Bukan Mantan PSK, Ogah Dinamai Dollicious

Kamis, 04 Desember 2014 – 08:11 WIB
DELICIOUS FOOD: Suasana Sentra Kuliner Putat Jaya beberapa waktu lalu. Foto: Dida Tenola/Jawa Pos

jpnn.com - SUDAH dua pekan ini Sentra Kuliner Putat Jaya beroperasi. Warga yang memiliki stan makanan pun masih berjuang meraup pengunjung plus pembeli.

 

--------------
SENIN siang (1/12) mendung menyelimuti langit Surabaya. Suasana Jalan Jarak tetap macet. Asap knalpot kendaraan bermotor serasa menyesaki kawasan bekas lokalisasi itu. Di salah satu bekas panti pijat, tampak berjejer gerobak makanan. Mereka saling bersaing menawarkan menu paling spesial.

BACA JUGA: Tergerak setelah Membaca Buku Banker to the Poor

Tempat itu terbilang luas. Tak ada kursi dan meja untuk pengunjung layaknya warung makan pada umumnya. Hanya ada satu tikar dan satu meja lesehan. Namun, ada juga kursi panjang di sebuah stan. Cukup untuk tempat rehat.

BACA JUGA: Di Balik Hengkangnya Ferdinand Sinaga dari Persib Bandung

Siang itu Jawa Pos diladeni Sorga Itta, 45, penjual bakso. Dia sejak awal menempati tempat yang dijuluki Dollicious tersebut. Pelesetan dari Dolly, bekas tempat pelacuran itu, dan delicious alias lezat.

Kalau dulu Dolly begitu lezat bagi para lelaki hidung loreng, kini kelezatan baru di kawasan itu ya sentra kuliner tersebut.

BACA JUGA: Kawinkan Senar Piano dengan Gelang Remo untuk Bunyi Khas

Tak urung, nama Dollicious tetap bikin risi. ’’Jangan disebut Dollicious lah. Kesannya negatif,’’ kata Sorga. Dia tidak mau orang menganggap bahwa para penjual di tempat itu adalah mantan PSK. Padahal, mereka adalah warga Putat Jaya yang ikut terkena dampak penutupan lokalisasi. Setidaknya, dampak ekonomi. Sorga pun meminta agar tempat jualannya itu disebut sebagai Sentra Kuliner Putat Jaya.

Sebagai sebuah ’’sentra kuliner’’, lokasi tersebut terbilang mini. Sorga adalah salah seorang di antara tujuh pedagang yang masih aktif. Saat buka dua minggu lalu, sentra itu masih ditempati 10 pedagang. Tapi, karena sepi, tiga orang memilih untuk menutup usahanya.

Ibu empat anak itu juga mengeluhkan sepinya pengunjung. ’’Tapi, kalau nggak ada yang beli, mau gimana lagi? Teman-teman tutup karena modalnya sudah habis,” imbuhnya.

Sering dalam sehari tidak ada seorang pun yang mampir. Kalau sudah begitu, makanan dagangan itu disantap sendiri atau dibagi-bagikan ke tetangga. ”Jumat kemarin (28/11) nggak ada blas yang datang. Ya sudah, saya makan bareng baksonya sama anak-anak di rumah. Sebagian juga saya kasihkan tetangga,” kata istri kuli bangunan tersebut.

Selain Sorga, beberapa perempuan yang membuka stan binaan Kecamatan Sawahan itu merasakan kondisi serupa. Nurmala, 48, misalnya. Penjual soto daging tersebut mengatakan bahwa penghasilannya menurun jika dibandingkan dengan saat kompleks lokalisasi dibuka. Meski begitu, dia tetap bersyukur bisa mendapat tempat untuk berjualan.

”Dulu saya menjual bunga untuk ngepel wisma-wisma itu. Jelas terasa lah bedanya. Ya, tapi masih untung ada yang mau ngasih tempat jualan,” ujarnya.

Perbandingan penghasilan yang mencolok sebelum dan sesudah lokalisasi ditutup memang menjadi ujian bagi mereka. Dulu, saat lokalisasi masih buka, mereka mendapat banyak pelanggan dari para penghuni wisma. Rata-rata mereka mendapat penghasilan Rp 200–300 ribu per hari.

Sekarang setelah lokalisasi ditutup, penghasilan mereka tidak menentu. Untung, mereka masih mendapat perhatian dengan diberi tempat untuk berjualan. Meski banyak ruginya, mereka mengaku tetap bersemangat untuk membuka usaha.

”Dulu saya menjual pecel, buka pagi langsung ada yang beli. Sekarang agak susah cari pembeli. Kalau ditanya soal semangat ya pasti semangat,” kata Suratmi, 50.

Penghasilan mereka memang jauh dari harapan jika dibandingkan dengan modal yang dikeluarkan. Bayangkan, untuk menyewa gerobak saja, pedagang harus mengeluarkan Rp 150 ribu per bulan.

Setiap hari dagangan hanya dibeli 1–2 orang. Jika sudah sepi, mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol dan saling memberi semangat. ”Kalau sudah pusing ya duduk-duduk kayak gini. Saling cerita, terus saling menyemangati,” ujar Hariati, 49, penjual nasi rawon.

Penjual di sentra kuliner itu sebelumnya dilatih keterampilan memasak oleh muspika kecamatan yang bekerja sama dengan pihak swasta. Selama ini mereka sudah merasa banyak dibantu oleh pihak kecamatan.

Selain memberi pelatihan, kecamatan membantu menyebarkan selebaran promosi kepada masyarakat.

”Kami sudah banyak dibantu sama kecamatan. Mereka membantu promosi. Mereka datang ke sini dan membeli dagangan kami. Kami senang kalau mereka bilang masakannya enak,” imbuhnya.

Kini pedagang berharap Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini ikut memberi perhatian. Harapannya, pemkot segera membeli lahan eks panti pijat tersebut. Selain itu, mereka mengharapkan modal tambahan untuk keberlangsungan usaha.

Namun, yang paling penting ialah kunjungan orang nomor satu Surabaya tersebut. Mereka menilai kehadiran Risma akan membawa semangat positif. Mereka juga yakin bila wali kota datang, sentra kuliner tersebut akan ramai dengan sendirinya.

’’Kalau beliau datang, pasti orang-orang akan tahu tempat ini,” tegas Hariati yang diikuti anggukan teman-temannya.

Mereka mengaku tetap menyetujui kebijakan yang dikeluarkan. Entah itu dari pihak kecamatan maupun pemkot. Bagi para pedagang, penutupan lokalisasi sudah menjadi risiko hidup yang harus dijalani. (*/c7/dos)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ivon Maria Pek Pien, Maestro Pencipta Musik Gandrung dari Piano


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler