Tergerak setelah Membaca Buku 'Banker to the Poor'

Rabu, 03 Desember 2014 – 09:56 WIB
TEROBOSAN: Para petani di ladang mengecek lahan perkebunan jagung mereka di Lampung. Foto: Irvan Kolonas for Jawa Pos

jpnn.com, JAKARTA - USIA boleh muda, tapi terobosannya layak diapresiasi. Melalui Vasham, perusahaan berkonsep social enterprise, Irvan Kolonas, 26, mengajak petani jagung di Lampung mengembangkan agrobisnis.
-----------------
Laporan NORA SAMPURNA, Jakarta
-----------------
Delapan tahun silam, Irvan yang kala itu masih SMA bercita-cita menjadi top ten billionaire (10 orang terkaya) di Indonesia. Namun, ketika membaca buku Banker to the Poor karya Muhammad Yunus, banker asal Bangladesh yang mendalami bidang microfinance, cita-cita Irvan seketika berubah.

’’Saya seperti tersadar, bagaimana saya bisa berkontribusi untuk masyarakat. Lalu, muncul ide untuk mengombinasikan profitabilitas dengan impact sosial,’’ ujar Irvan saat ditemui di kantornya di kawasan M.T. Haryono, Jakarta, Jumat dua pekan lalu (21/11).

BACA JUGA: Di Balik Hengkangnya Ferdinand Sinaga dari Persib Bandung

Buku yang ditulis peraih Nobel Peace Prize pada 2006 tersebut begitu merasuk dalam benak Irvan. Karena itu, pria kelahiran Singapura, 6 Februari 1998, tersebut rela mengurungkan cita-citanya sebagai miliarder.

Sebaliknya, dia berubah haluan dengan menekuni dunia usaha pertanian di desa-desa. Dia sangat ingin bisa mewujudkan kontribusinya kepada para petani.

BACA JUGA: Kawinkan Senar Piano dengan Gelang Remo untuk Bunyi Khas

Irvan sempat kuliah di University of Southern California, AS, dengan mengambil jurusan political science and economic. Setelah lulus, dia kembali ke tanah air dan pada 2012 bergabung dengan program Innovative Dynamic Education and Action for Sustainability (IDEAS) Indonesia yang diprakarsai United in Diversity. Tiap program diikuti sekitar 30 orang.

’’Saya batch keempat bersama presenter Desi Anwar, Andy F. Noya, Helmy Yahya, Arif Aziz, bupati Wakatobi, dan banyak lagi,’’ ungkap Irvan.

BACA JUGA: Ivon Maria Pek Pien, Maestro Pencipta Musik Gandrung dari Piano

Program yang goal-nya membentuk transformasi secara individu, keluarga, organisasi, dan negara itu makin memantapkan niat Irvan untuk mengembangkan social enterprise.

Tetapi, siapa yang dituju? Berdiskusi dengan sang ayah, Irvan mendapat masukan agar bergerak di bidang agrobisnis. Dengan cara begitu, dia bisa membantu para petani kecil di desa-desa. Irvan setuju karena diam-diam memiliki passion di bidang tersebut.

Lantas, dipilihlah petani jagung di Lampung sebagai sasaran kegiatan. Salah satu pertimbangannya, Lampung relatif dekat dengan Jakarta.

Untuk merumuskan model secara spesifik, sulung tiga bersaudara tersebut menggunakan metode human centered design (HCD). Dia terjun langsung ke user (petani), tinggal bersama mereka, melakukan wawancara, hingga mengetahui kesulitan-kesulitan para petani.

Irvan pun bisa merasakan tidur di lantai beralas tikar dan jauh dari berbagai fasilitas yang biasa didapatkan di Jakarta.

’’Jujur saja, awalnya berat. Tapi, saya bertekad melebur dengan kehidupan petani. Kami menyebutnya soak in atau deep dive,’’ jelas pengusaha yang masih lajang tersebut.

Tinggal di rumah para petani membuat Irvan mendapatkan perspektif yang lebih dalam. Tidak hanya berkaitan dengan produksi pertanian, tetapi juga permasalahan keluarga para petani. Misalnya kesulitan mereka untuk menyekolahkan anak hingga tinggi karena masalah ekonomi serta minimnya informasi yang mereka miliki tentang cara menabung.

Irvan bersama dua temannya lantas merumuskan profiling petani jagung di Lampung beserta permasalahan yang dihadapi. Agustus 2013 Irvan cs mulai bergerak. Dengan bendera Vasham, perusahaan social enterprise yang didirikannya, Irvan membuat model microfinance yang diberi nama Konco.

Yakni dengan memberikan pinjaman dalam bentuk sarana produksi tani (saprotan), pelatihan dan pengawasan, akses langsung ke pasar tanpa tengkulak, hingga asuransi.

Para petani tidak dikenai bunga atas pinjamannya, namun Vasham menawarkan sistem bagi hasil. Dengan begitu, Irvan menempatkan perusahaannya sejajar dengan petani.

Pilot project Vasham dengan 80 petani dilaksanakan di lahan seluas 70 hektare. Musim pertama, jelas Irvan, banyak kendala dan komplain dari petani. Namun, Irvan berusaha menampung semua saran yang masuk. Kuncinya, dia mengajak petani menjadi mitra untuk berdiskusi dan bekarja.

”Kami menggunakan sistem bagi hasil dengan petani karena sistem tersebut lebih adil. Jika petani untung, Vasham juga untung. Jika petani tidak untung, Vasham juga tidak untung,” urai dia.

Vasham juga mengarahkan para petani untuk menjual langsung kepada sentra pengumpul. Tidak seperti selama ini, menjual hasil panennya ke tengkulak dengan harga di bawah harga pasar.

Alasan petani, menjual ke tengkulak bebas risiko, seperti kendala pengangkutan atau karena turun hujan. ”Buat kami, risiko itu tidak apa-apa diambil. Sebab, pendapatan yang akan diterima petani lebih tinggi daripada risikonya,” tutur dia.

Sebagai mitra Vasham, petani mendapatkan pendampingan secara menyeluruh hingga pascapanen. Vasham akan menempatkan petugas lapangan yang stand by bila petani memerlukan bantuan atau konsultasi. Mereka sering mengadakan sesi pelatihan atau bincang santai mengenai permasalahan yang dihadapi serta merumuskan solusinya.

Panen pertama berlangsung pada periode Januari–Februari 2014, kemudian panen kedua Juli 2014. Saat ini sedang memasuki proyek ketiga. Dari dua kali panen, hasilnya cukup menggembirakan.

Pada panen pertama, rata-rata hasil panen Konco Vasham meningkat 50 persen dibanding rata-rata petani jagung di Lampung. Pada musim kedua, diakui Irvan, hasilnya menurun. Penyebabnya faktor cuaca, yaitu hujan yang jarang turun.

Yang membedakan model yang dikembangkan Vasham dengan model kemitraan lainnya, Irvan dan timnya selalu meng-improve sistem demi tujuan meningkatkan produktivitas petani.

Misalnya, Vasham bekerja sama dengan social enterprise lain, 8Villages, mengembangkan layanan SMS platform. Melalui SMS itu petani bisa mendapatkan berbagai informasi mengenai pertanian secara gratis.

Setiap mengikuti program pengembangan seperti seminar atau games-games, petani akan mendapatkan poin dan badge. Ada badge Rojo Tani, Jenderal Tani, Letnan Tani, dan sebagainya. Info mengenai jumlah poin maupun badge bisa diperoleh lewat SMS tersebut. Pemberian badge dan poin bertujuan untuk membangun jiwa kompetitif dan memacu produktivitas petani.

Sebagai mitra, para petani selalu dilibatkan dalam setiap keputusan di Vasham. Setiap masukan yang diberikan petani akan didiskusikan agar mencapai kesepakatan bersama. Dalam acara panen pertama yang diberi judul Monggo, para petani dilibatkan langsung.

Mulai memilih hadiah untuk petani paling produktif hingga menyambut tamu-tamu VIP seperti wakil gubernur Lampung dan sekretaris daerah.

Tugiman, petani di Desa Jaya Asri, Kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur, yang menjadi mitra Vasham sejak pilot project pertama mengakui adanya peningkatan hasil panen jika dibandingkan dengan sebelum bergabung. ”Panen saya meningkat sekitar 30 sampai 40 persen. Cukup lumayan. Apalagi, kami bisa menjualnya dengan harga lebih tinggi,” bebernya.

Hal serupa diungkapkan Rahmat, 45, rekan Tugiman. Rahmat merasa cocok dengan sistem bagi hasil yang diterapkan Vasham. Sehingga, ketika hasil panennya merosot di musim kedua, kerugiannya tidak sebesar ketika dia harus membayar bunga kepada tengkulak. ”Teman-teman petani di desa kami yang belum bergabung jadi tertarik untuk bergabung,” ujarnya.

Bagi Irvan, terjun ke agrobisnis tanpa memiliki latar belakang pertanian ”memaksa” dirinya mempelajari secara mendalam. ”Jujur aja, saya baru pertama mempelajari jagung. Senjata saya banyak baca. Buku apa saja saya baca, lalu berdiskusi dengan petani dan tim saya,” ujarnya.

Setelah Lampung, pada musim mendatang, Irvan berencana masuk ke Jawa Tengah dan Sulawesi Selatan. Saat ini dia dan timnya tengah melakukan riset. Jenis yang ditanam nanti bukan hanya jagung, tetapi meluas ke singkong, padi, dan kedelai.

Irvan mengakui, untuk menjalankan perusahaan dengan konsep social enterprise, dirinya harus teguh menjaga komitmen. Di Indonesia, jumlah usaha itu baru tumbuh sekitar 3–4 tahun ini.

”Social enterprise masih kelompok kecil di Indonesia, tetapi hasilnya nyata,” papar Irvan yang selalu menetapkan target tinggi dalam setiap langkah bisnisnya.

Setelah satu tahun berjalan, Vasham saat ini memiliki 900 Konco petani dengan luas lahan mencapai 800 hektare. Dia menargetkan pada 2018 bisa mencapai 100 ribu hektare atau 200 ribu Konco petani.

”Itu pun di road map saya targetnya 150 ribu hektare. Jadi, kalau misalnya nggak tercapai, masih bisa menembus angka 100 ribu,” ucapnya. (*/c5/c9/ari) 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Menyulap Tulang dan Kulit Ikan Jadi Kerajinan Tangan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler