BNPT Anggap Buku Panduan Gerilya Kota Rangsang Aksi Teror

Kamis, 19 September 2013 – 20:21 WIB

jpnn.com - JAKARTA--Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) mengkhawatirkan beredarnya sebuah buku elektronik berjudul "Panduan Pelaksanaan Perang Gerilya di Perkotaan" yang beredar di internet sejak dua tahun lalu.

Menurut Deputi Pencegahan Perlindungan dan Deradikalisasi BNPT Mayjen Agus Surya Bhakti, peredaran buku ini harus dicegah karena bisa menimbulkan provokasi di tengah masyarakat.

BACA JUGA: Pimpinan DPR Belum Terima Surat Resmi Penunjukan Ruhut

"Itu berbahaya sekali. Sudah hampir 1000 orang yang mengklik atau mengunduh. Kalau ada yang praktekin dua aja, sudah bikin aksi teror mereka," ujar Agus di Jakarta, Kamis, (19/9).

Dokumen itu sendiri diunggah oleh seseorang dengan akun Syarief Ramzan Saluev pada 11 April 2011. Tebalnya lebih dari 100 halaman.

BACA JUGA: Curiga Chip e-KTP jadi Obyek Mark Up

Isi buku elektronik yang setiap halamannya bertuliskan kata-kata "Forum Islam al-Busyro" ini penuh dengan anjuran untuk melakukan serangan terhadap obyek vital pemerintah di perkotaan.

Selain itu, ada banyak dalil dan ayat Al-Quran yang dikutip untuk memberikan pembenaran pada rencana dan aksi teror mereka.

BACA JUGA: Sebut Supervisi KPK terhadap Proyek E-KTP Hanya Akal-akalan

Tak lupa diselipkan berbagai tips praktis dan strategi untuk menghindari pengejaran polisi. Pada satu bagian misalnya, para teroris diminta membuat safe house atau rumah persembunyian di tengah kota untuk memudahkan mereka menghilangkan jejak.

Agus berharap orang-orang yang sudah telanjur membaca buku dalam format PDF itu tidak sampai terpengaruh. Apalagi melakukan praktek tersebut.

"Untung pemerintah cepat tanggap tutup itu web. Itu kan tunjukkan bahwa mereka bisa mempengaruhi dan ngomporin orang. Ini lah kita harus berhati-hati," tegasnya.

Untuk menghindari aksi provokasi dengan berbagai cara ini, Agus menyatakan pihaknya terus melakukan upaya deradikalisasi. Ia mengaku BNPT sudah mendatangi 21 provinsi untuk membuat forum koordinasi pencegahan terorisme. Di antaranya di daerah-daerah lokasi penangkapan teroris seperti di  Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, Jakarta, Lampung, Banten, Medan, dan Aceh.

"Daerah lain juga. Kami tak mau terkecoh daerah yang dirasa aman eh ternyata jadi persembunyian. Ini memang harus dikomunikasi dengan baik untuk cegah penyebarannya," tandas Agus. (flo/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Elza: Nazar Juga Ikut Nikmati Suap Proyek E-KTP


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler