Berbekal Senapan Serbu Buatan PT Pindad

Senin, 13 Juni 2016 – 00:09 WIB
BIKIN BANGGA: Serda Eka Adhi Sumanegara (empat kiri depan) bersama prajurit TNI AD Kostrad yang berhasil mengantarkan Indonesia menjadi juara umum AASAM 2016. Foto: Ist for Kaltim Post

jpnn.com - SERDA Moech Eka Adhi Sumanegara, anggota Yonif 600 Raider Kodam VI Mulawarman. Dia menorehkan prestasi, mempersembahkan medali emas untuk Indonesia dalam kejuaraan Australian Army Skill at Arms Meeting (AASAM) 2016, Mei lalu.

DINA ANGELINA, Balikpapan

BACA JUGA: Butuh Cara Cerdas Penyebar Islam Hadapi Budaya Lokal

Sudah bukan informasi baru kalau Balikpapan memiliki seorang prajurit dengan kemahiran dan prestasi menembak yang mengagumkan. Hal itu terdapat pada sosok Eka yang setiap tahun berhasil meraih juara dalam perlombaan menembak. 

Berkat kemahirannya, Eka turut menjadi salah satu atlet yang membuat Indonesia menjadi juara umum dalam kompetisi menembak bergengsi AASAM 2016. Di mana seluruh anggota TNI AD mampu mengumpulkan 23 medali emas dari total 50 medali emas yang diperebutkan.

BACA JUGA: Lihat Nih Mushaf Tertua di Nusantara

Dalam kejuaraan yang berlokasi di Puckapunyal Military Range Victoria Australia itu, Eka dan kontingen asal Tanah Air lainnya bersaing dengan perwakilan tentara dari 20 negara. Berbekal senapan serbu SS-2 V4 buatan PT Pindad, seluruh atlet berhasil menang dari peserta asal Inggris, Tiongkok, Singapura, Australia, Kanada, Amerika Serikat, hingga Prancis. 

Beberapa materi menembak yang dilombakan pun antara lain senapan otomatis, pistol, dan sniper dengan jarak tembak 450 meter (m) 300 m, 200 m, dan 100 m. 

BACA JUGA: Anak-Anak Itu Jalan Kaki 6 Km, Haus Langsung Minum Air Selang

Kali ini, pria kelahiran Palangkaraya tersebut berhasil mendapatkan medali emas perorangan dalam kompetisi AASAM 2016 Cabang Lomba Senapan dengan jarak tembak 450 meter. 

Persiapan mengikuti kompetisi gelaran Angkatan Darat Australia (Royal Australian Army) tersebut dilakukan sejak Februari lalu. Bertempat di Divisi I Kostrad Cilodong, Jawa Barat, pria berusia 37 tahun itu setiap hari berlatih dari pagi hingga sore hari. 

AASAM sendiri bergulir dari tanggal 3-20 Mei. Selama 20 hari berada di Australia tidak semua waktu langsung dihabiskan untuk bertanding. “Kami ada technical meeting untuk mempelajari materi, ada kesempatan untuk latihan, dan ada uji coba lapangan,” kata pria kelahiran 10 Juli 1978 itu.

Suami dari Nova Suzana tersebut banyak melewati tantangan selama berjalannya kompetisi AASAM. Sebab, Negara Kangguru memiliki cuaca dingin sekitar 9-19 derajat celcius. 

“Ditambah adanya gangguan angin kencang dan hujan. Kondisi itu saya alami saat bertanding dan panitia tetap melanjutkan sesuai jadwal pelaksanaan,” ujar sulung dari tujuh bersaudara.

Saat dalam posisi menembak, arah angin turut menjadi kendala karena angin dapat mempengaruhi gerak peluru. Parahnya, jika angin datang dari arah kiri dan kanan posisi menembak. 

“Paling aman kalau angin datang dari belakang atau depan, tidak akan menimbulkan masalah pada arah tujuan peluru,” tuturnya. Namun dari berbagai rintangan yang ada, terbukti ayah dari Firda Auliya Cantikalova dan Dwi Zaira Savialoka itu berhasil mengatasi rintangan tersebut. 

Ini bukanlah prestasi yang baru bagi anak dari pasangan Moech Arief Feriyanto dan Utin Mas Intan (alm). Sebab, Eka terus meraih medali emas perorangan di kejuaraan AASAM sejak tahun 2014. Ia pun pernah meraih medali emas dalam kejuaraan Brunei International Skill Arms Meet (BISAM) 2015.

Karier menembak yang telah dimulai sejak 2005 itu mengantarkan Eka meraih prestasi dalam ajang Piala Kasad 2006, Piala Kasad 2008, dan Piala Kasad 2010. Selain mengikuti kejuaraan menembak di Angkatan Darat (AD), ia juga aktif mengikuti kejuaraan sipil. Contohnya seperti kejuaraan tembak reaksi dan tembak target di Persatuan Penembak Indonesia (Perbakin). 

Ia mengatakan, jika kompetisi AASAM memiliki model aplikasi seperti tempur dan menghitung siapa tercepat. Berbeda dengan kompetisi dalam negeri seperti Perbakin, di mana model menembak lebih mementingkan akurasi target.

“Dalam ajang AASAM, kami bisa menembak dengan dua tangan dan bermacam-macam gaya. Beda dengan Perbakin, model menembak cukup dengan satu tangan sambil berdiri,” sebutnya.

Eka bertekad untuk terus meningkatkan kemampuan menembaknya. Menurutnya, beberapa negara lain terlihat mulai berusaha mengejar prestasi Indonesia. Misalnya seperti Tiongkok dan Jepang, setelah lama vakum dari kompetisi AASAM, kedua negara tersebut telah mengalami banyak kemajuan. 

Kemarin, mereka pun keluar sebagai runner up AASAM 2016. Dengan total raihan 9 medali emas untuk Tiongkok dan 4 medali emas untuk Jepang. 

“Sehingga saya perlu mempertajam lagi keahlian saya agar tidak tertinggal dan mereka tidak mampu melampaui. Apalagi rencananya akan ada 35 negara yang turut dalam kompetisi AASAM tahun depan,” tuturnya. (*/fir/k18/sam/jpnn)
 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ajudan Gus Dur Selalu Bawa Sekoper Penuh Video Lawak


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler