Buat Zona Merah, Kuning dan Hijau di Rumah Masing-Masing Supaya Steril

Sabtu, 03 Oktober 2020 – 14:24 WIB
talkshow bertema 'Pencegahan COVID-19: Beda Masyarakat, Beda Startegi?” di Media Center Satgas COVID-19. Foto: diambil dari covid19goid

jpnn.com, JAKARTA - Tim Pakar Satgas COVID-19 Turro Wongkare menegaskan COVID-19 bukanlah sebuah kutukan, tetapi sama saja seperti penyakit lainnya.

Turro menyebutkan penderita COVID-19 sama seperti orang mengidap penyakit TBC yang juga membutuhkan dukungan dari keluarga dan lingkungan.

BACA JUGA: Alhamdulillah, WHO Beri Rekomendasi Untuk Indonesia Menyelenggarakan Tes Cepat Antigen

"COVID-19 itu bukan kutukan. Penyakit biasa yang menular sama dengan TBC, cacar, dan flu. Hanya ini mematikan. Kalau tidak ikuti protokol bisa terpapar," ujar Turro dalam talkshow bertema 'Pencegahan COVID-19: Beda Masyarakat, Beda Startegi?” di Media Center Satgas COVID-19 Graha BNPB Jakarta beberapa hari lalu.

Turro menegaskan kembali orang yang terpapar positif COVID-19 bukan berarti akhir dari perjalanan hidup.

BACA JUGA: Dipandu dr Reisa, Tenaga Medis Berkisah tentang Cara Pasien Covid-19 Cepat Sembuh

Namun, sama halnya dengan penderita TBC yang berpotensi sembuh.

Masyarakat, kata Turro, harus tetap beraktivitas berdampingan dengan COVID-19, baik yang sudah terpapar ataupun belum.

BACA JUGA: Strategi Airin, Manfaatkan Bulan Pemuda untuk Kampanye Potokol Kesehatan

Tentu saja dengan mengubah kebiasaan hidup secara keseluruhan dan patuh pada protokol kesehatan.

Bukan hanya sekadar mencuci tangan, tetapi bekerja dan beraktivitas dari rumah.

"Ini sesuatu yang biasa, mengubah hidup secara keseluruhan. Ini (COVID-19) sama dengan penyakit lainnya. Jangan dijauhi, apalagi sampai dikucilkan," ujarnya.

Turro juga menyoroti hasil survei BPS pertengahan September 2020 lalu yang menyebut tujuh persen masyarakat memberikan stigma pada penderita COVID-19.

"Harus ada keseimbangan dalam menyampaikan informasi tanpa menakut-nakuti," ujarnya.

Sementara dr Norman Zainal mengatakan pemakaian masker menjadi alat mencegah penularan atau tertular virus corona.

Masker secara ilmiah diyakini mencegah penularan melalui droplet.

Pemerintah memproduksi masker agar harganya terjangkau bagi masyarakat.

Selain menggunakan masker, masyarakat perlu membuat zonasi di rumahnya masing-masing agar steril.

Misalnya, di halaman depan itu zona merah tempat menyimpan sepatu, sandal.

Ruang tamu itu zona kuning.

Kemudian kamar tidur zona hijau.

"Zona hijau dan kuning itu harus dipertahankan dan dibersihkan menggunakan cairan sehingga bisa mengusir kuman," ujarnya.

Norman menyebutkan sosialisasi patuh protokol kesehatan perlu sarana pendukung untuk mempermudah.

"Sebagai contoh, siapkan keran atau ember mencuci tangan di setiap rumah guna mempermudah," ujarnya. (stpc19/ahm/yoy)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?


Redaktur & Reporter : Adek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler