CEO CCI Berbagi Kunci Keberhasilan Bisnis Kreatif di Tengah Pandemi

Senin, 10 Januari 2022 – 02:51 WIB
CEO Creative Center Indonesia (CCI) Uti Rahardjo. Foto: istimewa for jpnn

jpnn.com, JAKARTA - CEO Creative Center Indonesia (CCI) Uti Rahardjo menyebut kunci keberhasilan bisnis kreatif di tengah pandemi COVID-19 ialah berusaha untuk tangguh (resilience).

”Sikap maju tak gentar ini kemudian diserap oleh armada kami sehingga nilai yang terbangun sejak awal di 'Creative Center' adalah ketangguhan," kata Uti Rahardjo dalam peluncuran buku “Kreatif Berbisnis Kreatif-21 Tahun Merawat Bisnis Kreatif" di Jakarta.

BACA JUGA: Sumbar bisa Jadi Kiblat Bisnis Start-up dan Ekonomi Kreatif dalam Genggaman Mahyeldi- Audy

Ketangguhan menjadi satu kekuatan yang membuat "Creative Center" bisa bertahan hingga lebih dari 20 tahun.

Istilah yang sekarang populer ialah GRIT (Guts, Resilience, Initiative, dan Tenacity) yang berarti memiliki nyali, tahan banting, penuh inisiatif, dan persisten.

BACA JUGA: UMKM EXPO(RT) BRILIANPRENEUR 2021, Sedotan Bambu Berhasil Tembus Pasar Global

Sebagai praktisi di bidang periklanan, Uti telah berhasil menangani sejumlah klien di berbagai bidang di tengah pandemi meski harus melaksanakan pekerjaan dari rumah.

Peraih "Entrepreneurial Winning Women 2011" dari Ernst&Young dan penerima Anugerah Perempuan Indonesia (API) tahun 2012 dari "Woman Review Magazine" itu selama 21 tahun berkarier di CCI selalu melakukan pekerjaannya dari rumah.

BACA JUGA: Tren Bisnis hingga Investasi 2022, Sandiaga Uno: Sangat Menarik

Namun, dia bersyukur telah mampu beradaptasi dalam situasi rumah yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan bekerja di kantor.

Uti menghadapi tantangan yang sangat bertubi-tubi, termasuk pada masa pandemi yang membuat banyak sektor usaha kesulitan.

"Begitu juga dengan kami, harus menghadapi tantangan yang dikhawatirkan dapat merontokkan kinerja yang sudah dibangun selama bertahun-tahun," imbuhnya.

Oleh karena itu, diperlukan kreativitas yang tinggi untuk bisa bertahan dengan membangun tim solid, mengatur arus kas perusahaan yang ketat, serta mempertahankan konsumen agar bisa terus beradaptasi, sehingga tetap dapat menghasilkan "revenue" signifikan.

"Kami telah melampaui masa pasang-surut yang memperkaya hidup dengan pengalaman yang tidak ternilai harganya," ujarnya.

Uti mengatakan menjalankan bisnis itu bukan merancang sesuatu secara sempurna, melainkan mengalir saja sebagai suatu proses.

"'Business is not sains, not art, but practice',“ tegasnya.

Dalam derap waktu, Uti merasa menjadi generasi yang beruntung, menyaksikan dan memegang kendali bisnis saat peran internet, komputer, serta teknologi digital belum secanggih seperti saat ini.

Pencinta batik yang gemar bermain piano itu mengatakan untuk menjawab kebutuhan pasar bahkan perusahaan, harus membentuk satuan tugas khusus yang sangat taktis.

"Dengan orientasi melayani (served) pada permintaan pasar yang sangat ketat, maka tim kami terlatih dengan tetap bekerja secara profesional," kata Uti.

"Kuncinya ialah tidak pernah mengatakan tidak bisa kepada klien, karena pada dasarnya kita tidak pernah tahu, mana yang benar-benar kita tidak bisa lakukan sebelum mencobanya." (rdo/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ramalan Tantangan dan Peluang Bisnis 2022 versi HIPMI Jaya


Redaktur & Reporter : Rasyid Ridha

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler