CCTV Jadi Senjata Ungkap Bentrok Antarormas

Selasa, 05 Januari 2016 – 09:24 WIB
Tampak aparat kepolisian mengamankan bentrok antarormas di Lapas Kerobokan, beberapa waktu lalu. FOTO: Radar Bali/JPNN.com

jpnn.com - DENPASAR – Penyidik Satreskrim Polres Badung mengebut pemeriksaan para saksi maupun tersangka kasus bentrok berdarah di areal Lapas Kelas II A Kerobokan, Kamis (17/2) silam. Selain itu, penyidik masih menunggu hasil uji darah di Laboratorium Forensik Mabes Polri Cabang Denpasar.

Darah yang dimaksud adalah darah yang ditemukan penyidik di belati yang digunakan para pelaku untuk menghabisi nyawa korban, yakni Putu Sumariana alias Robot dan Wayan Permana Yasa alias Donglet.

BACA JUGA: Kasus DBD di Gorontalo Berpeluang Meningkat

“Kami ingin tahu, darah siapa yang ada di belati itu,” ujar Kapolres Badung AKBP Tony Binsar Marpaung, seperti dilansir Harian Bali Express, Selasa (5/1).

Disinggung soal motif penganiayaan yang menyebabkan dua narapidana tewas dan dua lainnya luka-luka itu, AKBP Tony Marpaung menjawab bahwa insiden terjadi secara spontan, berawal dari kabar burung mengenai kunjungan salah satu pihak ormas ke dalam Lapas Kerobokan. AKBP Tony Marpaung menampik bentrok disulut oleh dendam masa lalu kedua kubu ormas.

BACA JUGA: NGERI! Tiga Kelompok Tawuran, Ada yang Bawa Parang

“Tidak ada hubungannya dengan kasus sebelumnya. Yang jelas ada informasi mengenai kelompok dari luar yang akan masuk ke dalam. Mereka berjaga-jaga jadinya,” paparnya. Ditambahkan, sebagian napi sudah menyiapkan senjata dalam rangka bertahan atau melakukan perlawanan.

AKBP Tony Marpaung menerangkan proses rekonstruksi telah dilakukan di Mapolres Badung. Diakuinya, keterangan yang disampaikan oleh masing-masing pelaku sesuai dengan apa yang diperagakan dalam rekonstruksi.

BACA JUGA: Korban Pencabulan yang Diperas Itu Dipaksa Bayar atau Melayani Pelaku Bergiliran

“Mereka menerangkan sesuai dengan yang di berita acara. Keterangan tersangka tidak berbelit-belit,” ucapnya. Ditanyai soal penambahan tersangka, AKBP Tony Marpaung menjawab kemungkinan tersebut ada. “Mereka masih menyebutkan beberapa nama samaran. Tapi, itu relatif susah mencarinya karena mereka disebar-sebar. Ada yang di Bangli, bahkan ada yang di luar Bali,” terangnya.

Yang jelas, AKBP Tony Marpaung menegaskan bahwa polisi masih terus berusaha menelusuri dan mendalami kasus menghebohkan ini. Polisi sendiri, kata dia, kesulitan mengidentifikasi tersangka baru lantaran belum ada yang mengaku. Guna mengatasi masalah itu, AKBP Tony Marpaung mengaku pihaknya mengandalkan rekaman CCTV di dalam lapas yang selanjutnya dicocokkan dengan dokumentasi foto.

Penyidikan serupa terus dilakukan penyidik Satreskrim Polresta Denpasar. Bahkan, kabarnya sudah memasuki tahap pemberkasan. “Rekonstruksi belum dilakukan. Masih tahap pemberkasan,” ucap Kasatreskrim Polresta Kompol Reinhard Habonaran Nainggolan.

Ditanyai mengenai tiga orang tersangka yang menyerahkan diri beberapa hari pasca insiden bentrok di Jalan Teuku Umar, Kompol Reinhard menjawab polisi masih mendalami sebab musabab ketiganya melaporkan diri. “Intinya penyidikan masih berjalan dan kemungkinan bertambahnya tersangka masih sangat terbuka,” imbuhnya.(ken/pra/rdr/bas/mus/fri/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... DPRD Dukung Uji Materi UU 23 Tahun 2014


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler