Belut Tiba-tiba Bermunculan, Warga Heran: Ada Apa?

Kamis, 26 Juli 2018 – 06:59 WIB
Warga menangkap belut yang mengapung di sungai Brenyok, Jempong Baru, Sekarbela, Kota Mataram, Rabu (25/7). Foto: LALU MUHAMMAD/LOMBOK POST/JPNN.com

jpnn.com - Warga Jempong Baru, Sekarbela, Mataram NTB, “panen” belut, sebuah berkah yang terselip dari kesedihan akibat gelombang pasang dahsyat yang melanda kawasan itu.

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

BACA JUGA: Divonis, Terdakwa Korupsi Proyek Kuburan Menangis

BEBERAPA pria dewasa melangkah kasar dan lebar. Sarung yang nyaris melorot hanya di tahan tangan kiri. Sedang tangan kanan dengan kekar memegang bambu panjang dengan lingkaran jaring terikat kokoh di bagian ujungnya.

Zubaedi melengos ke belakang. Beberapa pria mengejarnya di belakang. Ia pun berusaha memercepat langkah. Jika saja pematang sawah itu lebih lebar. Sudah pasti tubuhnya melayang-layang dengan kaki menapak jinjit.

BACA JUGA: Kena Razia di Kafe, Bule Australia Mengamuk

“Katanya masih banyak,” ujar Edi dengan nafas menderu.

Pandangannya naik turun. Antara memandang kali pinggir jalan dengan pematang yang masih panjang. Ia sudah tidak sabar memainkan jaring.

BACA JUGA: Buronan Kasus Perdagangan Orang Ditangkap Polda Mataram

Setiap banjir rob datang, Edi selalu punya pengalaman. Kali yang sejatinya muara tanpa buaya itu kerap ramai dihuni predator berlendir. Panjang dan acap kali bikin banyak orang geli melihatnya.

“Ada ibu-ibu tadi yang cerita. Katanya melihatnya timbul tenggelam di sungai,” tuturnya.

Zubaedi dan teman-temannya tidak sendiri. Bahkan kedatangan mereka cenderung terlambat. Beberapa pria lain juga sudah berdiri. Lengkap dengan jaring bergagang panjang.

Semuanya melepaskan senyum lebar. Menunggu jenis ikan bernama latin Monopterus Albus. “Itu-itu muncul pak. Besar!” pekik beberapa pengendara yang berhenti dan penasaran.

Mereka layaknya tim hore-hore kejuaraan 17 Agustusan saja. Berdiri dengan setia sementara pagi sudah beranjak siang. Entahlah bapak-bapak berseragam kantor itu mungkin lupa. Mereka harus kerja tepat waktu.

“Baru pertama saya lihat belut keluar. Tanda apa ya?” celetuk Indriani.

Wanita berseragam PNS itu nampak takjub. Sepanjang yang ia tahu menangkap belut amat sulit. Pemburu belut acap kali menerobos semak belukar, rawa, hingga berjibaku dengan lumpur sawah. Hanya untuk mencari lubang-lubang belut.

Tapi kali ini kawanan belut itu di matanya terlihat gembira. Melenggak-lenggok timbul tenggelam di sungai. “Bukan gembira. Itu matanya perih,” celetuk Ardian. Warga lain menimpali gumanan Indriani.

Belut-belut itu keluar dari sarang rupanya tidak lepas dari pasangnya air laut. Air pasang cukup tinggi hingga mengakibatkan banjir rob. Kali berenyok yang posisinya berada di muara pun praktis berubah jadi asin. Rupanya ini yang membuat kawanan belut itu tak nyaman.

“Rasa airnya asin. Mungkin ibarat kita yang lagi nafas tapi tiba-tiba ada polusi asap,” terangnya.

Belut adalah jenis predator pemakan cacing, ikan kecil, dan krustasea. Konon hewan yang masih sebangsa dengan ikan ini bisa hidup berbulan-bulan tanpa air. Asalkan lingkungannya basah atau berlumpur.

Tapi berubahnya air sungai Brenyok jadi asin tidak lepas dari penyebab belut itu panik bukan kepalang. Ratusan kawanan belut ditemukan warga berenang ke permukaan.

Bahkan ada yang sampai pingsan. “Air asin seperti potas bagi belut,” imbuhnya.

Beberapa pemburu belut bahkan ada yang menaburi garam ke lubang belut yang sulit dipancing. Tujuannya untuk memaksa belut keluar. Ada yang berhasil. Ada pula belut yang akhirnya kabur lewat lubang tembusannya yang lain.

“Tadi. Mulai sekitar jam 8 (pagi). Lumayan ini. Berat juga. Mungkin ada 5 kilogram,” duga Sahroni.

Sembari memperlihatkan ember kecil yang penuh belut. Ia datang lebih awal. Setelah dapat kabar dari warga, ada belut ‘pusing’ karena air laut naik. Karenanya ia sudah tahu harus membawa apa ke sungai.

“Alatnya sudah saya buat dari dulu. Ya sudah biasa kalau air laut naik belutnya keluar,” jelasnya.

Keseruan warga menangkap belut memang membuat banyak pengendara berhenti menonton. Mereka berlomba-lomba memanjangkan galahnya agar bisa meangkap belut yang di posisi lebih tengah. Sekalipun begitu warga terlihat akur. Tidak rebut-rebutan.

“Masih banyak kok yang belum keluar yang lain. Ini baru anak-anaknya. Tunggu saja. Belum ibu-bapaknya (induk, Red),” kelakarnya.

Besarnya bervariasi. Dari sebesar ibu jari sampai gagang parang. Cuma kalau belut yang bangkotan biasanya butuh waktu lebih lama untuk membuatnya pusing dan keluar dari sarang.

“Lumayan bisa buat pelecing lindung (belut, Red). Nanti juga bagi ke keluarga,” ungkapnya.

Kebahagiaan warga Jempong Baru menangkap belut dirasakan juga oleh beberapa siswa SMK Pelayaran Mataram. Menggunakan perahu karet mereka menyisir sungai berenyok dan menangkap belut-belut yang timbul di permukaan air.

“Iiii geli!” pekik salah seorang siswa.

Ia meloncat dari perahu karet. Kemudian melompat kabur ke atas talud sungai. Licinnya belut rupanya membuat ia geli bukan main saat memegang hewan menyerupai ular itu. (*/r5)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Dinas Pariwisata Bidik 3 Ribu Peserta Mataram Night Ride


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler