Bertemu Datuk Zainal Abidin Bakar, Bahtiar Minta Akses Kepri-Malaysia Dibuka Lagi

Senin, 02 November 2020 – 19:33 WIB
Pjs Gubernur Kepri Bahtiar (kiri) dan Dubes Malaysia untuk Indonesia Datuk Zainal Abidin Bakar. Foto: Humas Pemprov Kepri

jpnn.com, JAKARTA - Pjs Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Bahtiar Baharudin bertemu Dubes Malaysia untuk Indonesia Datuk Zainal Abidin Bakar.

Pertemuan yang difasilitasi Kemenlu RI, digelar di Kantor Kedubes Malaysia di Jakarta, Senin (2/10).

BACA JUGA: Pjs Gubernur Kepri Bahtiar Dukung Sikap Presiden Jokowi Kecam Macron

Kepada Dubes Malaysia, Bahtiar meminta supaya akses perbatasan antara Malaysia dengan Provinsi Kepri segera dibuka.

“Provinsi Kepri berbatasan dengan Malaysia dan Singapura, disebabkan pandemi Covid-19 hubungan sosial dan budaya negara menjadi terganggu,” ujar Bahtiar Baharuddin dalam keterangan tertulisnya.

BACA JUGA: Kemendagri Blokir Data ASN, Sekdaprov Kepri Pastikan Sudah Laksanakan Rekomendasi KASN

Bahtiar mengatakan, keinginan agar akses perbatasan Malaysia-Kepri dibuka, merupakan aspirasi masyarakat Provinsi Kepri.

Karena antara Provinsi Kepri dengan Malaysia masih serumpun dan masyarakatnya memiliki hubungan kekerabatan pertalian darah.

BACA JUGA: Oknum Brimob Kelapa Dua 7 Kali Jual Senjata ke Papua, Siapa Saja Terlibat? Mengejutkan

Namun karena ditutupnya akses antar negara, menyebabkan hubungan keluarga menjadi terkendala.


“Bagaimana ke depannya perlu perhatian dari Pemerintah Negara Malaysia, karena pandemi ini menyebabkan hubungan sosial budaya menjadi terputus,” jelasnya.

Kepulauan Riau, Johor Malaysia, dan Singapura adalah satu kawasan yang tersambung, berbatasan langsung dan saling interaksi secara ekonomi, sosial dan budaya. Hanya beda pulau dan beda negara.

Bahtiar yang juga Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri itu mengatakan, banyak masyarakat Kepri yang memiliki keluarga di Johor Bahru, Malaysia.

“Ada kebiasaan pergi pagi pulang sore. Begitu juga bagi masyarakat yang berobat, bekerja di Tangjung Pinang dan sekolah ke Johor Bahru, yang biasanya bisa pergi pagi pulang sore,” kata Bahtiar.

Di hari normal, lanjutnya, di Pelabuhan Sri Bintang Pura Kota Tanjung Pinang Kepri biasanya rata-rata 1.500 sampai 2.000 orang tiap hari lalu lalang ke Johor Bahru, dari pelabuhan lain juga sangat banyak.

Hubungan interaksi antar masyarakat antarpulau beda negara tersebut sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.

“Jadi hubungan sosial budaya tersebut berlangsung berabad-abad yang lalu. Namun sudah delapan bulan ini, kebiasaan-kebiasaan seakan berhenti dan hilang. Artinya bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi interaksi sosial budaya juga menjadi sangat terganggu. Kerinduan masyarakat Kepulauan Riau dan masyarakat Johor Bahru pasti sangat tinggi.”

“Maka dari itu, kepada Pak Dubes Malaysia, Datuk Zainal Abidin Bakar kami sampaikan aspirasi masyarakat Kepulauan Riai. Kita (Pemprov Kepri, red) berharap ada diskresi atau pengecualiaan untuk membuka daerah perbatasan (Malaysia-Kepri), tentunya dengan protokol kesehatan Covid-19 yang disepakati,” harap Bahtiar.

Bahtiar mengundang khusus Dubes Malaysia di Indonesia dan Pejabat Kemenlu RI untuk bertandang ke Provinsi Kepri beberapa waktu ke depan.

Sehingga bisa melihat langsung situasi Provinsi Kepri saat ini. Ia juga menyampaikan ucapan terima kasih, karena sudah mendapatkan respons yang sangat baik dari pihak Dubes Malaysia.

Juga mengucapkan terima kasih ke Kemenlu RI yang memfasilitasi pertemuan.

“Apabila diperlukan bisa turun bersama dengan Satgas Covid-19 tingkat pusat ke Kepri. Sehingga bisa mendengarkan aspirasi masyarakat Kepri secara langsung,” tutup Bahtiar.

Dubes Malaysia untuk Indonesia, Datuk Zainal Abidin akar menyampaikan aspresiasi ke Pjs Gubernur Kepri yang sudah menyampaikan aspirasi masyarakat Kepri.

Baginya ini satu informasi yang sangat baik. Yakni, bagaimana untuk merapatkan hubungan Provinsi Kepri dengan Malaysia.

“Bagaimana kita mengatasi masalah covid-19, tetapi juga memenuhi kebutuhan dan kepentingan rakyat kedua negara. Dampak ekonomi akibat pandemi Covid-19 juga dirasakan Provinsi di Malaysia (Johor Bahru) dan Provinsi Kepri,” ujarnya.

Menurutnya, perlu kebersamaan untuk mengambil langkah-langkah dalam mengatasi masalah ini. (rls/jpnn)


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler