Batam Tak Rasakan Dampak Perang Dagang Tiongkok dan Amerika

Sabtu, 29 September 2018 – 12:27 WIB
Kawasan Industri Batamindo. Foto: batampos/jpg

jpnn.com, BATAM - Perang dagang antara Amerika dan Tiongkok ternyata tidak berdampak untuk kalangan industri yang ada di Kota Batam, Kepulauan Riau.

"Sejauh ini kami belum melihat (dampak) ke arah sana. Artinya Batam tetap aman. Karena mayoritas ekspor kita via Singapura," kata Wakil Ketua Koodinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri Tjaw Hoeing, Rabu (26/9).

BACA JUGA: Terduga Maling Tewas Dikeroyok, Delapan Orang Jadi Tersangka

Menurut pria yang biasa disapa Ayung ini, Batam dengan segala fasilitas dan insentif yang dimiliki dapat memanfaatkan momen tersebut untuk meraup investasi.

"Perang dagang tersebut dapat dijadikan peluang bagi industri di Batam supaya bisa memasuki pasar Amerika," katanya lagi.

BACA JUGA: Kecanduan Main Game, Pemuda Ini Nekat Curi Sepeda Motor

Sebagai contoh, saat ini Amerika mengenakan tarif 10 persen pada barang-barang impor senilai 200 miliar Dolar Amerika dari China.

Dengan kebijakan seperti itu, maka akan terjadi penurunan permintaan barang impor dari China ke Amerika.

BACA JUGA: Pemko Batam Pastikan ASN Terpidana Dipecat Desember

Secara otomatis, Amerika akan mengganti sumber kebutuhan dari negara lain. Dan inilah kesempatan bagi Batam untuk bisa menggejot ekspornya.

Namun di sisi lainnya, China juga akan mengalihkan perhatiannya untuk mencari pasar baru. Dan Batam bisa menjadi salah satu targetnya mengingat posisinya yang strategis.

Batam bisa kebanjiran produk China."Tapi semuanya tentu saja tergantung dari harga. Pasar di Batam tentu akan memilah-milahnya," jelas Ayung.

Sayangnya untuk bahan baku industri, penetrasinya ke Batam akan semakin meningkat tentunya. Karena bahan baku yang dibutuhkan industri lokal di Batam belum mampu diakomodir pasar domestik.

"Ini kan karena bahan baku tidak tersedia di Batam. Kalaupun ada di Jakarta, harganya kurang kompetitif serta dari segi pengiriman memakan waktu cukup lama," jelasnya lagi.

Pengusaha di kawasan industri tentu tidak berharap perang dagang ini terus berlanjut.

"Potensi dampaknya seperti saat ini yakni penguatan Dolar Amerika terhadap semua mata uang," katanya.

Bagi Batam, dampak jangka panjang akan dirasakan bagi industri yang bahan bakunya dari impor, kemudian menjualnya ke pasar domestik. "Pasti akan merugi terus," ucapnya.

Terpisah, Direktur PTSP BP Batam Ady Soegiharto menilai perang dagang ini tidak akan mengganggu stabilitas ekonomi di Batam dan negara tetangga. Alih-alih malah menguntungkan.

"Barang-barang dari China akan diekspor ke negara lain untuk kemudian diekspor ke Amerika," ucapnya.

Secara tidak langsung akan meningkatkan kegiatan ekspor bagi negara yang pintar memanfaatkan situasi ini.

Di sisi lain, ia sependapat dengan pengusaha kawasan industri terkait menggenjot ekspor dari Batam keluar negeri.

Sedangkan Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo mengatakan BP akan segera mengurangi persyaratan modal minimum untuk memudahkan investasi masuk ke Batam.

"Saya tak hanya melihat apa-apa yang besar atau tidak. Karena ekonomi tak bisa menunggu, maka jika sepanjang investasi bisa serap tenaga kerja lebih banyak, menurut saya itu perlu didorong," katanya di Gedung BP Batam, Selasa (25/9).

Seperti yang diberitakan sebelumnya, BP akan mengubah layanan perizinan menjadi Online Single Submission (OSS) layanan prioritas agar bisa terintegrasi dengan sistem OSS.

Disamping itu, BP menurunkan persyaratan batas minimum modal dan tenaga kerja untuk bisa mendapatkan perizinan lewat layanan OSS layana prioritas.

"Kami tengah ajukan ke Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) agar bisa jalan. Kami usulkan di angka Rp 25- Rp 30 miliar," paparnya.

Jika menunggu investasi besar, maka BP akan menghadapi kendala berupa keterbatasan lahan."Bicara investasi besar punya kendala mengenai luas lahan ayng diperlukan. Biasanya minta lahan 100 hektar dan kami punya kendala untuk lahan seluas itu," ucapnya.

Lukita kemudian mengungkapkan banyak investor dengan nilai modal dibawah Rp 50 miliar ingin masuk ke Batam dan rata-rata berorientasi ekspor. "Negara sudah betul-betul mendorong kegiatan ekspor. Dan ini yang saya tangkap jika ada peluang investasi 100 persen akan kami dukung," paparnya lagi.

Contoh industrinya antara lain industri barang plastik yang orientasinya juga ekspor. Lalu ada juga yang akan investasi 5 juta Dolar yang bergerak di bidang produksi rokok elektrik dan hasilnya akan diekspor keluar negeri.

"Saya dukung dan sudah yakinkan BKPM bahwa produksinya tidak akan hasilkan limbah. BKPM mau dan investornya sudah bersiap," ucapnya.

Selain itu ada juga investor yang mengelola kepala, pompa dan juga matras tempat tidur.

"Ada juga investor besar senilai Rp 200 juta Dolar Amerika yang beroperasi di bagian packaging, tapi hanya butuh lahan kecil hanya 10 hektar," ujarnya.(leo)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tiongkok Naik Pitam, Ancam AS dan Taiwan


Redaktur & Reporter : Budi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler