Berlakukan Pembayaran NonTunai di Gerbang Tol, Ini Alasan BI

Selasa, 10 Oktober 2017 – 18:43 WIB
Ilustrasi gerbang tol. Foto: Jawa Pos.Com/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Berlakukan Pembayaran NonTunai di Gerbang Tol‎,

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan beberapa alasan elektronifikasi pembayaran gerbang tol wajib dilakukan.

BACA JUGA: Bank Indonesia Gelar Festival Ekonomi Syariah 2017 di Medan

‎Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Pungky Purnomo Wibowo mengatakan, alasan utama elektronifikasi gerbang tol untuk mengurangi kemacetan.

"Sudah pasti atasi kemacetan. Bayangkan di tol kita harus antre karena membayar tunai. Berapa habis ongkos ekonomi seperti BBM bagi masyarakat," ujar Pungky di Jakarta, Selasa (10/10).

BACA JUGA: BI Pangkas Suku Bunga Acuan, Saatnya Beli Properti

Selain itu, sebanyak 5-6 juta kendaraan yang melalui tol akan lebih dimudahkan dari sisi mekanisme penggunaan uang receh. Ketika gerbang tol sudah ter-elektronifikasi, kegiatan transaksi tidak lagi inefisien.

"Jadi kembalian tidak akan susah. Mencari receh pun yang membuat tidak efisien menjadi efisien. Bahkan nanti kedepannya tarif tol tidak akan naik drastis bisa dengan kelipatan kecil. Sebut saja Rp 9.514 misalnya jadi inflasi terkendali dan masyarakat tidak dirugikan," papar dia.

BACA JUGA: Rupiah Terus Melemah, BI: Tak Perlu Dirisaukan

Sinergi ke depan bersama Badan Usaha Jalan Tol, pengusaha pemilik tol dan bank sampai ke pihak swasta akan memanjakan masyarakat.

Kemudian, BI juga membuka kesempatan bank-bank lain untuk ikut serta dalam program elektronifikasi. Jika dulu hanya dimonopoli satu bank, maka ke depan akan ada banyak lagi.‎

"Sekarang ada 5 bank. Desember 2017 akan ada 3 tambahan bank lagi, Bank Mega, Bank Nobu dan Bank DKI. Sehingga integrasi akan lebih mudah dan lebih kuat. Masyarakat secara bebas dan nyaman menggunakan uang elektronik dari bank-bank tersebut," tutur Pungky.‎

Sementara mengenai fee atau biaya dalam isi ulang, Pungky mengatakan, hal ini diatur untuk menjaga agar bank tidak seenaknya dalam membebankan kepada nasabahnya.

"Kalau kami lihat, BI kan pro dengan masyarakat, makanya biar bank tidak bebankan secara tidak benar dan harga tinggi, kita atur fee-nya. Antara Rp 0 - Rp 750 per transaksi untuk transaksi isi ulang di atas Rp 200 ribu jadi bank bisa bersaing secara sehat. Tidak ada monopoli," kata Pungky.

Ke depan, BI akan terus menerima seluruh masukan dari masyarakat dalam proses integrasi dan elektronifikasi pembayaran. Sebagai upaya untuk memajukan perekonomian yang lebih efisien, nyaman dan tidak banyak cost.‎(chi/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... 3 Penyebab Rupiah Terus Melemah


Redaktur & Reporter : Yessy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler