Berita Duka, Seorang Penambang Meninggal Usai Diamputasi

Sabtu, 02 Maret 2019 – 20:46 WIB
Orang meninggal. ILUSTRASI. FOTO: Pixabay.com

jpnn.com, BOLAANG MONGONDOW - Evakuasi korban ambruknya pertambangan emas tanpa izin (PETI) Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong) Provinsi Sulawesi Utara masih berlanjut. Memasuki hari ketiga, Kamis (28/2), upaya penyelamatan belum menggunakan alat berat. Sementara terpantau korban masih terus berjatuhan.

Kontur tanah yang labil masih jadi pertimbangan petugas kemarin. Namun berdasarkan hasil briefing dengan tim gabungan; TNI, Polri, SAR tadi malam, diputuskan Jumat (1/3) hari ini, proses evakuasi bakal dilakukan dengan menggunakan excavator serta loader.

BACA JUGA: Penambang Emas Ilegal Kabur Sebelum Polisi Datang

Untuk jumlah korban sendiri sudah diralat Pemerintah Kabupaten Bolmong. Awalnya disebutkan ada 8 korban meninggal dunia saat pencarian hari kedua. Tapi berdasarkan data terbaru yang didapat Manado Post (Jawa Pos Group) dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bolmong, jumlah korban meninggal hingga kemarin malam ada 7 warga. Yang luka-luka ada 19 warga.

Kepala BPBD Bolmong Haris Dilapangan menyampaikan, hingga pukul 15.15 WITA, sempat ditemukan satu korban selamat dengan cara kakinya terpaksa diamputasi karena terjepit reruntuhan, dengan nama Teddy Mokodopit.

BACA JUGA: Lantai Mezzanine Bursa Efek Indonesia Ambruk, Puluhan Orang Terluka

“Korban yang diamputasi kakinya saat dievakuasi masih selamat. Tapi akhirnya meninggal dunia. Jadi saat ini total korban 26 orang. Di antaranya 7 meninggal dan 19 orang luka berat maupun ringan,” ungkap Dilapanga saat dikonfirmasi.

Dia menjelaskan, Operasi SAR gabungan bersama keluarga korban dan masyarakat terus dilakukan.

BACA JUGA: Polisi Gerebek Pengolahan Emas Ilegal

“Kalau untuk standar operasional prosedur itu selama tujuh hari atau satu minggu. Tapi jika waktunya tidak cukup dalam proses evakuasi, kami bersama tim akan membicarakannya, karena kami tetap melihat kondisi di lapangan dan kesehatan tim,” katanya.

Dia menambahkan, dalam proses evakuasi, pihaknya lebih memprioritaskan korban yang masih hidup. Selanjutnya korban yang meninggal.

“Kalau sudah seminggu kemudian masih ada korban (meninggal) yang belum dievakuasi karena kondisi lapangan yang terjal, berbukit, maka kami bersama tim akan membicarakannya bagaimana ke depan. Tapi kami tetap akan berupaya mengevakuasi semua korban,” katanya.

“Seperti di Palu lalu, ada banyak korban yang tidak bisa dievakuasi karena tertimbun terlalu dalam ke tanah. Nah di Bakan juga seperti itu. Tapi kami tetap akan berupaya sebaik mungkin,” tandasnya.

Sementara itu, pukul 23.00 WITA beredar kabar ada satu korban meninggal berhasil dievakuasi warga, dan diduga luput dari pantauan Tim SAR. Kepala Seksi Tanggap Darurat BPBD Bolmong Abdul Muin Paputungan menyampaikan, mereka masih sementara mencari data korban tersebut.

Sementara itu, Bupati Bolmong Yasti Mokoagow menyebutkan, tim evakuasi butuh fisik yang maksimal. Sehingga sebagian diminta untuk beristirahat, dan sebagian lagi tetap melakukan aktivitas pemantauan lokasi di area longsor, sterilisasi area untuk evakuasi pencarian korban, hingga pemasangan lampu penerangan.

“Pihak Basarnas, Polri, TNI, BPBD mulai melakukan sterilisasi area mulai sore hari ini (kemarin). Proses evakuasi akan menggunakan alat berat untuk evakuasi,” ungkap bupati di Posko Blok C Bakan, usai melakukan pemantauan.

Dia berharap semua tim gabungan evakuasi saling berkoordinasi dan bekerja maksimal. “Agar evakuasi dapat berjalan dengan baik,” tutur mantan anggota DPR RI tersebut, didampingi Wali Kota Kotamobagu Tatong Bara. Dari pantauannya, pencarian masih secara manual.

Sebab jika menggunakan alat berat dengan kondisi di lapangan seperti, dapat membahayakan korban yang masih hidup yang belum dievakuasi.

“Makanya kami tetap mengevakuasi menggunakan cara manual. Tapi kemungkinan esok (hari ini) evakuasi sudah menggunakan alat berat, karena diperkirakan sudah tidak ada korban yang hidup,” katanya.

Soal berapa banyak korban yang masih tertimbun di PETI Bakan, katanya, belum bisa dipastikan, karena keterangan dari korban yang selamat ada yang mengatakan jumlahnya 50 hingga 80 orang.

“Tapi kami bersama tim, prediksi bahwa ada 60-an korban yang masih tertimbun di PETI Bakan,” pungkasnya.

Asisten II Perekonomian Pembangunan dan Kesra Bolmong Ir Yudha Rantung menambahkan, lokasi tersebut adalah daerahnya PT J Resource Bolaang Mongondow (JRBM).

“Itu lokasi yang sekarang, yang di Bakan, itu daerah penyangganya lokakarya dan itu izinnya JRBM dan kontrak karya, tidak boleh diotak-atik oleh masyarakat. Itu masuk di JRBM. Tapi dia (JRBM) tidak mau otak atik di situ,” ujarnya.

“JRBM tahu bahwa lokasi tambang itu ada emasnya, tapi mereka tidak kelola karena dikajian lingkungan, itu tidak boleh diotak-atik oleh JRBM, sehingga tidak kelola. Karena pemerintah melarang itu. Tapi masyarakat masuk, kan JRBM tidak bisa berbuat apa-apa. Kan dia tidak mau bermasalah dengan masyarakat,” tandasnya.(tr-06/cw-01/)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jembatan Kayugadang Ambruk, Warga Minta Aktivitas Truk Sertukil Disetop


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler