Bayu Santoso, Mahasiswa ISI Jogja Pemenang Desain Kover Album Terbaru Maroon 5

Sempat Kehabisan Ide dan Konsep Lanjutkan Wajah Harimau

Selasa, 14 Oktober 2014 – 13:43 WIB
MUDA MENDUNIA: Bayu Santoso dengan karyanya wajah Harimau dengan huruh V di tengahnya yang memenangi cover album terbaru Maroon 5. Foto: Radar Jogja/JPNN

jpnn.com - Dunia desain dan musik Indonesia gempar setelah grup musik internasional Maroon 5 memilih rancangan sampul album terbarunya. Desain wajah harimau yang kaya ornamen dengan huruf V di tengahnya itu ternyata karya mahasiswa semester tiga Desain Komunikasi Visual Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta, Bayu Santoso.

DWI AGUS, Jogja

BACA JUGA: Warna Ayu, Kelompok Eks Lokalisasi, Pelopor Batik Jumput Berpewarna Alami

NAPASNYA masih tersengal-sengal saat bertemu Radar Jogja, Senin lalu (13/10). Sejenak duduk di kursi, dia pun menjelaskan alasannya terlambat datang ke sebuah kafe di Jogja siang itu. Meski demikian, senyumnya tetap mengembang saat memulai pembicaraan.

’’Maaf Mas tadi ban motornya bocor di daerah Lempuyangan. Akhirnya dipompa dulu terus didorong untuk sampai ke sini,’’ kata Bayu Santoso. Setelah memesan segelas es teh, Bayo Gale, sapaan akrabnya, mulai bercerita. Menurut dia, awal mula ikut kompetisi desain kover album Maroon 5 karena ajakan pacarnya, Bertha Rismarani. Sebagai sesama penggemar band yang dimotori Adam Levine itu, Bayo langsung mengiyakan ajakan sang pacar.

BACA JUGA: Yuli Purwanto, Pendekar Pencak Silat di Negeri Pusat Bela Diri, Jepang

Untuk mendesain kover wajah harimau, Bayo melewati banyak tahapan. Pertama, dia mencari inspirasi dengan melihat kover album Maroon 5 sebelumnya. Kover-kover itu dia pelajari untuk melihat ciri khas dari band kesukaannya ini.

Wajah harimau dia pilih sebagai senjata utama mengikuti kompetisi ini. Di tengah proses penggarapan inilah masalah muncul. Bayo sempat kehabisan ide dan konsep untuk melanjut-kan wajah harimau itu.

BACA JUGA: Mengunjungi Museum Tani Jawa Jogjakarta di Imogiri, Bantul

Dalam proses pencarian inilah, alumnus SMKN 1 Kalasan, Sleman ini membuka buku lamanya. Ide muncul ketika dia melihat ragam ornamen nusantara. Ornament khas Jepara pun dia aplikasikan dalam desain wajah harimau ini.

’’Ornamen nusantara itu bagus, unik dan tentunya sangat mencirikan Indonesia. Akhirnya ornamen ini saya terapkan ke kuping harimau. Selain itu juga ada ornamen-ornamen gaya barat dalam desain ini,’’ kata pemuda kelahiran Jogjakarta 16 September 1994 itu.

Pemilihan wajah harimau sebagai senjata utama ini memiliki alasan kuat. Bagi Bayo, harimau adalah sosok hewan yang misterius dan memiliki aura kekuatan.

Selain itu, wajah harimau dirasa kuat untuk menghidupkan huruf V khas Maroon 5. Huruf V ini pula yang menjadi syarat wajib kompetisi desain album.

Secara kreatif Bayo menyematkan Vdi tengah wajah harimau dari hidung hingga telinga. Uniknya, dalam ketentuan Maroon 5 juga mencantumkan alasan lainnya, di mana sang desainer menganggap desain yang dibuat untuk diri masing-masing. Sehingga karya yang dihasilkan benar-benar jujur, hidup dan memiliki makna.

’’Ketentuanya tidak boleh pakai foto Maroon 5 dan benar-benar gambar. Mengawali dengan sketsa manual lalu difoto dan dimasukan ke komputer untuk diolah. Setelah jadi, tanggal 30 September kemarin di-submit ke web Creative Allies,’’ ungkapnya.

Dua minggu kemudian, tepatnya Kamis (9/10), Bayo mendapat kabar dari manajemen Maroon 5. Desainnya terpilih sebagai pemenang kompetisi ini dan dibeli lepas. Beberapa hadiah seperti dua tiket gratis konser Maroon 5 di mana dan kapan saja dia dapatkan.

Selain itu masih ada beberapa merchandise asli dari Maroon 5. Tentu saja penghargaan tertinggi dari kompetisi ini adalah melambungnya nama Bayo.

Alhasil beberapa instansi hingga individu sibuk menghubunginya untuk menjalin kerja sama. ’’Ada beberapa yang sudah menawarkan untuk kerja sama. Seperti untuk desain batik, tapi saya tidak langsung menyang-gupi. Satu karena masih fokus kuliah, di sisi lain juga ada beberapa desain yang harus belajar lebih dalam lagi,’’ katanya.

Melihat sosok Bayo, pada awal-nya mungkin akan mengiranya sebagai sosok pendiam. Tapi setelah cukup lama mengobrol, sosok Bayo yang asli keluar. Dia ternyata pemuda yang suka tertawa dan berbicara apa adanya. Bahkan jika mendengar logat berbicaranya sangat kental gaya Jakarta.

Tetapi dengan tertawa dirinya membantah hal ini. Dengan bangga dia mengaku merupakan produk asli Jogjakarta. Mimik mukanya pun kembali serius ketika bercerita tentang dunia desain grafis. Berdasarkan pengalamannya, dunia ini merupakan lahan subur. Sayangnya penghargaan atas hasil pikir dan kerja desain grafis masih rendah.

Beberapa karyanya pernah dihargai sangat rendah. Bahkan suatu waktu dia pernah memergoki salah satu desainnya dibajak. Tentunya ini menjadi permasalahan, terlebih dalam menghargai sebuah hak karya cipta.

’’Pernah saat benar-benar butuh uang, saya menjual desain ke sebuah clothing-an dengan harga Rp 100 ribu, ya saking kepepetnya. Tapi ditolak dan diminta mengajukan desain yang lainnya. Desain kepala T-Rex ini diunggah ke Facebook dan laku Rp 1,2 juta dibeli orang dari British Columbia Kanada,’’ kenangnya.

Baginya ini merupakan sebuah dilema dalam dunia desain grafis. Sebab, penghargaan tinggi justru diberikan oleh warga-warga asing. Meski demikian dia tetap optimistis, termasuk dalam melakukan edukasi, terlebih kepada kliennya.

’’Ini bukan tentang materi, tapi bagaimana menghargai sebuah karya desain. Dilemanya industri clothing kadang maunya murah, tapi hasilnya bagus. Tapi kita tetap optimistis bahwa budaya se-perti ini pasti bisa terkikis,’’ katanya.

Untuk mencapai penggarapan seperti ini, Bayo belajar ke almarhum ayahnya, Guritno. Sejak kecil dia dibiasakan untuk angon kambing. Pagi-pagi buta Bayo kecil harus bangun pagi untuk antre ampas tempe di dekat rumahnya, Prambanan.

Ampas tempe ini lalu diolah menjadi makanan untuk kambing. Bahkan dirinya harus ngarit untuk memberi makan kambing-kambingnya. Kebiasaan ini berlangsung hingga dirinya duduk di bangku SMK.

’’Awalnya memang tidak suka dengan cara ini karena repot. Tapi berubah pikiran setelah bapak sakit. Ternyata ajaran bapak ini bermanfaat dalam kehidupan saya. Harus kerja keras, disiplin, dan tidak menyerah dalam hidup,’’ kenangnya.

Didikan keras sang ayah ini pulalah yang melahirkan seorang Bayo seperti saat ini. Dia harus berjuang dengan terus aktif mendesain. Cita-cita memiliki produk clothing sendiri pun menjadi target berikutnya.

Baginya, desain sudah men-jadi bagian dari hidupnya. Meski sebuah profesi, Bayo meng anggap profesi ini menyenangkan. Bahkan dia dapat menikmati proses kreatif dalam mencipta-kan sebuah karya. ’’Menyenangkan, karena melakoni hobi se-kaligus dibayar,’’ tandasnya seraya tertawa. (*/laz/nn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Hutan Batu Maros, Destinasi Wisata Alam yang Kurang Dapat Perhatian


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler