Belum Semua Korban Gempa Aceh Tersentuh Bantuan

Sabtu, 10 Desember 2016 – 09:06 WIB
Warga melaksanakan Salat Jumat di Masjdi Jami Quba Pangwa di Pidie Jaya. Foto: Eno Sunarno/Rakyat Aceh

jpnn.com - PIDIE JAYA - Bantuan dan dukungan memang terus mengalir buat korban gempa di Pidie Jaya, Aceh. Namun belum semua korban terjangkau bantuan.

Salah satunya korban di Dusun Kutang, Desa Sageo, Kecamatan Trienggadeng. Kepala Dusun M. Isa menyatakan, pihaknya menggunakan fasilitas swadaya masyarakat untuk menghidupi para pengungsi. Bantuan dari pemerintah belum ada.

BACA JUGA: Ssst...Diam-Diam Kejagung Periksa Menhut Era SBY Ini

”Kami buat tenda sendiri dan masak dari urunan warga. Tadi saya datang ke posko, katanya bakal ada bantuan, tapi sampai sekarang tidak ada,” ujarnya kepada Jawa Pos Jumat (9/12).

Padahal, kebutuhan bahan makanan untuk posko tersebut sangat besar. Setiap hari dibutuhkan setidaknya 90 kg beras, 180 butir telur, dan 5 boks air mineral ukuran gelas. Relawan-relawan bantuan hanya menyalurkan logistik ke posko-posko di wilayah kota seperti Kecamatan Meuredu. Bantuan yang sampai ke mereka hanya mi instan.

BACA JUGA: Menjaga DAS Untuk Lingkungan Hidup Berkualitas

”Padahal, masih ada desa yang lebih terpencil daripada kami. Kami coba kasih mereka mi instan kalau punya lebih. Tapi, mereka malah sama sekali tidak dijangkau,” ungkap Isa.

Lain lagi kondisi pengungsi di Masjid Istiqomah. Nur Lela, salah seorang pengungsi, mengaku sudah tercukupi soal makanan. Meski menunya ala kadarnya dan monoton. Dia tiga hari tinggal di sana. Yang menjadi masalah adalah pengungsi mulai kekurangan kebutuhan lain-lain. Terutama kebutuhan anak seperti susu dan popok. ”Kami juga tak punya peralatan mandi seperti sabun dan sampo,” ucapnya.

BACA JUGA: Longsor di Nagreg, Kakorlantas Minta Masyarakat Berhati-hati

Bantuan logistik dari pemerintah juga belum sepenuhnya dirasakan korban gempa di Desa Keude, Kecamatan Panteraja. Sebanyak 500 kepala keluarga (KK) di desa tersebut sampai kemarin hanya mengandalkan stok bahan makanan yang dikumpulkan dari warga. 

Setiap hari mereka memasak 20 karung beras ukuran 15 kg di dapur umum yang didirikan secara swadaya. Makanan itu kemudian dibagikan ke para korban yang membutuhkan. ”Aktivitas warga di sini belum normal. Banyak yang belum bisa bekerja,” ujar Suhardi, warga setempat.

Tak menyeluruhnya distribusi bantuan bisa jadi bakal lebih parah. Sebab, posko-posko di Kabupaten Pidie Jaya dan sekitarnya meningkat dua kali lipat hari ini akibat gempa susulan yang masih terjadi. Menurut pantauan Jawa Pos, gempa yang kuat terasa tiga kali kemarin. Yang terkuat terasa sekitar pukul 17.00 dan cukup membuat masyarakat panik. Bahkan, sampai pukul 21.15, masih saja terjadi gempa. 

Ketidakmerataan distribusi bantuan itu diakui Yusri, koordinator lapangan Posko I Meuraksa Barat, Pidie Jaya. Dia mengatakan, di posko I terdapat 875 jiwa yang sebagian besar masih kekurangan selimut. Mereka pun harus sedikit berdesakan karena tenda yang terbatas. ”Kalau makanan sejauh ini cukup. Tapi, selimut, obat, dan tenda masih kurang,” ucapnya.

Dirjen Linjamsos Kementerian Sosial (Kemensos) Harry Hikmat menerangkan, sebagian besar bantuan masih terkonsentrasi di titik-titik kerusakan paling parah. Apalagi, dalam situasi tanggap darurat, sebagian besar bantuan langsung ditujukan ke posko-posko besar. 

”Memang banyak sekali. Tidak cuma dari Kemensos. Ada juga donatur lain,” ungkap Harry saat ditemui di sela-sela pemberian bantuan kepada korban gempa di Pidie Jaya kemarin.

Dia meminta pihak kelurahan dan kecamatan ikut terlibat aktif. Bila memang ada posko-posko kecil yang belum sepenuhnya tersentuh, mereka diminta segera melapor. ”Bisa ke korlap posko utama, dinsos, atau langsung Kemensos. Kami juga sudah minta tagana aktif menyisir,” imbuhnya.

Harry menyadari, bantuan bukan cuma soal distribusi, tapi juga manajemen penyaluran. Dia meminta pemerintah kabupaten menyediakan gudang utama sehingga bantuan bisa terkumpul untuk kemudian disalurkan secara merata. ”Saya sudah sampaikan kepada pihak pemda dan mereka menyanggupi,” katanya.

Di sisi lain, pemulihan trauma korban harus jadi fokus utama pemerintah. Pemulihan pascabencana tidak semudah proses rekonstruksi bangunan yang hancur karena gempa. Apalagi pemulihan bagi anak-anak.

”Kalau itu bisa ditarget setahun, untuk trauma ini tidak bisa langsung dipatok begitu. Bisa saja lebih lama,” tutur Henny Hermanoe, ketua harian Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, saat ditemui setelah mendampingi anak-anak korban gempa di Masjid Istiqomah, Rhieng, Pidie Jaya.

Lama pemulihan bergantung kondisi ketahanan tiap-tiap anak. Ada anak yang cuma beberapa bulan sudah bisa recovery. Namun, tak jarang juga mereka yang mengalami trauma hingga berkepanjangan. ”Karena memang tingkat traumatis yang dialami tiap-tiap anak berbeda. Kemudian, bagaimana tingkat ketahanan mereka bisa menerima suatu kondisi juga berbeda-beda,” paparnya.

Anak-anak perlu perhatian ekstra. Pendampingan tak cukup sebatas dilakukan pada masa tanggap darurat. Orang tua juga perlu cermat dalam memperhatikan kondisi anak. Kemensos melibatkan mahasiswa setempat untuk meneruskan tongkat estafet tersebut. Selain itu, ada tim tagana dengan kemampuan psikososial yang akan mendampingi.

Dalam pendampingan yang sudah dilakukan saat ini, Henny menerapkan pendekatan edutainment dengan cara bermain sambil belajar. Cara tersebut dinilai lebih ampuh daripada cara langsung bertanya kepada anak soal kesedihan yang dialami. ”Kami nyanyi, berhitung, salawat, dan banyak lainnya. Atau kami ajak menggambar. Lalu kami minta dia cerita soal gambar itu. Dari situ kita bisa tahu juga soal tingkat stres atau trauma anak,” ungkap Henny. (bil/tyo/mia/c9/ca)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Gibran Hanya Didampingi Kawan, Tak Perlu Pasukan Khusus


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler