Bu Mega Pernah Mau Menggaplok Tentara, Begini Ceritanya

Selasa, 06 Juni 2017 – 19:09 WIB
Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri di Blitar, Jawa Timur. Foto: dokumen DPP PDIP

jpnn.com, BLITAR - Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri mengungkapkan pengalamannya ketika merasa ingin menggaplok seorang perwira TNI. Pasalnya, tentara itu telah melontarkan pertanyaan yang sangat menyinggung.

Berbicara pada acara peresmian patung Bung Karno di Simpang Herlangga, Kota Blitar, Jawa Timur, Selasa (6/6), Megawati menuturkan pengalamannya saat masih menjadi ketua umum Partai Demokrasi Indonesia (PDI) di era Orde Baru. Kala itu, dia diundang menjadi pembicara di Sekolah Staf Komando (Sesko) Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).

BACA JUGA: Satu Lagi, Patung Putra Sang Fajar Hadir di Blitar

Saat itu, ada seorang perwira TNI yang melontarkan pertanyaan ke Megawati. Pertanyaannya menyangkut Proklamator RI Bung Karno yang juga ayah Megawati.

“Menurut ibu, Bung Karno itu pengkhianat atau tidak?” ujar Megawati menirukan pertanyaan seorang perwira ABRI yang sedang menempuh pendidikan di Sesko.

BACA JUGA: Ini Hutang Budi Bung Karno pada Pelacur

Megawati mengaku langsung emosi. Namun, dia tetap berusaha tenang.

“Saya sebenarnya ingin gaplok. Tapi saya jawab aja dengan tenang,” tuturnya.

BACA JUGA: Beginilah Kekaguman Kiai Said pada Bung Karno

Politikus kelahiran Yogyakarta yang menjadi Presiden RI Kelima itu lantas meminta izin ke Komandan Sesko yang mengundangnya sebagai pembicara untuk menjawab tapi bukan dalam kapasitasnya sebagai ketua partai. Megawati langsung berbicara atas nama keluarga besar Bung Karno.

“Saya minta izin ke komandannya, saya ini tak sebagai ketum partai, saya sebagai pribadi keluarga Bung Karno mau jawab,” kenangnya.

Megawati menuturkan, dirinya langsung balik bertanya. “Hei anak muda, dari mana kamu bisa sebut Bung Karno sebagai pengkhianat? Dia adalah proklamator, bagaimana kamu bisa sebut proklamator pengkhianat?” ujar Megawati.

Akhirnya, perwira ABRI yang melontarkan pertanyaan itu merasa bersalah. “Di akhir acara dia datang minta maaf ke saya,” tuturnya.

Selain itu Megawati juga mengatakan, mengerti sejarah justru penting untuk melangkah menuju masa depan. "Saya tak tahu apakah polisi dan tentara masih belajar Pancasila atau tidak. Bukankah kita harus tahu sejarah negeri untuk tahu arah ke depan?" pungkasnya.(ara/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... PDIP Gelar HUT Bung Karno di Blitar, Pedagang Kecil Ketiban Rezeki


Redaktur & Reporter : Antoni

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler