BI Imbau Perbankan Turunkan Suku Bunga Kredit

Sabtu, 05 November 2016 – 15:51 WIB
Ilustrasi. Foto: JPNN

jpnn.com - JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memprediksi pertumbuhan pembiayaan korporasi terus meningkat pada tahun ini.

Namun, sumber pembiayaan diperkirakan tidak hanya mengandalkan kredit perbankan.

BACA JUGA: Pedagang Ogah Sembelih Sapi di Rumah Pemotongan Hewan

Pembiayaan juga menggunakan sumber lain seperti emisi obligasi korporasi, penerbitan saham baru, atau surat utang jangka menengah (medium term notes/MTN).

Kendati demikian, BI yakin pertumbuhan kredit perbankan sebagai salah satu sumber pembiayaan korporasi akan tetap positif.

BACA JUGA: Ini Strategi Samsung Dongkrak Penjualan

’’Pertumbuhan kredit masih di bawah tujuh persen, sekitar 6,6 persen atau 6,7 persen. Sampai akhir tahun memang kelihatannya akan lebih rendah. Tadinya kami perkirakan 9–11 persen, kemungkinan hanya 7–9 persen,’’ terang Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo kemarin (4/11).

Untuk meningkatkan pertumbuhan kredit, Perry mengimbau perbankan menurunkan suku bunga kredit menyesuaikan langkah bank sentral.

BACA JUGA: Industri Galangan Kapal Minta Relaksasi PPN Komponen

BI sepanjang tahun ini sudah menurunkan suku bunga acuan sebesar 150 basis points (bps). BI seven days reverse repo rate pun dipatok 4,75 persen.

Meski demikian, perbankan belum menurunkan suku bunga kredit secara signifikan.

Bunga kredit hingga Oktober lalu baru turun 60 bps, padahal bunga deposito sudah turun 108 bps.

Perry pun berharap perbankan lebih meningkatkan daya saing agar tidak tergeser oleh sumber-sumber pembiayaan lain di pasar modal.

’’Untuk membiayai investasinya, mereka (korporasi) membayar kembali lebih cepat utang luar negeri. Mereka juga tidak memakai kredit perbankan. Langkah itu disebabkan dari sisi suku bunganya dan kebutuhan financing lebih murah,’’ papar Perry.

Meski demikian, BI memperkirakan kondisi belum tingginya penurunan bunga kredit sekadar kebijakan temporer.

Alasannya, perbankan saat ini masih membutuhkan likuiditas untuk membentuk pencadangan kerugian karena tingginya kredit bermasalah.

’’Bank meningkatkan pencadangannya untuk menyiasati kenaikan NPL (non-performing loan),’’ terang Perry. (rin/c17/noe/jos/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Menuju Final World Halal Tourism Award, Yuk Kita Tuntaskan Sampai Juara


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler