Burung Hantu Menyelamatkan Panen Padi di Desa Sumber Harjo

Rabu, 15 Desember 2021 – 23:09 WIB
Tempat karantina burung hantu yang dikelola kelompok tani. Foto: dok for jpnn

jpnn.com - Penerbitan peraturan desa dalam melindungi burung hantu dari perburuan berhasil menekan hama tikus yang menyerang padi di Desa Sumber Harjo, Moilong, Banggai, Sulawesi Tengah.

Melalui regulasi tersebut, hama tikus yang biasa menyerang sejak masa tanam hingga padi bunting relatif sirna. Hasil panen padi pun membaik.

BACA JUGA: Panen Padi di Pasaman Barat Naik Terus

Burung hantu yang sebelumnya dianggap sebagai hewan pembawa sial dan diidentikkan dengan kabar duka, kini mulai diterima.

Masyarakat makin memahami pentingnya burung hantu dalam budidaya padi di desa.

BACA JUGA: Bersama SOKSI, Bamsoet Lepas Burung Hantu untuk Basmi Hama Tikus di Tabanan Bali

Upaya melindungi burung hantu berawal pada 2016, ketika sebagian besar dari 150 hektare padi di Sumber Harjo mengalami kegagalan panen akibat serbuan tikus.

Semua cara sudah dicoba untuk mengatasi persoalan, mulai dari gropyokan, memasang perangkap, membuat umpan racun, hingga memasang jebakan listrik di sawah.

BACA JUGA: Test Ride Honda CB150X: Bikin Pengin Touring!

Susori, petani dari kelompok tani Sumber Tani Lestari binaan JOB Pertamina-Medco E & P Tomori Sulawesi mengatakan ada rotasi persoalan hama setiap musim.

"Mulai dari tikus, wereng, hingga ulat, setiap musim hamanya itu terus," katanya.

Wereng dan ulat bisa dibasmi dengan racun nabati, tetapi tikus sangat merepotkan.

Para petani kemudian bermusyawarah dengan perwakilan pemerintah daerah dan Balai Penyuluh Pertanian untuk mencari solusi yang tepat.

Setelah sejumlah predator tikus ditawarkan sebagai solusi, akhirnya mengerucut pada burung hantu.

Opsi penggunaan burung hantu Serak Sulawesi (Tyto rosenbergii) muncul dari usulan Kepala Desa Sumber Harjo Baron Hermanto.

"Di Demak, Jawa Tengah, ternyata ada komunitas petani yang menggunakan burung hantu sebagai predator tikus, dan kepala desanya menjadi pionir," kata Baron.

Dia kemudian melayangkan surat kepada manajemen JOB Pertamina-Medco E & P Tomori Sulawesi untuk membantu membuat temlat karantina dan rumah burung hantu.

Usulan Baron disambut baik JOB Pertamina-Medco E & P Tomori Sulawesi.

Tempat karantina bertujuan untuk merawat dan mengobati burung hantu yang sakit atau merawat anak burung hantu yang ditelantarkan sang induk.

JOB Pertamina-Medco E & P Tomori Sulawesi pun membangunkan 25 rumah burung hantu (rubuha), dan itu terus bertambah.

Selain itu, dibuatkan juga semacam tempat bertengger di sawah.

"Sekarang warga sudah sayang juga kepada burung hantu. Kesadaran masyarakat ini jadi kebanggaan saya," kata Baron.

Warga kini tak perlu memasang plastik untuk memagari sawah.

Menurut Community Development Officer JOB Pertamina-Medco E & P Tomori Sulawesi Atma Agus Hermawan, keberadaan burung hantu juga mendukung program pertanian ramah lingkungan.

"Artinya, petani tak perlu lagi menggunakan racun kimia untuk membasmi hama," kata dia dalam keterangan tertulis, Rabu (15/12).

Program pertanian ramah lingkungan atau agro ekologi, lanjut dia, tak hanya berorientasi hasil berupa komoditas, tetapi juga keberlanjutan perubahan sistemik. (rdo/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kawasaki Z H2 Tampil Segar dengan Warna Baru, Sebegini Harganya


Redaktur & Reporter : Rasyid Ridha

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler