Bekerja dengan Hati

Minggu, 26 Oktober 2014 – 16:10 WIB
Johan Budi SP saat memberikan keterangan pers di gedung KPK. Foto: dok.JPNN

jpnn.com - PIMPINAN Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) silih berganti, tapi jubir lembaga antirasuah itu tetap lah Johan Budi.

Pemilik nama lengkap Johan Budi Sapto Pribowo itu begitu populer lantaran hampir setiap hari namanya tertera di media massa, sebagai nara sumber.

BACA JUGA: SBY Main Musik, Saya Nyanyi

"Saya ini kan bekerja dengan hati, jadi meskipun capek, tidak kecewa atau tidak kesal. Tapi memang tentu berat menjadi juru bicara KPK karena harus menyediakan waktu yang banyak untuk teman-teman media," kata‎ Johan.

Kini, Johan tidak hanya menjadi seorang jubir. Mantan jurnalis itu juga menjabat sebagai Deputi bidang Pencegahan KPK. ‎Lalu apa yang akan dilakukannya sebagai Deputi bidang Pencegahan? Apa pengalaman Johan paling berkesan selama bekerja di KPK? Berikut wawancara wartawan JPNN Andrian Gilang dengan Johan di KPK, Jakarta, Jumat (24/10).

Bisa diceritakan bagaimana awalnya masuk KPK?

BACA JUGA: Mbah Moen Minta Dukung Jokowi

‎Dulu saya jurnalis juga kan. Kemudian saya sering menulis soal korupsi juga. Saya kan tertarik dan merasa berguna kalau misalnya apa yang kita tulis kemudian berhasil diungkap oleh penegak hukum sehingga ada orang yang ditangkap. Nah kemudian ada KPK. Saya istilahkan menulis korupsi itu termasuk jihad. Tetapi saya ingin terlibat langsung dalam pemberantasan korupsi itu melalui KPK.

Masuk ke KPK tahun berapa?
Saya tahun 2005.

BACA JUGA: Semua Berkesan Bersama SBY

Ada perbedaan signifikan tidak antara KPK yang dulu dengan sekarang misalnya dari segi kinerja?

Ya kalau dulu, tentu tidak bisa disamakan. KPK kan berdiri Desember 2003, baru punya pegawai lima puluhan pada 2004. Kemudian berkembang dan saya angkatan pertama yang direkrut dari luar. Kalau dulu membangun sistem, membangun kultur. Sistem dan kultur yang ada sekarang kan atas jasa pimpinan yang pertama. Dengan sekarang tentu berbeda dengan dulu. Sekarang makin banyak perkara ditangani, makin banyak orang yang masuk KPK dan juga tuntutan publik makin besar juga. Tentu perbedaannya disitu, tapi semangatnya tentu sama memberantas korupsi.

Apa pengalaman paling berkesan selama di KPK?

Saya kira setiap pengalaman punya arti tersendiri ya. Dulu ketika ada kasus Cicak-Buaya betapa pentingnya fungsi Kehumasan dalam menyampaikan itu kepada publik sehingga ikut mempengaruhi dukungan publik kepada KPK. Itu peristiwa-peristiwa, momen-momen yang monumental dalam perjalanan sebagai pegawai di KPK.‎ Dan juga pembentukan Komite Etik yang pimpinan itu.

Sebagai Juru Bicara KPK pernah tidak mengalami kerepotan dalam menghadapi para jurnalis?

Memang berbeda ya kalau saya lihat teman-teman jurnalis yang ngepos di KPK ini kritis-kritis ya dan tidak bisa lagi di jaman yang serba transparan ini KPK menutup-nutupi sehingga mau tidak mau saya harus siap. Ekstremnya 24 jam untuk melayani teman-teman media. Pertanyaan-pertanyaan itu kan saya harus siap untuk menjelaskan, lalu memperoleh informasi secara cepat dari dalam sendiri. Itu mungkin yang membedakan dengan yang lain. Tingkat aktivitasnya ‎itu lebih intens kalau di KPK. Kan teman-teman media hampir tidak ada waktu luang di KPK, selalu banyak media yang perlu informasi, apalagi kasus korupsi ini menjadi perhatian publik.

Pernah kesal menghadapi wartawan?

Oh enggak. Saya ini kan bekerja dengan hati, jadi meskipun capek tidak kecewa atau tidak kesal. Tapi memang tentu berat menjadi juru bicara KPK karena harus menyediakan waktu yang banyak untuk teman-teman media.

Dengan jabatan sebagai juru bicara susah tidak membagi waktu dengan keluarga?

Ya memang mau tidak mau saya lebih mengutamakan kualitas berhubungan dengan keluarga. Jadi ketika saya tidak bekerja, saya habiskan dengan anak-anak saya dan keluarga. Biasanya hanya mengantarkan ke toko buku kalau Sabtu itu. Dan saya sepertinya enggak pernah liburan juga. Liburan dalam pengertian seperti orang-orang lain, mau ke Bali. Selama ini kok saya merasa tidak pernah sama keluarga yang seperti itu.

Kalau bertemu sama keluarga berapa lama?

Saya selalu berhubungan dengan anak saya yang paling kecil, sekolah saya nganterin. Kalau yang gede kan sudah mandiri.

Kualitas hubungan untuk keluarga itu berarti setiap akhir pekan saja?

Setiap waktu kan bisa lewat telepon. Hampir tiap hari kita berteleponan, baik dengan istri dan anak saya. Paling enggak menanyakan kabar "Udah makan belum?, "Sekarang udah di mana? Udah di rumah belum?"

Bisa diceritakan bagaimana akhirnya bisa terpilih menjadi Deputi bidang Pencegahan?

Ya jadi kalau di KPK itu jabatan selalu diseleksi, jadi bukan serta merta promosi gitu. Jadi dua bulan sebelum ada pengumuman, saya mengikuti tes melalui lembaga independen. Calonnya ada beberapa baik dari KPK maupun dari instansi yang lain seperti BPKP. Nah, kemudian dari hasil tes kompetensi dan lain sebagainya terpilihlah enam orang, di antaranya ada dari BPKP‎. Setelah itu, tes wawancara dengan pimpinan usernya. Pimpinan kemudian setelah melakukan wawancara diputuskan saya yang menjadi Deputi Pencegahan.

Berarti tidak ada tawaran dari pimpinan?

Oh bukan...bukan. Itu ada seleksi terbuka sebelumnya.

Apa la‎ngkah yang ingin dilakukan sebagai Deputi Pencegahan?

Saya melihat bahwa selama ini Kedeputian Pencegahan kan kurang bersinergi dengan Penindakan. Jadi, banyak program pencegahan itu yang bagus, artinya punya kontribusi yang besar terhadap upaya pemberantasan korupsi bahkan kita bisa mencegah potensi kerugian negara yang cukup besar lebih dari 100 triliun sepanjang 2005 sampai sekarang. Tetapi yang saya lihat tidak sinergi dengan penindakan, misalnya ‎penindakan menangani kasus apa enggak serta merta dilakukan pencegahannya di situ. Misalnya soal perselingkuhan antara eksekutif dengan legislatif di tingkat daerah, itu kan tidak kita kaji. Selalu harus dikaji di pencegahannya bagaimana menutup lubang-lubang terjadinya korupsi itu, jadi sinergi.

Contohnya bagaimana mengenai pencegahan, selain dari kajian?

Sebenarnya ‎banyak pencegahan itu, cuma media kurang tertarik mengeksposnya. Kan tidak hanya kajian, misalnya pendidikan antikorupsi, program pengendalian gratifikasi, kemudian LHKPN. Itukan program pencegahan.

Sebagai Deputi Pencegahan yang baru, apakah ada langkah baru atau inovasi dalam bidang pencegahan?

Saya lihat dulu tentu kan‎ karena saya masih baru. Tapi utamanya untuk mensinergikan penindakan dengan pencegahan.

Berapa penghasilan menjadi Kepala Biro Humas KPK?

Saya ini setara dengan Eselon II. Ya cukup (penghasilannya). Deputi pastinya (penghasilannya) lebih tinggi dari ‎Kepala Biro.

Kisarannya?

Yah di bawah pimpinan lah pasti‎. ***

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Yang Mengatur Pilkada ya Perppu


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler