cabai Merah Keriting dan Rawit Hijau ke Jabodetabek Setiap Hari

Sabtu, 11 Juni 2022 – 22:27 WIB
Hasil panen petani Banjarnegara yang siap dibawa ke wilayah Jabodetabek. Foto: Dokumentasi Kementan

jpnn.com, BANJARNEGARA - Petani Banjarnegara sudah sangat terbiasa berbudidaya aneka cabai bahkan telah menjadikan kabupaten tersebut sebagai penyangga Jabodetabek.

Konsistensi pasokan aneka cabainya mencapai 17 ton per hari menyebar ke berbagai pasar, termasuk pasar induk dan pasar-pasar satelit seputar Jakarta.

BACA JUGA: Kabar Baik Nih! Panen Mulai Berlimpah, Harga Bawang Merah Segera Kembali Normal

Petani Banjarnegara menyesuaikan agroklimat dan kecocokan tanah.

“Sejak dulu, pendahulu kami tidak menanam cabai rawit merah karena pertimbangan teknis. Kalau rawit yang cocok di dataran tinggi Banjarnegara adalah rawit hijau sehingga hasil produksi kami berlimpah,” papar Teguh, salah satu Champion Cabai Nasional.

BACA JUGA: Guru Besar IPB dan ITB Sambut Baik Upaya Kementan Wujudkan Pertanian Berkelanjutan

Teguh menyebutkan saat ini ada sekitar 370 hektare pertanaman rawit hijau yang tersebar di Kecamatan Pejawaran, Karang Kobar dan Batur.

Senada juga disampaikan penyuluh Pejawaran, Miftahuddin yang menegaskan warga Banjarnegara tidak pernah kesulitan untuk menemukan aroma pedas di setiap menu masakan sepanjang tahun karena ketersediaan rawit hijau melimpah.

BACA JUGA: Mentan SYL Pimpin Penanaman Perdana Jagung di Wilayah Khusus Kabupaten Karawang

“Masyarakat sini sudah terbiasa menggunakan rawit hijau untuk membuat sambal. Kalau masalah warna memang kurang menarik dibandingkan dengan rawit merah, tetapi rasa tetap pedas.” ungkapnya.

Awal Juni 2022 tersebar kabar dari pasar yang menyatakan harga rawit merah di Banjarnegara mencapai Rp 1.000 per buah.

Namun, pemantauan langsung ke beberapa pedagang eceran di Pasar Pucang Banjarnegara dengan harga Rp 5 ribu bagi konsumen untuk mendapatkan cabai sebanyak 50 gram (kurang lebih 20 buah).

Dihubungi terpisah, Dirjen Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto memahami adanya cuaca ekstrem dengan curah hujan yang relatif tinggi sedikit banyak akan berpengaruh terhadap volume panen dan pasokan.

“Memang karena cuaca ekstrem ini volume panen dan pasokan cabai menjadi berkurang. Namun hal ini sudah kita antisipasi melalui berbagai langkah," kata Dirjen Prihasto, Sabtu (11/6).

Salah satu langkah antisipasi tersebut, kata Dirjen Prihasto, dengan melakukan mobilisasi pasokan dari daerah surplus yang produksinya tidak terganggu, seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Sumatera Utara. (mrk/jpnn)

 


Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler