Beda Pak Harto dan Jokowi di Mata Yusril

Senin, 06 April 2015 – 13:37 WIB
Yusril Ihza Mahendra. Foto: dok/JPNN.com

jpnn.com - JAKARTA - Pakar hukum dan tata negara, Yusril Ihza Mahendra tersentak untuk melayangkan sindiran kepada Presiden Joko Widodo, seputar terbitnya Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 39 Tahun 2015 yang mengatur tambahan uang muka pembelian mobil bagi pejabat negara.

Sebelumnya, Jokowi membantah dan terkesan tak mau disalahkan dengan keluarnya perpres tersebut. Kepala negara justru melempar persoalan yang menjadi polemik luas ini kepada Kementerian Keuangan yang meloloskan kebijakan ini.

BACA JUGA: Yusril: Ente Jual, Ane Beli

"Hal-hal seperti itu harusnya di kementerian. Kementerian men-screening apakah itu akan berakibat baik atau tidak baik untuk negara ini," kata Jokowi, Minggu (5/4).

Nah, di akun twitternya @Yusrilihza_Mhd, Yusril terkesan 'nakal'.

BACA JUGA: IPW Sebut Internal Polri Solid Dukung Haiti

"Pak Harto (mantan presiden Soeharto) dulu, semua yg beliau mau tandatangani beliau baca dulu dengan seksama. Tiap naskah yg mau ditandatangani itu kan ada memorandum mensesneg yg menerangkan secara ringkas latar belakang naskah tsb," tulis Yusril, beberapa saat lalu.

BACA JUGA: Tolak Posisi di BTN, Sukardi Pilih Jadi Penulis Pidato Jokowi

Yusril mengenang, jika ada yang tidak jelas bagi Pak Harto, maka orang pertama yang ditanya adalah Mensesneg Moerdiono atau Saadillah Mursyid.

"Bahkan kadang2 Pak Harto langsung tanya saya kalau itu menyangkut pidato atau surat yang akan ditandatangani," ujar Yusril, yang pernah menjadi Staf Khusus Penyusun Naskah Pidato Presiden Suharto.

Semua naskah yang dikirim ke rumah Soeharto pada sore hari, kata Yusril, besoknya sudah dikembalikan ke Sekneg via ajudan. 

"Yg mau ditandatangan sdh ditandatangani. Yg belum ditandatangan ada catatan atau disposisi Pak Harto yg perlu segera ditindaklanjuti mensesneg. Dari disposisi itu kami tahu bahwa Pak Harto memang membaca semua naskah yg disampaikan ke beliau seblm ditandatangani," ujar Yusril di twitter.

"Bahkan laporan intelejen yg tiap hari masuk, semua dibaca pak Harto. Ada coretan2 pd laporan itu dan ada pertanyaan serta komentar beliau. Pidato terakhir Pak Harto tgl 21 Mei 1998 pun pak Harto panggil saya ke kamarnya dan bertanya tentang sesuatu sblm beliau bacakan," tandas Yusril.

Sosok yang kini lebih dikenal sebagai kuasa hukum kubu Aburizal Bakrie dalam konflik Partai Golkar itu menilai, sebagai presiden, Pak Harto sangat teliti, hati-hati dan tidak pernah segan untuk bertanya.

"Saya waktu itu "anak kecil" mnrt istilah Pak Moerdiono," sebut Yusril.

Kini, Yusril menganggap Jokowi juga seharusnya cermat, hati-hati dan tidak segan-segan bertanya agar tidak salah teken naskah.

"Kalau salah teken bisa repot Pak," pungkas Yusril. (adk/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... ‘Si Ngeri-ngeri Sedap’ Curhat Kawatnya Copot dan Nusuk-nusuk


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler